Egois | Cerpen Setta SS

Senin

Egois | Cerpen Setta SS




Oleh: Setta SS

Semua orang egois! Di mana-mana orang egois! Dan aku sangat benci pada orang-orang yang egois! Karena ulah si egois pula, akhirnya aku pindah dari pondokanku ke kamar berukuran 4 x 2,5 meter di pojok depan samping kiri masjid ini.

“Untuk sementara,” jawabku singkat saat teman-teman satu kos menanyakan tentang penyebab kepindahanku ini.

Ya, sementara memang. Paling lama juga satu sampai dua tahun ‘kan? Tidak mungkin sampai rambutku beruban dan beranak cucu tetap tinggal di ruangan sempit ini.

Aku ingin mencari suasana baru. Kebetulan sudah ada dua orang temanku yang tinggal menjadi marbot di masjid Ar-Rahman ini. Jadi aku bisa merasakan tidur ala pondok yang sekamarnya diisi oleh beberapa kepala, yang sejak lama kuimpikan, tapi belum sempat terealisasikan sebelumnya.

Namun sesungguhnya, ada dua alasan pokok yang menyebabkanku sampai di kamar ini. Pertama, yaitu tadi: aku tidak suka orang yang egois! Hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa mau tahu apa yang dirasakan oleh orang lain akibat ulahnya. Tidak punya toleransi sama sekali. Asal aku bahagia, apa urusannya dengan orang lain? begitu mungkin pikir mereka.

Persis sama dengan sebagian besar orang-orang penting yang mengaku sebagai wakil rakyat di negeri ini. Mereka juga egois. Buktinya semakin hari justru perut merekalah yang semakin berisi, sementara orang-orang yang telah menaruh harapan besar di pundak mereka dibiarkan kelaparan dan terkatung-katung di pinggir jalan dan kolong-kolong jembatan. Janji-janji yang mereka obral tak pernah menjadi kenyataan hingga detik ini. Habis manis sepah dibuang! Ah, sudahlah, tidak baik menghakimi orang yang tak ada di samping kita.

Setahun lalu, saat semua teman sepondokanku pindah semua, diam-diam aku tersenyum bahagia dalam hati. Meskipun di hadapan mereka aku tetap menampakkan muka sendu saat mereka pamitan padaku, namun jauh di lubuk hatiku aku tertawa. Ya, karena sebenarnya aku sudah muak menikmati hasil keegoisan mereka padaku.

Suara radio dan tape yang selalu stand by dari jam tujuh pagi hingga tengah malam, setiap hari. Juga diskusi panel dengan tema sebebas-bebasnya yang mereka gelar setelah bosan dengan semua kesia-siaan yang melalaikan itu. Mulai dari si Maribet—penjual pecel lele langganan mereka yang genit, kisah dosen killer mereka yang katanya tak punya perasaan sama sekali, cewek-cewek di kampusnya yang semakin berani tampil beda dengan pakaian ala kadarnya, komentar hasil liga Inggris dan Italia, konser musik Dewa Bujana, dan selusin cas cis cus tak bermutu lainnya hingga membuat telingaku sampai panas mendengarnya.

Satu lagi kebiasaan yang paling tidak kusukai dari keegoisan mereka, yaitu nikotin—zat yang dua kali lebih adiktif dari heroin itu, dan karbon monoksida yang tak pernah berhenti menyembur dari mulut asam mereka.

Dan ketika akhirnya aku harus tinggal sendirian saja karena kamar-kamar yang mereka tinggalkan akan direnovasi oleh pemilik kos, senyumku semakin lebar saja. Aku bebas. Aku bisa konsentrasi belajar tanpa harus terganggu oleh suara-suara konyol dan porno yang menumpulkan pikiran itu. Aku merdeka!

Hingga sampailah saat itu, ketika ibu kosku kembali menerima anak-anak kos baru untuk menempati kamar-kamar yang telah selesai direnovasi, di tahun ajaran baru. Ketenanganku mulai terenggut kembali oleh ulah mereka, para mahasiswa baru itu. Obrolan mesum, senda gurau, tawa ngakak, hingga suara serak-serak sember penyanyi dangdut dan dentum drum aliran musik rock membahana lagi. Wajah-wajah lugu itu, ternyata hanya mampu bertahan sesaat menyembunyikan tabiat mereka yang sesungguhnya. Meleset jauh sekali dari penilaianku semula.

Aku mencoba mengajak mereka berdiskusi tentang toleransi.

“Boleh saja kalian bertindak semau kalian, namun ada satu hal yang perlu dicatat: kalian tidak sedang tinggal di hutan belantara, tetapi kalian tinggal di tengah-tengah manusia,” kataku saat itu.

