Saat Hujan Turun | Cerpen Pelangi Pagi


Ika mengeluh waktu melihat layar hp, hampir pukul dua belas. Kesal sudah jelas. Dari pukul sembilan pagi menunggu panggilan untuk diwawancara. Lapar adalah tambahannya. Mengeluh karena terbayang, setelah selesai wawancara tidak bisa membeli apa pun, semangkuk bakso sekalipun. Uangnya tinggal ongkos angkot dan ojek.

Pelamar tinggal dua orang di ruang tunggu. Mungkin Ika giliran dipanggil terakhir. Ah, tapi Ika sudah pasrah. Tanggung bila mengundurkan diri dan pulang. Rasanya tidak akan beda dari hasil lamaran yang kemarin yang minggu lalu yang bulan lalu. Perusahaan banyaknya mencari karyawan yang pengalaman atau yang bergelar sarjana. Mau pengalaman bagaimana, Ika baru lima bulan lalu lulus dari SMK?

Sejak lulus Ika rajin memasukkan lamaran ke setiap perusahaan yang mengumumkan mencari karyawan. Beberapa perusahaan memanggilnya, tapi setelah wawancara tidak ada yang memanggilnya lagi. Ada juga satpam yang berbisik waktu melamar ke sebuah pabrik tekstil. Bila ingin diterima sebenarnya gampang, asal ada buat pelicinnya, lima juta saja, katanya.

Ika tersenyum mendengarnya. Satpam itu tidak tahu, bagi Ika untuk ongkos dan fotokopi segala persyaratan saja tidaklah gampang. Lagipula, bila punya uang pun cara seperti itu pasti dilewatinya. Sejak kecil Umi mengajarkan untuk jujur, sabar, dan bekerja keras. Buat apa bekerja dengan jalan tidak jujur? Lelah dan putus asa tentu saja pernah.

Melamar dan wawancara sudah tidak terhitung seringnya. Suatu hari Ika bilang ke Umi: Mi, Ika kan dari kelas satu SD sudah biasa berkeliling perumahan berjualan gorengan. Bila susah mencari pekerjaan, sudah saja Ika berjualan lagi membantu Umi.

“Hus, jangan bilang begitu. Jangan putus harapan. Belum rejekinya saja bila masih belum dipanggil, kata Umi. Kamu itu lulus sekolah. Sayang bila tidak merasakan bekerja.

Kumpulkan dulu modal. Usaha itu harus punya modal. Bila sudah menyerap ilmu di perusahaan, bila sudah punya bekal, tidak masalah berhenti bekerja dan membuka usaha sendiri.

Ucapan Umi itu yang menjadikan Ika kuat menghadapi kesalnya melamar dan wawancara. Tapi, harus diakui, nasihat Umi tadi sempat kurang mujarab. Ika berpikir untuk pulang saja. Apotek Asri itu perusahaan besar untuk ukuran kota kabupaten, cabangnya ada di tiap kota. Pantas bila pelamar yang datang begitu banyak. Padahal, hanya seorang yang dicari. Tapi, sebelum pulang, hujan turun lebat. Di langit kilat berkelap-kelip, lalu petir berbunyi. Ika ingat nasihat Umi, harus sabar, jangan putus harapan. Kita tidak pernah tahu rejeki itu adanya di mana. Bila berdagang, Umi selalu menganjurkan untuk berkeliling sampai gang terakhir.

*****

“Ika Kartika,” kata seorang ibu yang dari tadi memanggil pelamar.

Ika berdiri, lalu masuk ke ruangan wawancara. Ika mengangguk dan tersenyum kepada seorang bapak yang setelah menyuruh duduk malah menatapnya. Ika tentu saja salah tingkah. Dia menunduk. Beberapa lama bapak itu tidak juga bicara. Waktu Ika mengangkat lagi wajahnya, mengangguk dan tersenyum, si bapak membalas senyumnya.

“Masih ingat saya?” kata bapak itu kemudian.

Ika terkejut. Dia mencoba mengingat sambil menatap si bapak. Masih muda usianya, mungkin hanya terpaut tiga-empat tahun dengan Ika. Terlalu muda sebenarnya untuk seorang manajer.

“Ingat?” katanya lagi.

Ika menggeleng sambil tersenyum.

“Waktu kecil saya pernah kehujanan di perumahan Ciboled Endah, di bawah pohon kersen.”

Ingatan Ika melayang ke belasan tahun yang lalu. Hujan lebat seperti tadi. Umi meminta Ika dan Teh Ela berjualan.

“Hujan Umi,” kata Ika waktu itu.

“Terpaksa, sayang. Bila tidak keliling, modal kita ada di dagangan.”

Ika ingin protes lagi, tapi Teh Ela menuntunnya. Waktu itu Ika melihat Umi menangis meski sudah berusaha menahannya dengan mengusap air matanya yang berjatuhan. Sementara, Ade dan Emput, adik-adik Ika yang belum sekolah, memandang kedua kakaknya dari pintu. Ika dan Teh Ela berpayung berkeliling perumahan sambil berteriak. Baru dua gang yang terlewati hujan mulai mereda. Tapi, yang membeli gorengan tidak seperti hari-hari biasa. Dagangan masih menumpuk.

Waktu itu Ika sudah kelas satu SD, Teh Ela kelas empat. Setelah Abah meninggal, Umi berjualan gorengan setiap pagi dan sore. Pagi-pagi Umi yang berkeliling. Tapi, sore biasanya Ika dan Teh Ela.

Ghuuu peddaass… bala-bala… kupat… lapis…, kata Ika.

Gehuuu peddaass… bala-bala… kupat…lapis…, kata Teh Ela.

Gang kesepuluh sudah terlewat, tapi yang membeli hanya seorang dua orang. Di belokan ke gang kesebelas, mereka berhenti. Bukan, bukan karena ada pembeli. Tapi, melihat seorang anak lelaki, kira-kira seumur Teh Ela, menggigil kedinginan di bawah pohon kersen. Entah siapa, Ika dan Teh Ela tidak mengenalnya.

“Teh, mengapa anak itu?” kata Ika.

“Sepertinya kedinginan.”

“Lapar mungkin ya.”

“Mungkin juga,” kata Teh Ela sambil menghampiri anak yang berjongkok menggigil itu.

“Mau ke mana, Teh? Kita pulang saja.”

Tapi Teh Ela tidak menghiraukan.

“Mengapa berteduh di sini?” kata Teh Ela. “Rumahnya jauh?”

“Jauh. Malu ikut berteduh di rumah orang,” kata anak lelaki itu sambil tersenyum malu.

Teh Ela memasukkan gehu, bala-bala, dan kupat ke dalam pelastik.

“Ini makan, biar tidak menggigil,” kata Teh Ela memberikan plastik.

“Tidak punya uang.”

“Tidak apa, ini mah ngasih.”

Anak lelaki itu menerima plastik sambil menunduk. “Terima kasih,” katanya pelan.

Gang keduabelas hampir terlewati, tapi yang membeli tidak juga bertambah.

“Teh, kita pulang saja. Jualan waktu hujan ternyata tidak laku,” kata Ika.

“Hus, kita tidak pernah tahu rejeki itu adanya di mana. Tanggung hanya satu gang lagi.”

Ika tersenyum. Pikirnya, Teh Ela sudah seperti Umi. Harus sabar, jujur, dan jangan putus harapan. Begitu biasanya Umi menasihati. Padahal, Umi sendiri bila bersedih, ya menangis seperti tadi.

Ika terpana di gang ketigabelas, gang terakhir, ada yang memanggilnya. Seorang ibu berbincang dengan suaminya tentang oleh-oleh ke acara saudaranya waktu Ika dan Teh Ela menghampirinya. Kata suaminya, borong saja gorengan karena tidak akan ada kesempatan lagi beli yang lain di pinggir jalan. Ika dan Teh Ela bersorak waktu pulang dengan wadah yang kosong. Hujan waktu itu tinggal gerimis.

“Ingat kan sekarang?” kata si bapak lagi. Saya yang berteduh menggigil kedinginan di bawah pohon kersen itu.

“Ika mengangguk sambil tersenyum. Dia kadang mencuri pandang sambil mengingat. Wajahnya memang seperti anak yang dulu itu. Tapi, anak itu kurus, hitam dan kotor. Sementara, si bapak selain bersih, berkemeja dan berdasi, juga badannya lebih berisi.

“Dulu itu saya memang lapar. Dari pagi belum makan, main di sawah, waktu pulang hujan lebat. Tapi, tidak lama setelah peristiwa itu ibu saya pindah. Jadi saya tidak sempat mengucapkan terima kasih. Tapi saya selalu ingat. Sekarang saja saya bilang ke Ika, terima kasih….”

Ika terkejut. Dia tersenyum dan mengangguk sebenarnya sambil menunggu pertanyaan tentang pekerjaan. Tapi ternyata si bapak malah panjang membahas masa kecil, masa sekitar sebelas tahun lalu. Bertanya tentang Teh Ela yang sekarang sudah berumah tangga, mempunyai seorang anak, dan tinggal di Bandung. Titip salam dan titip terima kasih buat Teh Ela. Bertanya juga sebelah mana rumah Ika di perumahan itu.

Tapi sampai azan zhuhur berkumandang tidak satu kata pun pertanyaan tentang pekerjaan. Selanjutnya, bukan menyuruh pulang, tapi malah mengajak keluar. Si ibu yang memanggil pelamar saja memandang heran. “Ini masih saudara,” kata si bapak sambil tersenyum.

*****

Makan di gubuk lesehan di rumah makan Saung Nini. Sambil menunggu pesanan, shalat dulu di mushala. Ika terpana memandang makanan yang berjajar di hadapannya.

Ayam goreng, pepes jamur, pepes belut, sayur asem, minumnya jus strowberi. Laparnya tiba-tiba begitu menggila.

“Silakan dimakan. Ini sekadar ucapan terima kasih. Akang selalu ingat peristiwa itu.

Waktu itu selain lapar, kedinginan, juga demam. Tidak sekolah tiga hari. Tapi, Akang merasa bahagia, pernah bertemu dengan Ika dan Teh Ela yang baik.”

Selanjutnya makanan yang terhidang itu diserbu.

Namanya Adri. Kang Adri, begitu dia ingin dipanggil. Baru tiga tahun katanya bekerja di Apotek Asri. Sama lulusan dari SMK. Tapi dipercaya oleh majikannya. Terkejut juga waktu diminta majikannya mengelola apotek baru. Luas sebenarnya tanah apotek itu. Tapi baru depannya saja yang dibangun. Katanya, ke depannya rencana dibuka praktik dokter. Selesai makan, Ika memberanikan diri bertanya mengenai lamarannya.

“Maaf, Kang, saya ingin tahu mengenai lamaran saya,” kata Ika malu-malu.

“Hari Senin sudah bisa memulai bekerja. Akang wawancara itu hanya mencari karyawan yang jujur, mau belajar dan bekerja keras. Khusus untuk Ika, Akang sudah percaya sejak dulu.”

Tentu saja Ika bahagia. Tapi waktu pulang naik angkot, dia termenung. Sungguh aneh hidup ini. Peristiwa dulu, peristiwa sepele sebelas tahun lalu, peristiwa masa kecil, bisa menolong gelisah dan putus asa masa dewasa. Yang terbayang hanya kata-kata Umi yang suka ditiru Teh Ela: “Bila kita baik ke orang lain, artinya bukan sekadar baik ke orang lain, tapi yang utama sebenarnya baik ke diri kita sendiri.”

Terima kasih Umi, Teh Ela, gumam Ika sambil mengusap matanya yang terasa panas.


Pelangi Pagi hobi menulis sejak SD. Namun, baru beberapa tahun belakangan ini berani mengirimkan karyanya (cerpen, puisi, cerita anak) ke media massa. Belajar dari buku- buku dan ceramah para pengarang. Di antara karyanya sudah dimuat di Indo Pos, Solo Pos, Suara Karya, Nova, Pikiran Rakyat, Banjarmasin Pos, Jembia, dan sebagainya.

Pembicaraan Keluarga | Cerpen Rifat Khan


Aku ikut duduk malam itu, hujan baru saja reda, suara jangkrik di luar sana terdengar jelas di telinga. Di ruang itu, kakek masih duduk sedikit menunduk, paman Ibrahim sesekali mengelus jenggot di dagunya, dan bapak masih saja duduk dengan putaran tasbih di tangannya. Ibu dan adikku datang membawa beberapa gelas teh.

Ada pembicaraan panjang malam ini, ada sesuatu yang mesti disepakati dan mesti dirampungkan. Selepas gelas-gelas teh itu dibagi ke semua yang ada di lingkaran itu, Ibu ikut duduk dengan tenang di samping bapak. Adikku berjalan masuk membawa nampan yang sudah kosong. Kakek mulai membuka suara. Suaranya begitu berat dan sedikit tegas meski sesekali batuk-batukan.

“Mereka semalam meminta Rp 60 juta. Tak hanya itu, mereka juga minta ditambah satu ekor sapi.” Kakek batuk dua kali. Tatapannya bergiliran ke arah paman Ibrahim dan bapak.

Semalam, kakek bersama paman Malik, adiknya bapak yang paling kecil di bawah paman Ibrahim, memang datang nyelabar ke Desa Sakra. Tapi, semalam memang belum ada kata sepakat antara kedua keluarga. Mereka pulang dengan tatapan hampa. Dan malam ini, apa yang mereka bicarakan semalam harus dituntaskan.

Sebab, jika nanti mereka akan balik untuk nyelabar kedua kali, semua harus sudah kelar. Meski paman Malik tak bisa ikut berkumpul malam ini sebab ia harus ke Pademare menjenguk mertuanya yang tengah sakit, kesepakatan harga mesti diputuskan, untuk nanti dibawa dan ditawarkan ke pihak keluarga Ratmi, perempuan yang akan dipinangkan untukku.

“Mereka keterlaluan, mereka pikir kita orang kaya apa?” Paman Ibrahim bicara dengan nada keras. Ada raut emosi terlihat di wajahnya, memang demikian sifatnya selama ini. Waktu anaknya Si Udin ketahuan merokok kelas VI SD dulu. Paman Ibrahim marah habis-habisan dan menendang anaknya itu tiga kali.

“Kamu tenang, pakai otak dan hatimu. Jangan kamu cepat emosi. Kakek memandang paman Ibrahim dengan tajam. Paman Ibrahim menunduk sesaat. Ia menghela napas begitu panjang.”

“Bagaimana menurutmu?” Kakek mengarahkan pandangan ke bapak yang masih saja khusuk dengan putaran tasbih di tangannya. Bapak sedikit terkejut dan memandang kakek.

“Begini, Pak, saya semalam memikirkan ini. Sungguh, Bapak tau sendiri kalau panen kita gagal lagi. Uang tabungan benar-benar hanya ada seperempat saja dari yang mereka minta.” Bapak dengan suara pelan menjelaskan kepada kakek.

Aku masih diam saja, memang tak ada hak untukku bicara malam ini, hanya orang tua yang berhak angkat bicara. Semula aku tak ingin ada di sini, aku ingin di kamar saja. Tapi, maghrib tadi Ibu meminta agar aku ikut sebagai pendengar. Memang, permintaan keluarga Ratmi terlalu besar menurutku. Kami tak punya uang sebanyak itu, apalagi mesti ditambah seekor sapi. Aku memandang mereka bergiliran: paman, bapak, dan kakek. Semua seperti dirundung beban yang berat. Kakek lebih sering batuk, paman lebih sering terlihat menggerak-gerakkan giginya hingga suara gigi yang bersentuhan itu bisa terdengar. Bapak, selain masih memutar tasbih, sesekali ia menggaruk keningnya.

“Bapak, pernikahan harus terlaksana. Kabar ini secepat itu sudah sampai ke kerabat dan keluarga jauh. Akan malu kita kalau sampai gara-gara uang, terus Alif batal kawin. Apa yang akan orang-orang bilang. Alif dan kita akan menanggung malu seumur hidup.” Ibu bicara sembari memandang kakek dengan tatapan sendu. Mata itu seperti setengahnya sudah basah.

“Terus, maksudmu kalau mereka minta sebesar itu kita harus penuhi. Jika perlu, sampai menjual rumah ini! Malu juga hanya sebentar Mbak Minah. Ketimbang selamanya kau akan menyesal, selamanya kau akan menanggung utang. Kalaupun kita jadikan sertifikat rumah ini jadi jaminan bank.” Paman Ibrahim menimpali ucapan Ibu dengan emosi. Wajahnya terlihat sudah memerah. Bapak mencoba menenangkannya.

“Ibrahim, itu sebabnya kita berkumpul. Jangan cepat menyimpulkan begitu. Banyak otak, akan banyak strategi dan cara yang kita temukan nantinya.”

“Ibrahim, kamu jangan emosi. Berkali- kali saya bilang, emosi tak akan menemukan solusi apa-apa. Mari bicara dulu dengan tenang.” Kakek menambahkan. Matanya semakin tajam menatap paman Ibrahim.

“Maaf, maaf semuanya. Tapi, ini terlalu besar. Apakah tak bisa kita mencoba menawar, mencari jalan tengah yang tak memberatkan siapa-siapa.” Paman Ibrahim mencoba bicara sedikit pelan. Matanya terus saja bergantian menatap bapak dan kakek.