Aku juga mengingatkan mereka, bahwa sebagai duta orang tua yang tinggal jauh di rantau, kita harus bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk belajar. Menuntut ilmu di kampus dan belajar dalam arti yang sesungguhnya, yaitu belajar tentang kehidupan yang kita jalani sehari-hari.

Mereka mengangguk-anggukkan kepala mendengarnya. Tapi setelah itu, tepatnya beberapa saat setelah aku ke luar dari kamar mereka, suara radio dan gelak tawa mereka telah membahana kembali. Tanpa permisi sama sekali.

Dasar egois!

Akhirnya dua kata itulah yang meluncur deras dari bibirku sambil menggelengkan kepala.

Alasanku yang kedua, aku tidak menemukan tempat kos lain yang orang-orangnya tidak egois. Hmm, masih tetap sama kan?

Aku sudah mengunjungi setiap kamar kos yang ditawarkan oleh teman-temanku. Namun, setiap kali aku melihat suasana di sana, justru keegoisan yang lebih parah yang kutemukan.

Di tempat kos si Anang, saat tengah malam aku pamit pulang, suasananya masih seperti di sebuah club malam yang baru buka. Suara musik triping meledak, mengoar-ngoar tanpa peduli orang-orang yang kelelahan setelah seharian bekerja atau kuliah. Di tempat kos Anang, sebagian memang ada yang tidak kuliah. Ada yang bekerja sebagai pelayan di supermarket dan pedagang martabak terang bulan, yang biasanya baru pulang menjelang tengah malam.

Saat itu aku bertanya dalam diam, bagaimana cara si Anang belajar saat musim ujian tiba? Tak bisa kubayangkan bila aku tinggal di sana nantinya.

Di tempat kosnya Kohar lebih parah lagi. Selain suasananya yang tak jauh berbeda, aku juga melihat beberapa pasangan yang sedang asyik berpelukan tanpa rasa malu secuil pun di beranda depan sambil cekikikan. Ih, na’udzubillahi min dzalik! Bisa-bisa aku malah terperosok mengikuti apa yang mereka lakukan. Tobat, deh!

Dan hanya di sebuah kamar 4×2,5 meter inilah, sebulan lalu, aku tidak menemukan keegoisan itu. Makanya, beberapa hari sebelum waktu sewa kamarku habis, aku mendekati kedua teman akrabku itu, juga bapak kosku yang kebetulan menjadi sekretaris takmir untuk minta izin bergabung. Alhamdulillah, mereka mengizinkan, dengan syarat aku membantu mengajar TPA di sore hari.

“Untuk sementara,” lagi-lagi kalimat yang sama yang kujadikan sebagai alasanku waktu itu.

Dan tidak perlu pakai biaya segala, lanjutku dalam hati.

*****

Beberapa hari berlalu, bibirku menyunggingkan sebuah senyum merdeka. Merdeka dari keegoisan yang telah mengungkungku dalam tempurung kekecewaan selama ini. Kini aku bisa menikmati istirahat dengan tenang setiap malam tanpa harus memaksa mataku terjaga hingga dini hari seperti biasanya. Telingaku juga terbebas dari kata-kata murahan dan tiada arti yang menyesakinya sebelum ini.

Akan tetapi, seminggu kemudian, aku tersentak bangun dari tidur lelapku tengah malam. Kupingku menangkap suara-suara itu lagi. Suara-suara egois itu!

Ternyata suara si Dadang, salah seorang dari dua temanku di kamar ini, yang baru sampai dari mudik liburan semester di kampungnya, sedang ngaji. Keras sekali. Iya kalau suaranya merdu dan enak didengar, tapi ini suaranya terasa seperti ban sepeda kelebihan angin yang melintas di atas tanah berbatu. Tajwidnya masih agak amburadul!

Sebenarnya bukan masalah suaranya yang nggak merdu dan tidak enak didengarkan atau tajwid-nya yang masih amburadul itu yang kupermasalahkan, tetapi volume suaranya yang over itu. Dan mengapa pula dia membacanya di dalam kamar ini, tidak di dalam masjid saja? Mungkin suaranya tidak akan mengganggu waktu istirahatku.

“Dang, kau masih ingat kisah Khalifah Umar bin Khatab? Tentang bacaan Al-Qur’annya yang terlalu keras dalam shalat malamnya hingga mengganggu sebagian sahabat yang sedang tidur?” pancingku, setelah kejadian yang sama terus berulang pada malam-malam berikutnya.

“Heh,” sungutnya cuek sambil mengangkat dagunya yang hanya ditumbuhi tiga lembar jenggot keriting itu.

“Alhamdulillah kalau masih ingat. Aku hanya berharap….”