“Semalam aku dan Malik mencoba menawar. Kami terus menawar dengan harga yang kita mampu. Tapi, keluarga perempuan itu mulai membahas tentang bibit bebet bobot-nya. Mereka terus menceritakan gelar bangsawan yang mereka punya. Dan menurut mereka, harga itulah yang paling pantas. Jika kita menawar rendah dan mereka menyepakati, mereka bilang kalau mereka akan malu. Harga diri mereka akan jatuh. Dan akan menjadi omongan bulan-bulanan orang sekampung. Itu sebabnya, kami minta balik dulu untuk berunding kembali. Kakek menjelaskan dengan pelan dan tempo bicaranya sedikit lambat.”

“Memang apa gelar si Ratmi itu?” Paman Ibrahim bertanya.

“Dia bergelar Baiq, kau tahu sendiri kan bagaimana mereka? Mereka merasa turunan bangsawan. Mereka merasa kasta mereka di atas kita. Mereka semena-mena menentukan harga pinangan. Mereka tak peduli kalau keluarga si lelaki tak mampu memenuhi permintaan itu. Malah mereka mulai menjelaskan pekerjaan si Ratmi yang sebentar lagi akan diangkat jadi guru PNS. Kalau kita tidak bergerak cepat dan si Ratmi sudah jadi PNS, malah harganya akan di atas Rp 100 juta dan itu akan semakin berat.” Kakek kembali menjelaskan.

Aku termenung mendengar ucapan kakek. Permintaanku untuk menikahi Ratmi benar-benar tak pernah terpikir akan menjadi beban bagi mereka. Kami saling mencintai dan memutuskan menikah. Tapi, keluarga besar Ratmi selalu saja menengok sejarah, selalu saja merasa turunan mereka turunan bangsawan, turunan berdarah biru. Ini tentang masalah harga, dan pernikahan di pulau ini akan selalu berkaitan dengan itu. Aku belum mengerti dan tak akan pernah bisa mengerti dan memahaminya.

“Menurut kakek solusi apa yang paling baik?” Tanya paman Ibrahim lagi.

“Solusi terbaik adalah mereka mesti menikah, apa pun caranya.” Dengan cepat Ibu menimpali.

“Diam dulu kamu, diam…!!!” Bapak menatap Ibu. Ada raut sedikit marah di wajahnya. Ibu menunduk dan seketika diam. Suasana terasa sedikit tegang.

“Bagaimana menurutmu?” Paman Ibrahim tiba-tiba bertanya padaku. Aku hanya diam tak tahu hendak mau bilang apa. Otakku tiba-tiba buntu malam itu.

“Begini, begini. Malam ini kita harus sepakati berapa harga yang akan kita bawa ke keluarga Ratmi saat datang nyelabar lagi besok malam. Ini harus tuntas.” Kakek bicara lagi mencoba mencairkan suasana, sesekali ia jeda bicara dan menghelas napasnya.

“Biar lebih singkat. Berapa uang yang saat ini ada dan sudah kamu siapkan?”

Kakek menatap bapak.

“Jujur, yang ada saat ini hanyalah Rp 15 juta. Ada Rp 1 juta lagi dalam bentuk gelang emas.” Bapak bicara dengan lambat tanpa melihat wajah kakek.

“Berarti yang ada sekarang Rp 16 juta dan saya akan menambahkan Rp 4 juta, hanya jumlah itu yang benar-benar saya punya. Totalnya berarti Rp 20 juta. Ditambah Malik semalam bilang kalau ia ada sekitar Rp 3 juta saja. Totalnya Rp 23 juta.” Kakek mencoba menotal uang yang memang sudah ada.

“Saya ada tabungan Rp 5 juta. Itu bisa dipakai.” Paman Ibrahim menambahkan.

“Berarti semuanya Rp 28 juta. Sedangkan, mereka meminta Rp 60 juta, berarti kita minus Rp 32 juta dan juga minus seekor sapi. Sapi sekitar Rp 9 jutaan harganya. Totalnya kita minus Rp 41 juta.” Kakek bergilir menatap paman Ibrahim, ibu, dan bapak.

Masih jauh sekali. Aku berucap sendiri dalam hati. Aku benar-benar tak ada tabungan untuk saat-saat ini. Aku bisa saja membatalkan semuanya, tapi Ibu akan merasa malu dan tak tau mau menjelaskan apa ke tetangga dan kerabatnya. Berita itu terlanjur menyebar.

Pembicaraan yang alot itu masih saja berlangsung. Akhirnya sebuah kesimpulan diambil, untuk memenuhi minus itu, bapak akan menggadaikan sertifikat rumah di bank. Setoran nanti bakal dicicil bapak dari hasil sawahnya. Ibu terlihat sedikit bahagia. Malam itu.

Pernikahan pun terjadi antara aku dan Ratmi. Kami menikah dan hidup berumah tangga.

*****

Kini, genap empat bulan sudah aku dan Ratmi hidup bersama. Dua bulan awal terasa sangat bahagia. Tapi, bulan berikutnya, bapak tak mampu lagi membayar setoran bank. Aku putuskan membantu bapak membayar cicilan itu dari hasil kios kecil-kecilan yang tiga bulan terakhir ini menjadi usahaku. Akibatnya, uang belanja Ratmi harus dipangkas. Itu membuatnya sering ngambek, mulai sering membesar-besarkan masalah yang kecil. Banyak pertengkaran terjadi dan selalu berujung tak saling tegur berhari-hari.

Kuceritakan semua pembicaraan keluarga itu ke Ratmi, pembicaraan saat hendak meminangnya. Saat keluargaku berunding alot dan sampai meminjam untuk melangsungkan pernikahan kami. Tapi, Ratmi tak peduli. Ia sungguh tak peduli.

“Ceraikan aku. Antar aku pulang ke rumah ibuku!!!” Kata itu terlontar dengan jelas dari mulutnya pada sebuah sore yang basah. Sangat jelas terdengar di telingaku.Wajah Ratmi memerah. Segala nasihat dan penjelasanku tak mampu lagi membendung keinginannya itu. Dadaku seperti disambar gemuruh yang hebat.

“Ceraikan aku. Antar aku ke rumah ibuku!!!” Ia terus berteriak—berkali-kali.

2017

Kosakata:

– Nyelabar: istilah Sasak, artinya keluarga lelaki datang melamar ke keluarga perempuan; membicarakan harga dan mahar.

– Baiq: gelar bangsawan perempuan Sasak.

RIFAT KHAN, Lahir di Pancor NTB pada 24 April 1985. Beberapa karyanya dimuat di media lokal dan nasional. Bermukim di NTB dan bergiat di Komunitas Rabu Langit Lombok Timur.

Jendela Tua | Cerpen Iyut Fitra


Selalu. Pada akhirnya kita akan pulang pada kesendirian. Setelah suami meninggal. Setelah anak-anak memilih rantau sebagai tujuan kehidupan. Dan rumah gadang hanya tinggal sebagai simbol kekokohan yang sebenarnya teramat rapuh dan sunyi. Di sanalah bermukimnya para ibu tua. Dengan kebaya lusuh. Dengan selendang usang. Menyulam waktu yang tak terukur. Menjahit rentang tak terkira. Lengang. Dan sendiri. Tapi hidup, tentu akan terus berjalan.

Sebuah jam lama di tonggak rumah gadang menunjukkan pukul delapan malam. Ibu tua itu baru saja selesai berdoa setelah sholat isya. Dengan sedikit tertatih ia berjalan menuju almanak yang tergantung di dinding. Setelah mengamati angka demi angka dalam almanak tersebut, perhatiannya beralih pada sebuah foto keluarga dengan bingkai yang lumayan besar di sisi dinding yang lain.

Ibu tua itu mengamati satu persatu foto yang terpampang tersebut. Suaminya. Dan lima orang anaknya. Tiga laki-laki dan dua orang perempuan. Entah mengapa, mereka sama-sama tersenyum saat berfoto. Ibu tua menghela nafas panjang.

”Kesunyian juga akhirnya yang menetaskan rindu. Suara anak-anak. Canda keluarga. Barangkali adalah arus kebahagiaan yang hanyut ke muara. Adakah kesendirian dapat melunasi semua itu?” ibu tua itu bergumam sendiri, lalu berjalan menuju kursi kayu untuk memulai aktivitasnya tiap malam, menjahit. Merenda kain pintu atau taplak meja sebagai perintang waktu sebelum larut mengirimkan kantuk. Sebelum ia benar-benar jenuh dengan rangkak malam yang akhir-akhir ini ia rasa bergerak sangat lamban.

Usianya sudah enam puluh lima tahun. Meski wajahnya masih mencerminkan ketegaran, tapi semua itu tidak mampu menghadang tiap lembar rambutnya yang memutih serta kulitnya yang keriput. Semenjak ketiga anaknya yang laki-laki beristri, dan kedua anaknya yang perempuan bersuami dan memilih menetap di rantau, serta semenjak suaminya meninggal, rumah gadang itu mulai sunyi. Hanya Upik, seorang anak perempuan tetangga yang masih kelas enam SD yang menemani kehidupannya menjalani hari-hari. Tak banyak kesulitan memang dalam hidupnya. Selain harta dan tanah pusaka yang banyak menghasilkan seperti kelapa, padi, jagung dan sebagainya, anak-anaknya pun tidak pernah absen untuk mengirimkan uang tiap bulan. Tapi kesunyian dengan apa harus dibayarnya?

”Apa yang dapat dimaknai dari rumah gadang kebesaran. Lengkung luas kelapangan. Tanah, sawah, dan tanaman yang berlimpah. Sementara sekeping jiwa larut dalam lengang…,” sering ia keluhkan itu. Sering perasaan itu mendatangi dan mengganggu ketenangan malam-malamnya.

Tiap hari dilalui oleh ibu tua seolah-olah waktu tak ada guna. Bangun pagi-pagi. Setelah sholat subuh dia mulai memasak. Lalu membersihkan rumah. Lalu mencabut-cabut rumput. Lalu menunggu Upik pulang sekolah. Lalu makan. Lalu menjahit. Lalu tidur. Lalu…

Sering ia tersenyum sendiri apabila mendengar lantunan tape dari rumah tetangga dengan lirik pantun Minang yang menggelitik: Kalaupun ada batang cumanak. Daunnya banyak yang muda. Kalaupun ada banyak dunsanak. Tapi tak ada tempat beriya. Ya, mereka semua jauh. Rantau lebih memikat mereka ketimbang dusun yang lengang. Gegas kota lebih membuat hidup terasa berdenyut dibanding lengking bangsi yang merusuh hati. Ibu tua tak sanggup memaksa mereka untuk pulang, untuk menetap di kampung. Apalagi semua anaknya telah memiliki rumah sendiri di rantau. Memiliki keluarga sendiri.

”Mungkin ini yang ibu-ibu lupa. Yang kita lupa. Bahwa suatu saat suami pasti pergi. Anak-anak pergi. Dan kita kembali sendiri!” gumam ibu tua itu kembali tersenyum sendiri.

Di jendela, ibu tua menatap jauh ke halaman. Anak-anak bermain lumpur, berlempar-lemparan. Ada yang berkejar layang-layang putus. Di ujungnya, gunung Sago terhampar jelas. Waktu itu pun menyergapnya. Sesuatu yang bernama kenangan. Lembar-lembar di satu kurun yang disebut lampau. Ketika ia mengajak anak-anaknya ke sawah. Berjalan di pematang. Mengantarkan kawa (makanan dan minuman) untuk petani-petani yang mengerjakan sawahnya. Seraya tertawa-tawa mereka akan berebutan menangkap capung-capung merah dan belalang. Mereka bermain ke sungai. Mandi-mandi. Lalu makan bersama-sama dengan para petani. Dengan samba lado dan ikan asin yang dibuatnya di rumah. Lalu mereka pulang setelah senja. Setelah pelangi melengkungi hamparan sawah luas yang menguning. Ah, kenangan!

Ibu tua meninggalkan jendela itu. Ia kembali menuju almanak. Matanya tak lepas-lepas dari angka-angka tersebut seolah-olah ada satu harapan yang ingin digenggamnya. Sebentar lagi lebaran. Anak-anaknya akan pulang. Dan tentu bersama suami dan istri mereka serta cucu-cucunya. Kesunyiannya akan pecah. Gumpal lengang yang selama ini menyesak dada akan mencair dan mengalir. Ia harus bersiap untuk menyambut mereka. Ibu tua tersenyum puas. Sangat lepas.

”Upik, seminggu lagi mereka pulang. Tolong peram pisang yang ditebang kemaren. Etek Suni paling suka kolak dicampur lemang!”

”Jangan lupa minta jagung pada Pak Simuh. Pak Adang Kalun pasti minta jagung bakar!”

”Kita nanti akan buat samba lado tanak buat Etek Eti!”

”Oya, Upik. Juga pangek ikan buat Pak Etek Rustam!”

”Pical buat Pak Angah!”

Upik kadang bingung. Kadang ucapan-ucapan ibu tua sudah seperti orang meracau. Tapi bocah kecil itu mencoba memahami dengan usianya sendiri, betapa menggunungnya rindu yang menggumpal di diri ibu tua. Dengan patuh ia siapkan apa yang diminta oleh ibu tua.

Sementara sang ibu tua, segala sesuatu terhadap tingkah dan lakunya terlihat berlebihan. Beras yang masih ada di tambah. Takut nanti tidak cukup, katanya. Setiap hari ia bersihkan rumah. Debu-debu. Kain pintu ditukar dengan yang baru. Begitu juga dengan gorden dan taplak meja. Halaman dan perkarangan diupahkan untuk membersihkannya. Pagar rumah dicat. Ibu tua terlihat riang dan girang. Sebentar-sebentar ia melihat almanak. Sebentar-sebentar ia tersenyum. Sebentar-sebentar ia beralih melihat foto keluarga. Foto di mana mereka semua sedang tersenyum.

”Sunyi akan pecah dari rumah ini!” ucapnya seakan-akan baru saja memenangkan sebuah pertarungan panjang. Itu terlihat dari wajah keriputnya yang menjelma berseri-seri penuh kesenangan.

Jendela rumah gadang. Sebuah bingkai tempat menatap hari dan waktu. Keramain dan kesunyian. Keindahan dan kepahitan. Segala yang bernama masa lampau, hari ini, maupun jelang esok, akan tergambar sebagai sebuah potret. Refleksi dari sebuah perjalanan yang dititahkan oleh Tuhan. Dan setiap pergulirannya akan menjelma menjadi gambar kehidupan.

Tapi ibu tua mungkin lupa dengan gerak yang bernama perubahan. Ketika anak-anak, menantu dan cucu-cucu yang ditunggu-tunggunya pulang, ia sama sekali tidak melihat sunyi yang pecah. Tidak menyaksikan lengang yang cair. Tak ada yang mengalir ke muara. Hanya diam yang kejam. Justru yang ditemukannya adalah sebuah siksaan baru yang bernama keasingan.

Ia tidak mengerti lagi dengan bahasa anak-anaknya yang telah jauh bertukar. Dengan ucapan-ucapan mereka yang terdengar aneh. Kadang terdengar keras dan tidak sopan. Sikap dan tingkah laku mereka terlihat sangat berjauhan dengan kebiasaan orang-orang di kampung. Mereka telah mengusung kota ke rumah gadang ibu tua. Jantung ibu tua tertusuk. Pedih. Sangat pedih. Ia merasa rindunya telah menghantam kepalanya. Ia ingin menangis. Apalagi ketika mereka lebih memilih makan ke restoran ketimbang mencicipi masakan yang jauh-jauh hari sudah dipersiapkan ibu tua. Ia merasa dirinya limbung dan segera akan rubuh. Matanya berkunang-kunang. Panas.

Di jendela, sehari setelah anak-anak, menantu dan cucunya kembali ke kota, ibu tua tertegun menatap jauh ke halaman. Di belakangnya Upik diam tak berkata-kata. Dendang dari tape tetangga tak terasa mengiringi tetes tangis ibu tua yang titik menimpa selendang usangnya: Kalau dipikir-pikir benar. Luka hati jika tambah parah. Rendahlah ngarai dipandangi. Sebab selarut selama ini. Kalian tau apa yang membuat sedih. Dikira kalian datang mengobati. Berharap luka kan sembuh. Mengapa asam kalian siramkan. Tak ada lagi yang sesakit ini. Bila tak ingat Tuhan. Tentu lebih baik memilih mati.

Ibu tua mencoba tersenyum mendengar dendang tersebut. Dihapusnya airmata. Lalu menatap ke arah Upik.

”Upik, ketuaan adalah kesunyian. Serupa usia. Atau mungkin waktu yang juga sudah tua. Pada akhirnya kita memang tak akan dapat mengelak dari kesendirian. Rindu hanyalah sebatas keinginan. Apa pun selebihnya adalah milik Tuhan!” ucap ibu tua itu. Lalu menutup jendela. Dan senja pun turun di kampung itu.

Payakumbuh, September 2008

Orang yang Tak Bisa Berbohong | Cerpen Mardi Luhung


Siapa pun tahu, Dia tak bisa berbohong. Apa yang diomongkan selalu benar. Dan selalu tepat pada sasaran. Mangkanya, di kampung, jika ada persoalan penting dan membutuhkan orang yang tak bisa berbohong, maka orang-orang selalu menunjuk Dia. Dan menyatakan: “Dalam sejarah kampung, kita beruntung mempunyai warga seperti Dia. Sehingga, kebenaran selalu dapat terjaga. Kebenaran, yang bagi orang lain sulit untuk diomongkan, tapi bagi Dia selalu saja dapat diomongkan.” Tapi, kini, orang-orang di kampung mencuekkan dia. Dia ada atau tak ada, tak ada yang peduli. Jadi, semacam pepatah: “Datang tanpa muka, pergi tanpa punggung,” itulah Dia. Dia yang mungkin lebih banyak hidup dan bergerak sendirian. Dia yang ketika berjumpa dengan orang-orang, lebih banyak dijauhi. Dan lebih banyak seperti angin. Terasa tapi tak terjamah.

Kenapa orang-orang memperlakukan Dia seperti itu? Itu ada kisahnya. Begini: dulu ada peristiwa yang menggemparkan, yang terjadi di kampung, tentang uang yang hilang. Uang itu milik pak Zain. Uang hasil penjualan tiga ekor sapinya. Lalu orang-orang mencarinya. Dan pencarian itu pun mengerucut pada diri Gondo. Pemuda kampung yang luntang-lantung. Yang ketika ditangkap, sedang termenung di bawah pohon trembesi. Dari kantong tas kresek Gondo, orang-orang menemukan sejumlah uang. Jumlah uang itu demikian banyak. Yang tak mungkinlah dipunyai Gondo yang luntang-lantung itu.

“Kau pencurinya?”

“Pencuri apa?”

“Pencuri uang pak Zain!”

“Tidak. Aku bukan pencuri!”

“Lalu, darimana kau dapatkan uang sebanyak ini?”

“Aku menemukan di jalan.”

“Jalan mana?”

Sayangnya, Gondo lupa di jalan mana menemukan uang itu. Sehingga hanya bisa menjawab: “Mungkin, mungkin, dan mungkin. Ya, mungkin di jalan ini, mungkin di jalan itu, juga mungkin di jalan ini dan itu.” Akibatnya, orang-orang jadi marah. Merangsek. Dan ingin menghakimi.

“Kita hajar saja dia!”

“Dia berlagak bego!”

“Ini sudah jelas. Dia pencurinya!”

“Kita tanyai pelan-pelan!”

“Tapi dia sudah mempermainkan kita!”

“Hajar dulu saja!”

Tepat ketika suasana menaik. Suasana ketika orang-orang akan bertindak, tiba-tiba Dia muncul. Dan entah kenapa, orang-orang jadi menenang. Dan suasana yang semula panas jadi mendingin. Lalu ada seseorang yang berkata: “Hei, orang yang tak pernah berbohong, katakan, apa benar Gondo yang mencuri uang pak Zein?”

“Katakan, ayo, katakan!”

Dia pun menghampiri Gondo. Berbisik. Gondo pun menjawab dengan bisik. “Gondo memang menemukan uang itu di salah-satu jalan yang mengarah ke luar kampung. Tapi Gondo lupa itu jalan yang mana. Sebab saat itu malam hari,” begitu kata Dia setelah saling berbisik dengan Gondo.

“Itu tak mungkin!” sahut seseorang.

“Dia kok jadi begini,” sahut yang lain.

“Dia sudah mulai berubah!”

“Masak, menemukan uang kok lupa tempat di mana menemukannya.”

Dia tersenyum. Lalu menambah: “Cobalah kalian pikir, kenapa Gondo lupa di jalan mana uang itu ditemukannnya. Sebab, semua jalan yang mengarah ke luar kampung, terutama malam hari sama. Gelap, rusak, dan tak ada tanda-tanda arah jalannya. Hayo siapa yang salah. Jika Gondo tak mengenali lagi di jalan mana uang itu ditemukannya?”

Orang-orang tercekat.

“Jadi, daripada ribut, ambil saja uang yang ada di tas kresek Gondo. Lalu segera kita perbaiki jalan-jalan yang rusak itu.”

Orang-orang saling berpandangan. Dan meski di hati mereka masih tak terima, tapi apa mau dikata. Omongan yang baru saja mereka dengar itu benar adanya. Dan memang, sudah seringkali, mereka sendiri mengeluh atas kondisi jalan-jalan yang menghubungkan kampung mereka dengan kampung-kampung yang lain. Bahkan, pernah terjadi, ada orang dari luar kampung yang ingin memasuki kampung mereka di malam hari, tapi tak sampai-sampai. Jadinya, bagi orang dari luar kampung, hanya berani mendatangi kampung mereka di siang hari. Sedangkan, bagi mereka sendiri (orang kampung itu) pun enggan untuk bepergian ke luar kampung di malam hari. Di samping mereka sulit mendapat arah ke luar, juga merasa selalu saja kembali ke tempat semula. Dan atas hal ini, maka kampung mereka disebut sebagai Kampung Siang Hari.

“Benar juga.”

“Dia memang tak berbohong.”

“Jadi, ini semestinya urusan transportasi kampung.”

“Tapi, urusan transportasi kampung tak punya dana untuk itu.”

“Siapa yang mesti memberi dana?”

“Bendahara.”

“Aduh, seumur-umur yang ada, bendahara juga tak punya dana untuk itu.”

“Loh pak kepala kampung bagaimana?”

“Pak kepala kampung juga tak punya dana.”

“Jadi?”

Percakapan itu pun berhenti sampai di situ. Memang, selama ini mereka abai terhadap kondisi jalan-jalan yang menghubungkan kampung mereka dengan kampung-kampung yang lain. Padahal, kampung mereka jauh berada di pelosok. Tak ada angkutan umum yang beroperasi. Sedangkan, untuk jalan kaki, dibutuhkan waktu kurang lebih tiga-hari dua-malam. Untuk naik motor minta ampun susahnya. Dan seminggu ke depan, semua penduduk kampung pun bergotong-royong memperbaiki jalan-jalan yang mengarah ke luar kampung itu. Tanda-tanda arah jalan diperjelas. Penerangan ditambahi. Dan atas usaha pak kepala kampung, mesin diesel pun didatangkan lagi. Dan menurut pak kepala kampung juga, sekian tahun ke depan, akan diusahakan, bagaimana jaringan listrik dapat merambah kampung mereka.

“Nah, kini kita mesti membikin rapat pembentukan panitia,” kata pak kepala kampung ketika urusan gotong-royong memperbaiki jalan-jalan selesai.

“Rapat pembentukan panitia?”

“Ya, rapat pembentukan panitia penerimaan jaringan listrik,” tandas pak kepala kampung.

“Dan untuk lebih baiknya, kita undang juga orang yang tak bisa berbohong itu,” sahut seseorang.

Maka, empat hari kemudian rapat panitia itu digelar di balai kampung. Rapat itu begitu meriah. Usulan-usulan pun dilontarkan. Lalu, setelah rapat hampir selesai, barulah Dia, orang yang tak bisa berbohong itu, dipersilakan memberikan masukannya.

“Saudara-saudara, selanjutnya, mari kita sambut orang yang tak bisa berbohong.”

“Akurrr!”

Dan Dia pun maju. Tatapannya biasa-biasa. Lagak-lagunya juga biasa-biasa. Tepat di podium, Dia ngomong begini: “Selamat atas terbentuknya panitia. Saya cuma berharap, kampung kita tetap aman-aman. Sebab, semakin kampung terang, nanti akan semakin banyak uang yang hilang.” Byar! Orang-orang yang mendengar pun ribut. Kasak-kusuk. Bahkan ada yang mulai gremang-gremeng. Tak percaya, jika Dia, yang dianggap tak bisa berbohong itu, akan ngomong seperti itu. Dengan kata lain, jika nanti kampung sudah terang, maka akan banyak uang yang hilang. Dan itu tentunya, akan banyak pencuri yang berseliweran. Mungkin-mungkin, salah-satunya adalah diri mereka sendiri yang dituduh pencuri. Gila!

“Ya, itu omongan gila.”

“Tak masuk akal!”

“Dia sudah meracau!”

“Kemarin Dia membela Gondo, karena jalan-jalan yang mengarah ke luar kampung gelap!”

“Kini, ketika mau diterangkan, malah memutar-balikkan fakta!”

“Sudah, jangan lagi dipercaya!”

“Turunkan Dia!”

“Turunkan cepat!”

Dan Dia pun diturunkan dengan paksa dari podium. Meski pak kepala kampung mencoba menengahi, tapi orang-orang sudah tak mau percaya. Seperti angin gunung yang gesit, Dia pun dihentakkan. Dia terjerembab. Tersungkur. Dan sejak itu, sejak panitia penerimaan jaringan listrik bekerja, Dia dilupakan. Rasanya, setiap orang yang ada di kampung, sudah tak mau lagi menerima keberadaannya. Dia ada atau tak ada, dianggap tak ada. Sampai listrik benar-benar merambah ke kampung. Sampai nama kampung mereka, Kampung Siang Hari diganti menjadi Kampung Terang Benderang.

Kampung yang mudah untuk didatangi kapan pun dan oleh siapa pun. Dan kampung, yang entah kenapa, mulai terlanda kabar, bahwa ada dari penduduknya (yang kebetulan duduk di jajaran panitia penerimaan listrik), telah menyalahgunakan sebagian dana yang ada. Akh, orang-orang pun kaget. Terus teringat pada omongan Dia, orang yang tak bisa berbohong itu, saat di podium dulu. Tapi sayangnya, rasa malu orang-orang telah begitu tebal. Sehingga, tetap saja mencuekkan Dia. Sampai kini.

Mardi Luhung: Lahir di Gresik, Jawa Timur, 5 Maret 1965. Puisinya tersebar di sejumlah media.

Kisah Kegembiraan Penghabisan | Cerpen Nicko Fernando


Malam itu, aku dan adik-adikku berkumpul di samping lahan kosong, yang tak lama lagi bakal ditanami sebuah gedung. Seperti gedung-gedung lain di kota kami. Seperti biasa, usai menghabiskan pagi hingga petang untuk bekerja, aku dan adik-adikku menghabiskan malam untuk saling bercerita.

Beberapa waktu lalu, tempatku dan adik-adik berkumpul masih penuh pepohonan. Namun kini pohon-pohon itu tumbang, digergaji, dibakar dan dibawa oleh orang-orang entah ke mana. Cuma tertinggal sebuah pohon, yang besok pun bakal tumbang pula. Di bawah pohon itulah, aku dan adik-adikku berkumpul.

Ucup, Ujang, dan Budi sudah tiba. Kedua adikku yang lain belum datang. Mungkin mereka masih di perjalanan.

“Ucup, bagaimana koranmu? Semua terjual?” tanyaku.

“Seperti kaulihat, Kak. Aku tak membawa apa-apa. Semua habis terjual.”

“Syukurlah,” batinku. “Ujang, Budi. Koran kalian juga habis terjual?”

“Ya, Kak,” jawab Ujang.

Budi hanya diam.

“Yei, cerita belum dimulai bukan? Aku belum ketinggalan bukan?” ucap Maman, lantang, mengagetkan aku, Ucup, dan Ujang.

Aku tersenyum melihat Maman dan Ucok yang baru datang. Kini, semua adikku telah berkumpul.

Kulihat Maman dan Ucok masih membawa koran. Koran mereka tidak terjual.

“Maman, Ucok, ke mana saja kalian? Tak seperti biasa, malam ini kalian telat datang.”

“Keliling kota, Kak. Menghabiskan koran.”

“Ya, Kak. Seharian ini koran kami tak laku,” timpal Ucok.

“Baiklah, biar Kakak yang menjual koran kalian besok,” ucapku. “Mari kita mulai cerita. Malam ini, Kakak hendak bercerita tentang Abu Nawas. Adakah yang sudah tahu?”

“Aku, Kak,” sahut Maman. “Aku pernah mendengar kisah Abu Nawas dan seekor monyet.”

“Ya, lalu?”

“Lalu aku lupa ceritanya, Kak.”

“Dasar!” ucap Ucup.

“Hu…!” sahut Ujang dan Ucok.

Maman tersenyum meringis sembari menggaruk kepala.

“Baiklah, Kakak mulai cerita,” ucapku.

Abu Nawas seorang sufi dan penyair. Aku ragu menyampaikan kata “sufi” dan “penyair” kepada adik-adikku. Mereka masih kecil dan kukira belum perlu tahu makna kata-kata itu. Lagipula, apalah arti sufi dan penyair bagi adik-adikku.

Mungkin mereka juga belum perlu tahu sejarah Abu Nawas yang sering berpura-pura gila. Abu Nawas berpolah begitu agar raja tak memilih dia menjadi hakim. Abu Nawas khawatir jika harus menjadi hakim, karena merasa belum mampu bersikap adil.

“Kisah Abu Nawas dan seekor monyet,” ucapku mengawali cerita. “Kala itu suatu keramaian mengejutkan Abu Nawas yang sedang jalan-jalan. Kata orang-orang, dalam keramaian itu ada pertunjukan monyet ajaib. Monyet itu memahami percakapan orang-orang,” ucapku sembari memandang adik-adikku.

Mereka diam. Mungkin sedang mendengarkan aku atau malah melamunkan hal lain.

*****

“Siapa pun yang mampu membuat monyetku mengangguk, akan mendapat hadiah uang dariku,” begitulah ucap tuan pemilik monyet.

Abu Nawas datang dan menantang monyet itu. Ya, Abu Nawas sudah menunggu-nunggu saat itu. Sejak tadi tak ada seorang pun yang mampu membuat monyet itu mengangguk.

“Tahukah engkau siapa aku?” Abu Nawas bertanya

Si monyet menggelengkan kepala.

“Apakah engkau takut kepadaku?” Kembali Abu Nawas bertanya.

Si monyet tetap menggelengkan kepala.

“Apakah engkau takut kepada tuanmu?”

Si monyet diam.

“Bila engkau hanya diam, kuadukan engkau kepada tuanmu,” lanjut Abu Nawas mengancam si monyet.

Akhirnya monyet itu mengangguk. Dan, Abu Nawas pun mendapat hadiah uang dari tuan pemilik monyet.

Tuan itu malu sekaligus jengkel. Lalu dia pun melatih monyetnya untuk tidak menggelengkan kepala. Tuan itu bahkan mengancam si monyet bila menggelengkan kepala, apalagi kepada Abu Nawas.

Keesokan harinya, Abu Nawas datang kembali ke pertunjukan monyet. Segera dia melempar pertanyaan kepada monyet itu. “Tahukah engkau siapa aku?”

Si monyet mengangguk.

“Apakah engkau tidak takut kepadaku?”

Si monyet mengangguk.

“Apakah engkau tidak takut kepada tuanmu?”

Si monyet tetap mengangguk. Si monyet ternyata lebih takut menghadapi ancaman dari tuannya ketimbang menjawab pertanyaan Abu Nawas.

Abu Nawas pun mengeluarkan bungkusan kecil berisi balsam panas.

“Tahukah engkau guna balsam ini?”

Si monyet mengangguk.

“Baiklah. Kugosok badanmu dengan balsam ini ya?”

Si monyet tetap mengangguk. Abu Nawas pun mengoleskan balsam ke tubuh si monyet. Monyet itu kepanasan dan panik. Namun tanpa menghiraukan si monyet, Abu Nawas membuka bungkusan balsam lebih besar.

“Maukah engkau bila semua balsam ini kuoleskan ke badanmu?”

Si monyet ketakutan. Ia berjalan mundur dan terpaksa menggelengkan kepala kepada Abu Nawas.

*****

Begitulah, aku, Ucup, dan Ujang tertawa. Maman tertawa pula , bahkan paling keras. Ucok cuma tersenyum, sedangkan Budi hanya diam.

Tawaku, Ucup, dan Ujang mereda. Namun Maman masih tertawa.

“Cerita lagi, Kak!” ucap Maman setelah berhenti tertawa.

“Baiklah,” ucapku.

Aku melanjutkan cerita. Kulihat Ucup, Ujang, Maman, dan Ucok terus tersenyum mendengar ceritaku. Sesekali Maman menyela, sembari mereka-reka lanjutan ceritaku. Rekaan Maman selalu salah dan dia selalu kena ujaran celetukan dari adik-adikku yang lain.

Gelak tawa, mulut menguap, dan pukulan adik-adikku kepada Maman meramaikan malam itu. Suara bus pinggir jalan, klakson, dan desingan suara mesin motor memaksaku bercakap lebih lantang agar suaraku terdengar oleh adik-adikku.

Malam itu, bintang-bintang mengedipkan sinar. Menghambur di langit mendampingi bulan agar tak bersinar sendirian. Angin malam yang berembus menggugurkan daun-daun kering. Angin malam berembus kembali. Kali ini lebih kencang. Aku dan adik-adikku menggigil diterpa angin malam.

Tak jauh di belakangku, kusaksikan gemerlap cahaya merah, ungu, dan putih lampu-lampu gedung. Di samping kiriku ada pula lampu di puncak tiang pinggir jalan memancarkan cahaya kuning.

Pikiranku melayang ke masa lalu. Dahulu, tempat itu tak segersang sekarang. Ada pohon dan sawah. Warga sering berkumpul pada waktu malam untuk saling sapa dan bertanya kabar.

Sore hari halaman masjid ramai oleh anak-anak kecil yang bermain bola. Selagi mereka bermain, ibu dan kakak perempuan mereka menyapu halaman rumah. Di jalanan desa, para bapak dan kakak laki-laki mereka berlalu sembari membawa ketela, dedaunan, dan bawaan lain dari sawah atau ladang.

Lalu masa itu tiba. Orang-orang asing datang dan memaksa kami pindah ke tempat lain, entah ke mana. Tentu saja semua orang menolak. Aku juga menolak pindah. Namun kami tak berdaya. Mereka mengatasnamakan hukum, undang-undang, kesejahteraan, bahkan mengancam.

Kami kalah. Tempat kami menjadi proyek perluasan wilayah kota dan pembangunan jalan.

Aku menemukan Ucup, Ujang, Maman, dan Ucok saat bersembunyi dari kejaran orang-orang pasar. Mereka sekawanan pencuri. Budi kutemukan berdiam diri berhari-hari di lahan penggusuran. Aku dan mereka sama. Sama-sama telantar dan tidak tahu mesti berbuat apa.

Malam bertambah malam. Aku dan adik-adikku larut dalam cerita.

“Sudah, Kakak kehabisan cerita Abu Nawas. Sekarang Kakak ceritakan kisah lain.”

“Apa, Kak?”

“Dengarkan saja!” ucapku membalas Maman. “Suatu hari, seorang pemburu mencari harimau di hutan. Setelah lama berkeliling, pemburu akhirnya menemukan seekor harimau. Segera pemburu itu mengambil ancang-ancang dan bersiap menembak.”

“Menembak pakai apa, Kak?”

“Senapan, Man.”

“Senapan itu apa, Kak?”

“Senapan itu semacam alat tembak yang dipakai tentara, Man.”

“Oh, ya ya ya. Aku pernah melihat di tipi pos ronda,” balas Maman.

“Ya, begitulah, Man,” sahutku.

“Kakak lanjutkan cerita!”

“Ya, Kak,” sahut Ucup, Ujang, Maman, dan Ucok serentak.

“Setelah bersiap-siap, pemburu itu melepas tembakan,” lanjutku. “Dor!” capku lantang.

Ucup, Ujang, Maman, dan Ucok tersentak. Kaget.

“Tembakan pemburu itu meleset. Harimau itu kaget, lalu bangkit dan mengejar sang pemburu. Pemburu berlari kencang hingga akhirnya sampai di ujung jurang. Pemburu yang ketakutan dan panik segera berdoa kepada Tuhan.”

“Kenapa diam, Kak?” sela Maman melihat aku menghentikan cerita.

“Kau tahu apa yang terjadi pada pemburu itu saat berdoa, Man?”

“Harimau memakannya.”

“Tidak. Harimau tidak memangsanya.”

“Kok bisa?”

“Ya, saat pemburu itu membuka mata, ternyata si harimau sedang menadahkan kedua kaki depan. Pemburu heran, lalu bertanya kepada harimau. Ternyata harimau itu sedang berdoa sebelum makan.”

Maman tertawa pingkal-pingkal. Begitu pula Ucup, Ujang, dan Ucok.

“Lagi, Kak!” ujar Maman yang masih tertawa.

“Baiklah. Ini cerita terakhir malam ini,” balasku.

*****

Suatu ketika tukang becak sedang melintasi jalan. Di ujung jalan itu ada plang bertuliskan “Becak Dilarang Masuk”. Tukang becak mengabaikan peringatan itu. Seorang polisi tahu dan menyemprit.

“Apa engkau tak melihat plang itu? Becak dilarang masuk!” Polisi itu membentak si tukang becak.

Tukang becak itu menjawab. “Oh, saya lihat, Pak. Tapi gambar becak di plang itu kosong, padahal becakku berpenumpang. Jadi boleh masuk.”

Polisi kembali membentak, “Bodoh! Apa kamu tak bisa membaca? Di bawah gambar itu ada tulisan becak dilarang masuk.”

“Tidak, Pak. Saya tak bisa membaca. Kalau bisa membaca, saya bakal jadi polisi seperti sampean. Tidak jadi tukang becak.”

*****

Ucup, Ujang, Maman, dan Ucok tertawa. Budi cuma tersenyum mendengar ceritaku.

Gelak tawa menutup malam. Tak lama usai mendengar ceritaku, Ucup, Ujang, Maman, dan Ucok tertidur. Mereka terlelap.

Budi beranjak dari duduknya, lalu mendekatiku.

“Kak, besok kita tinggal di mana?”

“Tidurlah, Budi! Besok kita pasti mendapat tempat tidur baru,” ucapku menenangkan Budi.

Nicko Fernando, lahir di Grobogan, 20 Agustus 1995, bergiat di Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS)

Ampo | Cerpen Andri Saptono


Guru Atma menatap hujan yang belum berhenti turun di beranda. Hidungnya kembang kempis demi menghirup ampo, atau aroma tanah selepas hujan itu. Ia tersenyum menatap hujan yang pertama turun di kota ini setelah sekian lama hari-hari kota ini tengadah menatap matahari yang memanggang. Kopi di sampingnya mendingin ia biarkan. Radio yang kemrosok karena kehilangan sinyal, juga tidak ia pedulikan. Hanya rintik hujan yang ia dengarkan. Hanya bau ampo yang menguasai keheningan benaknya.

Ah, ampo ini adalah aroma masa kecilnya dan juga gairah hidupnya sebagai guru honorer di kota pinggiran yang penuh suka duka ini.

Kata orang guru Atma itu aneh. Mengabdi sebagai guru di kota pinggiran ini. Ia mengajar di sebuah SMP yang berbasis agama, yang hampir putus asa mendidik kebaikan kepada siswanya. Pun masyarakat nyaris tak peduli dengan pendidikan atau agama. Mereka hanya bekerja menghalalkan segala cara. Kejahatan adalah sebuah kebiasaan yang tak bisa dihentikan, apalagi sekadar pendidikan agama di madrasah.

Namun guru Atma adalah seorang yang impulsif. Kebetulan saja ia ditawari seorang temannya yang menjadi kepala sekolah di sini.

Kau masih mau menjadi guru? Aku mau menawari kamu mengajar di sekolahku. Kebetulan sekolahku butuh guru bahasa. Tentu ijazahmu lebih berguna di sini. Soal tempat tinggal, aku ada sebuah rumah kosong di sini. Dan kurasa ini lebih baik daripada menjadi pelukis potret di kampung sana?

Begitulah hanya karena tawaran dari temannya itu, guru Atma mengangkat koper pakaiannya. Juga lantas alat-alat lukis itu ia susulkan belakangan. Aktivitasnya yang kedua ini tak ingin ia tinggalkan. Entah ia ingin menggambar apa di kota baru ini. Kota yang nyaris separuhnya telah gosong oleh kemarau panjang. Sedang separuhnya lagi terbakar karena kekacauan dan kerusuhan. Mungkin guru Atma benar-benar berminat melukis kota ini yang masyarakat nyaris tak peduli dengan pendidikan, agama, bahkan Tuhan.

“Aku gaji kau disini sesuai dengan kemampuanku. Maklum, sekolah tak banyak muridnya. Yang penting kau bisa makan dan hidup di sini. Aku tahu kau pasti mau. Aku kenal kau. Aku yakin kau masih idealis seperti zaman kuliah dulu. Bukan seperti mereka yang gemar menjual ijazah S1 untuk mencari pekerjaan atau menjadi pegawai negeri.”

Kawannya itu memang tak perlu membujuk guru Atma. Sekarang guru Atma sudah 1 tahun mengajar di sekolah itu. Sekolah yang mengajarkan agama dan pelajaran umum menjadi satu. Kawannya yang idealis itu masih percaya bahwa pelajaran agama bisa mengubah wajah bopeng kota ini menjadi lebih baik. Ia malah takut jika dibuat pelajaran umum saja.

Pun ia juga melepaskan diri dari pemerintah yang setengah-setengah mau membantunya. Memberi bantuan tetapi juga memotong untuk biaya administrasi, biaya ketebelece, dll. Mereka juga suka minta begini dan begitu kalau sudah merasa pernah memberi bantuan sesuatu. Mata pelajaran ini dihilangkan, yang itu ditambah, diganti kurikulum baru, pelajaran agama juga tak perlu banyak-banyak, sebagai selingan saja. Maka, si kawan guru Atma itu pilih berlepas diri dari pemerintah. Perusahaan tekstil dan kebun sawitnya di Sumatra itu ia jual untuk membuat sekolahan di Kota Solo ini.

Sekarang, lima tahun berdiri sekolah ini masih tak banyak berubah. Jumlah muridnya hanya satu kelas semua. Kelas I satu kelas, kelas II satu kelas, dan kelas III satu kelas. Lulusannya bisa dihitung dengan jari setiap akhir tahun. Tapi sekolah itu tetap bertahan. Pemerintah juga enggan menutupnya. Mereka khawatir jika tidak ada penduduk di kota ini yang sekolah, maka akan menjadi sorotan dunia. Mereka lebih takut di-bully oleh netizen di media sosial.

Guru Atma mengajar bahasa di kelas I sampai III. Ia pun senang-senang saja. Tidak peduli dengan gajinya. Atau jumlah jam mengajar. Ketika longgar, ia selalu mudah tergerak untuk berada di kelas dan mengajarkan bahasa Indonesia dengan baik dan benar kepada anak-anak itu. Walaupun anak-anak kadang kala tak peduli, tidak memperhatikan, memainkan gawai di kelas, atau malah ada yang pacaran di WC guru. Guru Atma sebenarnya mengetahui hal itu. Tapi ia tetap tersenyum. Mengajar dengan cara yang tak biasa. Kadang anak-anak malah merasa heran dengan kebiasaan guru baru itu. Harusnya guru itu tidak bertahan sampai setahun ini. Harusnya ia sudah hengkang dari dulu-dulu seperti guru lainnya. Ataukah ia memang orang-orang gila seperti sang kepala sekolah yang suka berpenampilan mirip koboi itu?

*****

Jam sebelas berdenting di belakang punggung guru Atma. Gerimis masih nggrejeh untuk pertama kalinya hujan selama satu tahun kemarau ini.

“Ini hujan pertanda baik atau buruk?” tanya suara yang tiba-tiba naik dari halaman. Pak kepala sekolah ternyata yang datang. Sejak Magrib sampai sekarang masih gerimis tak mau henti-henti.

Guru Atma tersenyum menatap temannya datang, lalu kembali pada gerimis di halaman, sejenak beralih pada seekor bangkong yang keluar dari balik pot yang terbalik.

“Tanya pada bangkong itu. Dia pasti lebih tahu?”

“Andai saja ia bisa bicara, kawanku.”

“Tentu ia bisa bicara.”

“Ya, tapi aku kan tak tahu bagaimana bahasa mereka?”

“Oh, kau tak perlu menjawabnya. Cukup dengarkan saja.”

“Benarkah. Aku tak perlu mengajaknya bicara, cukup mendengarkan saja mereka berkata.”

“Ya, kita tunggu saja. Semoga saja ia mau bicara soal hujan sesore ini.”

Tapi, si katak besar tidak mau bicara. Si bangkong hanya berdiam di halaman, membiarkan tubuhnya yang bintil-bintil seperti kutil itu terguyur gerimis. Sesekali lidahnya menjulur kalau ada serangga kecil atau nyamuk yang melintas. Makhluk-makhluk itu akan bermalam selamanya di perut sang bangkong itu.

“Sial! Ia sepertinya tak mau bicara!”

“Ya, bahkan bangkong itu pun tak mau bicara pada kita.”

“Ah, aku jadi takut dengan amsal hujan pertama kali ini kawan.”

“Tapi aku masih punya sedikit harapan baik. Aku masih punya firasat itu. Sang Pemilik Hujan tidak serta merta murka. Ia masih menanti kita menjadi orang baik yang disukai-Nya.”

“Tapi dari segi apa kau bisa bicara tentang harapan baik?”

“Ampo! Ya, kau bisa cium ampo tanah halaman ini?”

Si kepala sekolah mengangguk. Sementara guru Atma membuatkan kopi untuk kawannya. Seperti biasa keduanya akan berbincang panjang tentang hujan di beranda ini.

*****

“Ampo ini terasa gurih dan nikmat seperti masa kecil kita,” kata pak kepala sekolah.

“Ya, aku juga merasa. Semoga di tempat lain juga seperti yang kita rasakan,” tukas guru Atma.

“Ah, aku sangsi di kota terkutuk ini.”

“Tidak, tidak jangan sebut kota ini terkutuk. Kau yang mengajak aku ke sini. Kau sudah lama tinggal di sini. Aku tak mau mendengar ungkapan keputusasaan dari kamu.”

“Yah, begitulah, terkadang aku lelah saja. Maafkan aku.”

“Kau tentu masih ingat cerita yang disampaikan guru SD kita itu. Tentang dua orang pengendara yang datang ke suatu kota. Ketika mereka sama-sama kembali dan ditanyai tentang pengalaman mereka tinggal. Seorang menjawab bahwa kota itu busuk dan penduduknya jahat. Ia tak kerasan tinggal di situ. Sementara orang kedua, ia menjawab bahwa kota itu menyenangkan, penduduknya ramah kepadanya. Dan ternyata kemudian diketahui bahwa yang membuat mereka tidak kerasan tinggal adalah diri mereka sendiri. Yang jahat tidak kerasan tinggal. Yang baik kerasan tinggal. Hati itu cermin pemiliknya sendiri-sendiri.”

“Ya, aku masih ingat. Karena guru itu pula aku dan kamu sepakat sesudah dewasa ingin mengabdi sebagai guru.”

“Ya, kau berhasil membangun sekolah di sini, bahkan tanpa bantuan pemerintah. Kau hebat.”

“Kau mau membantuku. Melepas kariermu sebagai pelukis potret. Itu membuatku bahagia dan berusaha untuk tetap tinggal di sini.”

Keduanya tertawa. Meminum kopi dan memakan ubi rebus dengan nikmat.

“Bau ampo ini pertanda kita tetap tinggal dan mengabdi di sini.”

*****

Esoknya, hujan berhenti. Tapi siangnya ketika sekolah usai dan guru Atma mau pulang, hujan kembali turun. Di sekolah murid-murid sudah sepi. Tinggal beberapa guru. Tapi mereka ternyata memakai mantel. Hanya pak guru Atma yang tidak memakai. Bahkan si kepala sekolah itu juga tidak membawa payung.

“Kau tidak bawa payung?”

“Aku ingin berhujan-hujan. Aku ingin mencium bau ampo. Kau cium bau itu di halaman, kan?”

“Iya, aku juga menciumnya,” jawabnya sambil menutup payungnya. Keduanya berjalan turun di halaman, membiarkan seluruh baju mereka basah oleh hujan dan bahkan buku-buku tas mereka.

“Ada sunahnya untuk berhujan-hujan.”

“Iya, sudah lama kita tak melakukannya. Sunah yang enak untuk berhujan-hujan begini.”

Mereka tertawa gembira.

“Mau mampir di tempatku lagi?” tanya guru Atma.

“Ah, gantian saja. Sekarang di tempatku. Istriku tadi membuatkan sop manten untuk mengenang tiga tahun pernikahan kami. Kau kuundang ke tempatku.”

“Dengan pakaian basah begini?”

“Tidak apa. Nanti kau bisa pakai kaus dan sarungku.”

Mereka tertawa berjalan keluar dari halaman. Anehnya, begitu keluar, bau dari halaman, bau ampo itu makin lama makin tipis. Bahkan, hujan menjadi berbau amis dan jika jatuh di lidah air itu terasa anyir. Ini menakutkan keduanya. Mereka jadi bergidik ngeri.

“Tidak semua tempat seperti yang kita duga ternyata. Jalanan tidak bersahabat.”

“Bahkan taman bermain ini juga berbau sama. Menakutkan. Entah kerusakan apa yang terjadi di sini.”

“Tanda-tanda akhir zaman telah tiba. Semua didahului dengan keadaan begini. Ayo kita bergegas!”

Jalanan, taman bermain, pasar, dan rumah- rumah sedikit sekali yang berbau ampo gurih. Rata-rata berbau anyir dan amis. Keduanya bahkan berlari dari hujan yang seakan mengejar mereka. Berharap segera sampai di rumah kepala sekolah.

“Rumahmu terasa jauh sekali. Napasku kembang kempis. Sial napas rokok.”

“Lima belokan lagi. Kita harus tetap berlari.”

Keduanya berlari. Mereka kini bertudung buku dan tas dari hujan. Tak peduli dilihati oleh orang-orang yang menepi di pinggir jalan, perempuan pramuniaga di toko-toko, dilihati anak-anak yang bermain di beranda rumah mereka, dilihati pemulung yang menepi di pojok halte.

Namun, orang-orang itu sudah mafhum dengan dua guru aneh itu. Konon keduanya seniman nyentrik. Sudah tua masih saja balapan lari saat hujan begini, seperti anak kecil saja! pikir mereka.

Dan diujung jalan itu, terdapat sebuah rumah. Seorang perempuan menunggu di beranda masih dengan celemek di perutnya yang menutupi kehamilannya. Sebulan lagi ia melahirkan. Bayi itu konon adalah bayi pertama yang lahir setelah 10 tahun tidak ada kelahiran bayi di kota ini.

Penulis bergiat di Pakagula Sastra, novel terbarunya Lost in Lawu (2016).