“Kamu berharap aku juga langsung meminta maaf padamu seperti yang dilakukan Umar pada orang yang menegurnya karena bacaan Al-Qur’an dalam shalat malamnya terlalu keras hingga mengganggu waktu istirahat para sahabat lainnya? Begitu maksudmu? Oke, oke! Sekarang aku minta maaf!”

Kalimat beruntunnya memotong ucapanku yang belum kelar. Tapi aku dapat merasakan ada keterpaksaan dalam nada suaranya yang tiba-tiba langsung meninggi itu. Mimik mukanya mencerminkan hal itu.

“Bukan hanya itu, kuharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” tanggapku datar tanpa mempedulikan reaksinya barusan.

Tapi faktanya, si Dadang hanya menganggapnya sebagai angin lalu saja. Keesokan malamnya, ia kembali mengulangi tindakannya itu. Meskipun kali ini ia tilawah di dalam masjid, tetap saja aku terbangun karena, lagi-lagi, suaranya yang kelewatan keras itu.

Kedua temanku itu juga punya kebiasaan jelek: selalu tidur lagi sehabis shalat Shubuh! Dan mereka baru bangun untuk mandi ketika akan berangkat ke kampus. Jadi, hampir setiap hari akulah yang menyapu lantai masjid dan mengepelnya.

Hmm, ternyata semakin banyak hari yang kulalui di sini, berbanding lurus dengan jenis keegoisan baru yang kutemui.

*****

Di samping masjid ini juga ada seorang bapak yang egois.

Suatu siang, ketika kedua temanku sedang ke kampus, aku ketiduran hingga terlambat mengumandangkan azan zhuhur. Saat aku terbangun, seorang bapak yang biasanya menjadi imam baru saja selesai mengumandangkan azan. Kemudian aku ke belakang untuk berwudlu. Baru saja aku akan mengganti kaos oblong yang kukenakan dengan kemeja lengan panjang, telingaku sudah menangkap suara iqomat.

Cepat sekali, pikirku dalam hati.

Bergegas aku pakai kemeja dan menyambar sajadah di atas meja lalu masuk ke dalam masjid. Aku tersentak kaget. Hanya ada satu orang! Ya, si bapak yang tadi azan dan iqomat, di tempat imam!

Tanpa membuang waktu lagi, aku menyusul menjadi makmum di belakangnya. Beberapa detik kemudian, beberapa orang datang setengah berlari memasuki masjid dan tergesa berdiri di sampingku agar tidak masbuk.

Esoknya, aku yang azan. Bapak itu juga sudah datang. Selesai azan, aku kembali berwudhu karena sewaktu azan aku kentut. Kemudian aku shalat sunat qabliyah. Baru sampai satu rakaat, bapak itu sudah berdiri dan menuju ke tempat miq. Ia langsung iqomat tanpa mempedulikanku dan beberapa orang lain yang masih berdiri shalat sunat. Dan maju ke tempat imam tanpa permisi.

Egois! dumelku kesal setelah menyelesaikan shalat sunatku dengan tergesa-gesa. Dan aku yakin sekali, semua orang yang ada juga mengatakan seperti itu dalam hatinya masing-masing. Karena sampai tiga bulan aku tinggal di sini, aku sudah hafal kebiasaan jeleknya itu!

*****

Aku menoleh ke belakang setelah salam kedua qobliyah ‘Ashar. Tadi aku yang azan. Di pojok belakang masjid, ada dua orang yang juga baru menyelesaikan shalat sunatnya.

Tiba-tiba pintu samping utara masjid berderit, dibuka dari luar. Bapak yang suka memborong itu masuk dan menggelar sajadah lebarnya untuk shalat sunat. Beberapa saat kemudian, ia sudah tenggelam dalam shalatnya.

Aku segera bangkit dan berjalan menuju tempat miq, menyalakan kontaknya dan mengumandangkan iqomat.

“Silahkan, Pak…,” kataku dengan isyarat tangan meminta salah satu dari dua orang itu untuk menjadi imam.

Tetapi mereka malah balas menyorongkan tangan kanannya kepadaku, kompak, mempersilahkan aku yang mengimami. Sekilas kulirik bapak pemborong itu. Ia masih berdiri menyelesaikan rakaat keduanya.

Uh, aku paling muak melihat orang yang sok egois!

Akhirnya, tanpa menunggu bapak itu menyelesaikan shalatnya, kugelar sajadah biruku di tempat imam.

“Allahu akbar!!!” suara takbirku menggema, memimpin shalat jamaah ‘Ashar sore itu. (*)

Yogyakarta, 7 Oktober 2003 – Jakarta, 24 April 2011 20:49 WIB

Download Spiritnya, Share Juga Yuk..!!!
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner