Contoh Karya Sastra
Lelucon Para Koruptor | Cerpen Agus Noor

Lelucon Para Koruptor | Cerpen Agus Noor


Ada yang tak disampaikan ketika ia masuk penjara: mesti menyiapkan banyak lelucon. Mungkin Join Sembiling SH lupa soal itu. Pengacara yang menangani kasusnya itu hanya mengatakan kalau ia tak usah terlalu khawatir selama menjalani 8 tahun masa tahanannya karena segala sesuatunya sudah ada yang atur dan urus. “Percayalah, penjara bukanlah tempat yang menyeramkan bagi koruptor,” katanya setengah tertawa.

Kehilangan kebebasan, bagaimanapun membuatnya merasa tertekan. Ia membayangkan kehidupan yang begitu membosankan dan akan mati kesepian. Tapi pengacara berpenampilan perlente itu, yang sudah menangani puluhan kasus korupsi, menenteramkannya, “Anggap saja kau hanya pindah tempat tidur. Kau tetap bisa menjalankan bisnismu dan menikmati hal-hal yang kau sukai seperti biasanya.”

Ia kini benar-benar percaya dengan semua yang dikatakan pengacaranya. Ia tak perlu pusing memikirkan kebutuhan hidup bulanan istrinya karena sudah ada yang menanggung, juga biaya sekolah anak-anaknya. Kawan-kawan dan atasan yang merasa diselamatkannya—karena ia tak menyebutkan nama mereka selama persidangan—telah diatur oleh Join Sembiling SH agar membantu semua kebutuhan rumah tangganya sebagai “ucapan terima kasih”. Bahkan, ia masih bisa berkomunikasi dengan mereka, dan istrinya bisa sewaktu-waktu menemuinya bila memang ia membutuhkan untuk “menyelesaikan hasratnya”. Bila merasa bosan dan pengin sedikit refreshing berjalan-jalan di luar, semua “prosedur formal akan dibereskan dengan biaya secukupnya”. Bila kangen makanan kesukaan, tinggal telepon dan akan segera ada yang mengantarnya.

Yang menggelisahkan justru karena ia mesti menyiapkan lelucon. Ini ia ketahui setelah dua minggu dalam penjara. Ia diundang mengikuti pertemuan dengan para penghuni lama. “Ini pertemuan yang rutin diadakan tiap malam Rabu,” ujar Sarusi, kawan satu selnya, anggota dewan yang tertangkap tangan karena kasus suap reklamasi. “Kau bisa berkenalan dengan orang-orang terhormat di sini. Kesempatan langka, yang mungkin tak akan bisa kau dapatkan bila kau masih di luar sana.” Sarusi tersenyum. “Siapkan saja satu lelucon paling lucu yang kau punya, yang bisa menentukan martabatmu.” Ia bingung saat itu.

*****

Akhirnya ia tahu. Setiap yang hadir bergiliran menyampaikan satu lelucon. Yang paling lucu akan naik martabatnya karena akan dilayani oleh yang kalah, yakni yang dianggap paling tak lucu. Menjadi raja dalam seminggu, yang boleh memerintah atau mengerjai siapa pun yang kalah, misalkan menyuruh berdiri dengan satu kaki, menangkap seekor kecoa, dicoreng wajahnya dengan spidol dan tak boleh dibersihkan selama seminggu, memijiti tiap malam, dan bahkan menyuruhnya membersihkan sel.

Lelucon-lelucon itu menghiburnya, sekaligus membuatnya mati kutu. Saat pertama kali hadir dalam pertemuan itu, ia dianggap paling tak lucu dan disuruh menyanyikan lagu nasional yang didangdutkan sambil goyang ngebor. Sialan! Rupanya semua telah sepakat untuk memplonconya sebagai warga baru karena ia tahu, sebenarnya lelucon Pak Hakil lebih tak lucu dari leluconnya.

Pak Hakil, mantan hakim konstitusi, sebenarnya tak pernah bisa membuat lelucon lucu. Leluconnya nyaris sudah basi dan garing. Tapi semua yang mendengar selalu tertawa. Misal, suatu kali Pak Hakil melontarkan tebak-tebakan, “Kenapa di rel kereta api selalu ditaruh batu? Karena kalau ditaruh duit, pasti habis diambil kita semua.” Ia tahu, itu hanya lelucon lama yang dimodifikasi, tapi semua tertawa. Bahkan, ketika Pak Hakil menceritakan lelucon usang soal “kereta api yang berhenti di stasiun karena rodanya kempes”, semua tertawa ngakak. Apa lucunya? Kemudian Sarusi membisikinya, “Kau harus tertawa meski tak lucu. Pak Hakil sudah cukup menderita karena divonis seumur hidup, jadi anggap saja kita sedekah tawa karena ingin membuatnya terhibur. Ingat, menyenangkan orang lain itu dapat pahala. Ha-ha….”

Kemudian, ia memahami, soal masa hukuman itu termasuk hal penting yang harus dihormati. Semakin lama masa hukuman, maka akan semakin tinggi kehormatannya. Yang lebih rendah vonis hukumannya harus menghormati yang dihukum lebih lama di atasnya. Bila lebih dari 15 tahun penjara, ibaratnya berpangkat setingkat jenderal. Yang dihukum seumur hidup langsung dapat gelar jenderal bintang lima anumerta. Kalau cuma dua tiga tahun, itu kelas kopral.

Jumlah yang dikorupsi juga menentukan martabat. Bung Jayus, pegawai pajak yang masih muda tapi menilep miliaran, dipandang lebih terhormat dari Pak Muad Arim, bupati yang sudah berumur 70 tahun, tetapi hanya kesandung uang recehan ratusan juta. Makin banyak uang makin terpandang dan disayang. Setidaknya makin disayang para sipir penjara, kata Mas Unas, mantan ketua sebuah partai. Mas Unas tetap merasa dirinya hanya dikorbankan. “Saya tak bersalah. Terbukti saya tidak menerima satu rupiah pun…, sebab yang saya terima dalam bentuk dollar.” Lelucon-leluconnya sering mengejutkan.

Di pertemuan malam Rabu itulah—yang sering dibilang Mas Unas sebagai “tadarus lelucon”— setiap yang hadir seperti ingin saling menghibur, tetapi kadang juga terasa ingin meneguhkan kehormatan dan martabatnya dengan saling sindir saling ledek. Dan Mas Unas kerap menjadi bintang dengan lelucon-leluconnya. Bung Jayus sering kena sasaran. “Kamu tahu, pajak itu mudah, yang sulit membayarnya,” kata Mas Unas. Semua tertawa. Bung Jayus mesam-mesem. “Orang pajak itu paling pelit. Saya punya kawan, perempuan yang pacaran dengan pegawai pajak. Tiap makan, selalu perempuan itu yang bayar. Ketika perempuan itu kesal, pegawai pajak itu bilang, ‘tenang, kamu yang bayar makannya, saya yang urus pajaknya’.” Kembali semua tertawa.

“Tapi harus diakui, di antara kita semua, pegawai pajak yang akan gampang masuk surga. Ketika mau masuk gerbang surga, tiap orang akan ditanyai malaikat. Nah, ketika sampai di gerbang surga, justru pegawai pajak yang malah menanyai malaikat, ‘Tolong perlihatkan SPT pintu gerbang surga ini?! Apakah sudah melunasi pajak pintu gerbang surga?’ Mendengar itu, malaikat cepat-cepat menyuruh pegawai pajak itu masuk surga biar urusan pajak nggak diungkit-ungkit.”

“Mas Unas,” timpal Bung Jayus, “semua orang itu jujur, kecuali soal pajak.”

Kelebihan lain Mas Unas ialah piawai memberi konteks leluconnya dengan apa yang aktual. “Saya baru baca berita, kalau saat ini jumlah orang miskin hampir 100 juta. Sementara ekonomi hanya dikuasai oleh 10 orang terkaya. Menurut saya, ini berita bagus.”

“Lho kenapa?”

“Artinya, di negeri ini lebih gampang jadi orang kaya ketimbang jadi orang miskin. Kalau mau jadi orang miskin, harus bersaing dengan 100 juta orang. Tapi kalau mau jadi orang terkaya, saingannya hanya 10 orang. Artinya, kalau nanti kita keluar, kita masih tetap punya harapan untuk makin kaya karena hanya bersaing dengan 10 orang itu.”

Semua nyengir.

*****

Menyiapkan lelucon seminggu sekali menjadi hal yang paling menggelisahkannya dalam penjara ini. Memikirkan lelucon yang harus disiapkan untuk pertemuan Rabu malam itu saja sudah membuat perutnya mual. Ia selalu tak pernah bisa yakin dengan lelucon yang ia anggap lucu. Barangkali lelucon itu memang lucu, tapi ia tak pernah bisa menyampaikannya sebagai kelakar yang menarik. Ia pasti langsung keringat dingin ketika sampai gilirannya.

Hal yang semakin membuat gelisah, ia selalu merasa, apa pun leluconnya, tak pernah ada yang menganggap lucu. Ia pernah menceritakan lelucon politik paling lucu tentang Stalin yang setiap pagi selalu mengulangi lelucon yang sama pada para pengawalnya, dan para pengawal itu tetap tertawa; sebab bila ada yang tak tertawa, langsung ditembak. Itu satir, tapi tak seorang pun tertawa ketika ia menceritakannya. Lalu, di pertemuan berikut ia memilih humor asosiatif dan menyerempet porno. Jangankan ada yang tertawa, tersenyum tidak. Malah ia jadi bahan ledekan. Ia juga sudah mencoba teka-teki konyol, tetap saja dianggap kalah lucu dengan lelucon Pak Hakil yang sama sekali tak lucu.

Bahkan, yang membuatnya tak paham sekaligus geram, ia pernah dengan sengaja memilih lelucon yang sama dengan lelucon Pak Hakil: tentang kenapa anak babi selalu jalan tertunduk sebab malu punya ibu babi. Ketika Pak Hakil yang cerita, semua tertawa terbahak. Tapi saat ia menceritakan lelucon yang sama itu, semua diam. Ia tak bisa marah kepada Pak Hakil sebab sebagaimana “kode etik” sesama tahanan, Pak Hakil lebih terhormat (hukumannya lebih lama) dan lebih bermartabat (jumlah korupsinya lebih banyak).

Selama setahun mengikuti malam lelucon itu, ia tak pernah terpilih sebagai yang paling lucu. Ia menyampaikan rasa penasarannya kepada Sarusi, tapi rekan satu selnya menghindar menjawab. Ia yakin Sarusi menyembunyikan rahasia. Ia selalu memancing agar Sarusi menjelaskannya.

“Kau tak tahu?” kata Sarusi suatu malam, saat ia terus mendesaknya. “Kamu menutupi banyak fakta, hingga hanya kamu sendiri yang masuk penjara. Kamu melindungi semua atasanmu yang terlibat. Oleh mereka yang diselamatkanmu, kamu dianggap hebat, pahlawan penyelamat. Tapi bagi kawan-kawan di sini, kamu hanyalah seorang pengecut. Karena tak pernah berani menyebutkan nama-nama yang ikut korupsi bersamamu.” Sarusi menatapnya. Ia merasakan kesunyian yang membuatnya kehilangan semua kebanggaannya.

Membayangkan sisa hukuman dengan harus memikirkan dan menyiapkan lelucon setiap minggu sungguh-sungguh menjadi siksaan yang lebih mengerikan dibanding hukuman dalam penjara yang mesti dijalani. Membuatnya merasa seperti pecundang yang sedang dihukum dengan lelucon-leluconnya sendiri.

Jakarta, 2016-2017
Pahlawan | Cerpen Herumawan PA

Pahlawan | Cerpen Herumawan PA


Aku bingung hendak memakai kostum pahlawan siapa di upacara 17 Agustus di balai kota esok hari. Lalu kuputuskan memakai kostum seperti Pangeran Diponegoro. Semua atribut kostum Pangeran Diponegoro segera aku beli.

Tapi keesokan harinya, aku malah bangun kesiangan. Kulihat jarum panjang di jam dinding kamar sudah menunjuk angka sepuluh.

“Waduh, tidak sempat dandan ala Pangeran Diponegoro.” Aku panik. Lalu kuputuskan memakai kostum pejuang rakyat biasa. Aku mengambil sarung, menyampirkannya ke kaos putih yang kupakai. Tidak lupa, aku mencoret-coret wajahnya dengan spidol warna hitam, dan memakai ikat kepala warna merah putih.

Dengan segala atribut dadakan itu, berangkatlah aku ke balai kota. Tapi setibanya di sana, upacara 17 Agustus sudah usai. Kuputar tubuhku, meninggalkan balai kota. Tapi seorang teman memanggilku. Aku pun menengok.

Tampak ia tersenyum padaku. Lalu bertanya, “Kamu pakai kostum pahlawan siapa?” Rupanya ia heran melihat kostum pahlawan yang kupakai. “Pejuang rakyat biasa.” jawabku. Ia terkekeh mendengarnya.

“Lho memangnya kenapa?” tanyaku heran.

“Ah tidak, tadinya aku kira kamu itu pahlawan kesiangan dalam arti sebenarnya.” Ia menjawab seraya juga mengejekku. Aku tidak mau menyahutinya. Kutinggalkan dia yang sedang menertawai kostum yang kupakai ini. Berjalan menuju perempatan jalan, menunggu bus yang akan membawaku pulang ke rumah.

Begitu bus datang, kulambaikan tangan kiri. Bus berhenti sebentar dan aku segera naik. Di dalam bus, kulihat kursi di sebelah seorang kakek berseragam veteran tampak kosong. Aku segera duduk di situ.

“Mas, ongkosnya.” Kernet bus mengingatkanku. Aku merogoh saku kostum pejuangku. Kuambil uang lima ribuan yang kucel dan banyak lipatannya. Lalu kuberikan pada kernetnya. Uang kembalian dua ribuan kertas diberikannya padaku.

Kupandangi uang kertas dua ribuan kembalian kernet bus. Tertera sebuah tulisan “AWAS INI UANG PALSU!!!!” pada lembaran uangnya. Lalu di depan angka 2000 ditambahkan angka satu menggunakan pulpen hitam jadi tertulis Rp 12000. Dan gambar kumis Pangeran Antasari ditebalkan memakai pulpen hitam.

Pada awalnya, aku tidak begitu menghiraukannya. Tapi karena kakek yang duduk di sebelahku juga terus memandangi uang yang sedang kupegang, lidah ini kelu untuk tak bertanya.

“Kenapa Kakek ikut memandangi uang ini?” Aku lalu bertanya.

“Benar-benar tidak menghargai.” jawab si kakek. Rona wajahnya tiba-tiba berubah sedih.

“Memangnya kenapa, Kek?” tanyaku lagi. Si kakek terdiam. Tampak setetes air mata turun membasahi pipinya yang mulai keriput.

“Itu gambar salah satu Pahlawan yang turut berjuang mengusir penjajah tapi wajahnya dicoret-coret begitu, seperti tidak menghargai jasa dan perjuangannya saja.” Si kakek menjawab panjang lebar.

“Lalu bagaimana baiknya, Kek?” aku kembali bertanya. Lagi-lagi, tampak rona kesedihan terpancar di wajah si kakek.

“Tidak tahu.”

“Kakek tidak tahu caranya atau…” Kata-kata terputus. Aku tidak tahu harus ngomong apa lagi.

“Para pejuang seperti Kakek dan juga beliau tidak pernah minta dihormati apalagi dihargai, kami berjuang tanpa pamrih. Tapi jangan lantas melupakan begitu saja jasa-jasa kami.” Si kakek menjawab terbata-bata. Aku mengangguk pelan.

“Siapa nama Kakek?” Aku mencoba ingin mengenal si kakek lebih dekat.

“Bardi Wirakusuma.” Jawab si kakek.

“Heru.” Aku menjabat tangannya yang tampak mulai keriput. Si kakek hanya manggut-manggut. Lalu melepaskan jabat tanganku.

“Kakek tadi darimana?” tanyaku.

“Ikut peringatan 17 Agustus di Istana Negara, Nak.” jawab si kakek. Aku manggut-manggut. Lalu tanpa diminta, si kakek menceritakan tentang dirinya. Hingga perjuangannya melawan penjajah. Tapi belum tuntas ceritanya kudengarkan, kernet angkot sudah meneriakkan tujuan dimana aku turun.

“Saya turun disini dulu ya, Kek.” pamitku.

“Hati-hati ya, Nak.” Pesan si kakek. Aku tersenyum mendengarnya memanggilku Nak padahal kami berdua belum lama saling mengenal satu sama lainnya.

“Kiri, Pak.” teriakku. Bus berhenti lalu aku turun dengan kaki kiri terlebih dulu. Dari luar, aku melihat si kakek berdiri melambaikan tangan. Aku balas lambaian tangannya. Sejenak kupandangi tubuh si kakek dari kejauhan. Sosok yang masih tampak tegap meski usianya kuperkirakan sudah menginjak tujuh puluh tahun.

*****

Kutelusuri jalan kampung. Berpapasan dengan dua orang remaja putri tanggung.

“Mas, wajahnya kok dicoret-coret, mirip orang stres.” celethuk salah satunya ketika melihat wajahku. Aku langsung menunjuk ikat kepala warna merah putih yang kukenakan.

“Oooo.. jadi Pahlawan tho.” koor keduanya serempak. Kulanjutkan langkahku. Tapi baru beberapa langkah, aku berhenti. Sayup-sayup kudengar kedua remaja putri tanggung itu sedang berbincang tentang tugas sekolahnya.

“Kamu sudah dapat bahan buat tugas sekolah siapa sosok superheromu?”

“Belum, aku masih bingung. Kamu bagaimana?”

“Belum juga, kira-kira siapa ya?”

“Batman, Superman, Iron Man, Wonder Woman, Captain America bagus juga ya.” Entah kenapa, aku jadi ingin nimbrung dalam perbincangan keduanya.

“Bagaimana kalau superheronya para Pahlawan nasional yang gagah berani mengusir penjajah dalam perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia. Mereka tak punya kemampuan khusus apalagi peralatan canggih. Hanya bambu runcing.” Keduanya kaget mendengar aku yang tiba-tiba ikut campur. Lalu melenggos dan pergi berlalu tanpa berucap sepatah kata pun.

Aku mengurut dadaku sendiri. Membayangkan banyak generasi mendatang yang tak lagi menghargai apalagi mau mencintai para pahlawan negeri sendiri yang sudah berjuang melawan penjajah. Dan malah memuja-muja pahlawan ciptaan luar negeri.

“Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa Pahlawannya,” batinku sambil melepas ikat kepala warna merah putih lalu memandanginya lekat-lekat. Kuhela napas panjang. Kukembali melangkah tapi kali ini berbalut kesedihan di hati.


*****
Surau | Cerpen Artie Ahmad

Surau | Cerpen Artie Ahmad

Matanya yang tua seakan meneropong, mengamati surau di hadapannya dengan tatapan saksama. Surau yang terlihat tua, kuno, tetapi belum kehilangan gairahnya dalam menampung doa-doa. Semakin tua, surau yang sudah berdiri selama puluhan tahun itu masih terlihat kokoh, belum ringkih sama sekali. Meski beberapa bagian lantai papannya ada yang menganga. Tikar pandan untuk alas surau tampak masih mengilap. Tangga dan penyangga dari kayu jati terlihat semakin berwibawa seiring bertambahnya usia surau. Surau yang masih bersetia tegak di depan rumahnya, meski zaman selalu berubah. Meski surau itu kini tak seramai dulu lagi.


Namun, gelombang perasaan yang mengganggu itu selalu datang menyapa hati Wak Haji akhir-akhir ini. Tiga kemenakannya mengusulkan agar surau itu dipugar, diganti dengan mushala baru yang lebih modern. Kuncup surau dari papan yang berukir, seharusnyalah sudah digantikan dengan kubah berwarna biru cerah. Lantai papan yang ongak di beberapa bagian, sudah semestinya berganti dengan lantai keramik berwarna putih bersih. Lalu surau dengan model rumah panggung seperti itu, sudah ketinggalan zaman.

Maka, atas pemikiran mereka yang memiliki uang berlebih itu, surau akan diruntuhkan, digantikan mushala baru.

“Nanti para pekerja biar aku yang urus. Mereka para tukang yang aku pekerjakan selalu giat. Pekerjaan merenovasi surau itu tentu akan cepat selesai.” Ujar Makmun, kemenakan tertua Wak Haji. Dia bekerja di kontruksi bangunan, sebagai mandor.

“Nah, benar itu. Untuk material bangunan, biar aku dan Kang Muis yang urus,” timpal Misbah, kemenakan termuda Wak Haji.

Wak Haji terdiam sebentar, sebelum dia berujar.

“Sebaiknya, tak perlulah surau itu dipugar. Bangunannya masih bagus, belum ada yang perlu benar-benar diperbaiki.”

“Wak, seharusnya Wak tahu, surau itu bukan lagi sekadar milik Wak seorang.

Melainkan sudah menjadi milik banyak orang. Sebentar lagi puasa Ramadhan tiba, Wak. Tentulah surau itu harus bersolek, agar yang tadarus dan shalat nanti semakin bersemangat!” Muis menatap uwaknya sungguh-sungguh.

“Tapi, yang datang ke surau kita ini tak seramai dulu. Masjid besar di ujung kampung itu sudah cukup luas menampung mereka.”

“Wak, masalahnya surau kita sepi ya, menurutku karena keadaannya yang seperti sekarang. Bunyi kerat-kerat lantai kayu ini sungguh mengganggu kekhusyukan mereka yang sembahyang di sini,” sambung Muis santai.

“Kekhusyukan dalam bersembahyang bukan didasari di mana kita bersembahyang, Muis. Apalah artinya nanti jika surau tua ini digantikan mushala baru yang jauh lebih kokoh, tetapi tetap senyap dari doa-doa untuk Gusti Allah,” jawab Wak Haji sendu.

Namun, di akhir diskusi dengan ketiga kemenakannya, Wak Haji terpaksa menerima keputusan bahwa surau yang dia dirikan berpuluh tahun lalu itu akan dipugar. Surau dari papan akan digantikan tembok semen yang kokoh. Meski setelahnya, Wak Haji merasakan ada kekosongan di hatinya.

*****

Wak Haji lari terbirit-birit ketika mendengar suara mesin gergaji meraung-raung. Muis yang berbadan tegap sedang bersiap menggergaji pohon duku di samping surau.

“Mau kau apakan pohon duku itu, Muis?” Wak Haji berdiri bingung.

“Mau ditebang, Wak!” teriak Muis di tengah gemuruhnya suara bising gergaji mesin.

“Apa? Tebang? Tak salah kau, Muis? Mengapa lagi pohon duku itu kau tebang?”

“Untuk tempat parkir, Wak. Nanti kalau surau, ah, mushala baru sudah jadi, tentulah banyak yang datang bersembahyang di sini. Tentu kalau sudah seperti itu, kita perlu tempat parkir bukan?” Muis mematikan gergaji mesin yang sedang dia bopong.

“Keterlaluan kau, Muis. Aku memperbolehkan kau dan adik-adikmu merombak surau ini, tapi tak perlu juga kau robohkan pohon duku ini,” sahut Wak Haji dingin.

Muis menghela napas panjang. Ditatapnya wajah uwaknya sungguh-sungguh. Sejak kecil, waknya yang membesarkan dia dan kedua saudaranya. Wak Haji tak memiliki seorang anak pun. Kesepiannya ditutup dengan merawat tiga kemenakannya. Bagi Muis dan adik-adiknya, saat inilah dia membalas kebaikan sang wak. Merombak surau, menjadi mushala baru agar lebih hidup.

“Jadi untuk pohon duku ini uwak keberatan?” tanya Muis sekali lagi.

“Tentu saja. Kita tak perlu lahan parkir yang terlalu luas. Biarkan pohon duku ini tetap seperti semula,” ujar Wak Haji sembari kembali masuk ke dalam.

Kemarahannya tiba-tiba berkobar. Siapa yang menyangka jika dirombaknya surau akan merembet ke mana-mana. Wak Haji memejamkan mata. Disebutnya asma Allah berulang kali. Suara gergaji mesin yang bising tak terdengar lagi, tapi lamat-lamat dia masih mendengar suara Muis yang berbincang-bincang dengan seseorang di luar.

Surau yang dia dirikan benar-benar dipugar. Satu per satu papan dilepas, ditumpuk begitu saja di bawah pohon duku yang tak jadi ditebang. Tikar pandan digulung, Makmun menaruh gulungan tikar pandan itu di ruang tengah. Di tempat biasa Wak Haji menonton televisi. Tikar pandan itu tak diperlukan, mushala yang baru nanti akan menggunakan karpet baru yang jauh lebih lembut.

Wak Haji menatap gulungan tikar pandan itu dengan nanar. Tikar pandan itu yang menganyam almarhumah istrinya, Siti Nafsiah. Istri yang sangat disayanginya, yang meninggalkan dirinya lima tahun yang lalu. Bulir air mata Wak Haji mengalir perlahan. Bibirnya berbisik perlahan.

“Siti Nafsiah, istriku. Tikar hasil keterampilan tanganmu ini nantinya akan digantikan karpet baru.”

*****

Surau yang lama telah berganti menjadi mushala baru yang lebih modern. Kubah yang tak terlalu besar, tetapi berwarna biru cerah menambah kesan semarak. Empat pelantang suara dipasang menghadap ke empat penjuru.

“Nanti suara uwak akan menggema ke seluruh desa. Tak kalah dengan dengan suara dari masjid besar di ujung desa itu, Wak,” ujar Misbah bergurau saat waknya menanyakan apa gunanya memasang pelantang suara sampai empat buah.

Semuanya dirasakan Wak Haji dengan keterasingan yang tak bisa diungkapkan.

Dinginnya dinding dan lantai mushala tak pernah dia kenal sebelumnya. Suaranya yang menggema dari pelantang suara mushala baru terdengar asing di telinganya sendiri. Suara azan yang dia kumandangkan senantiasa berbaur dengan suara azan dari masjid besar di pinggir desa.

Awal mula mushala itu jadi, jamaah yang bersembahyang di sana cukup semarak.

Namun, tak lama kemudian, mushala Wak Haji sepi lagi. Tapi, bukan sepinya mushala baru yang membuat hati Wak Haji sedih. Dalam diamnya dia selalu merindukan suraunya yang lama. Surau dari papan, yang beralas tikar pandan.

Dulu dia membangun surau itu sedikit demi sedikit. Kayu-kayu yang kemudian menjadi bagian utuh surau dikumpulkannya sendiri. Wak Haji sendiri yang merancang surau panggung. Ukiran di atas atap, dia sendiri yang membuatnya. Kini surau yang dulu selalu ramai dengan anak-anak yang belajar mengaji, berganti menjadi mushala baru yang senyap.

Subuh belum benar-benar datang ketika Wak Haji membuka pintu mushala perlahan. Keadaan senyap, tak ada seorang pun di dalamnya. Meraba dalam gelap, Wak Haji mencari panel saklar lampu neon. Seperti yang dia perkirakan sebelumnya, tak akan ada banyak yang berubah. Meski sudah dipugar menjadi mushola yang baru, tetap saja hanya dia seorang yang setia mengulum doa-doa di sana.

Gusti Allah tak terlalu mempersoalkan di mana para hamba-Nya bersembahyang.

Yang terpenting dari semuanya adalah kekhusyukan yang ikhlas. Surau yang lama sesungguhnya tak menjadi soal, tapi bagaimana Wak Haji menolak mushala yang baru ini jika dipugarnya surau adalah bukti kasih dari kemenakan-kemenakan yang telah dibesarkannya. Tapi, seringnya memang begitu, balasan kebaikan terkadang luput dari apa yang diinginkan.

Wak Haji hanya duduk tepekur. Dia enggan mengambil mikrofon yang akan menyalurkan suaranya ke pelantang suara. Suara muazin masjid besar di pinggir desa sudah terdengar. Tapi, Wak Haji tak juga meraih mikrofon mushala baru miliknya. Dia beranjak, ke tempat wudhu. Setelahnya dia bersembahyang.

Lepas mengucapkan salam terakhir, Wak Haji merasakan ada yang menghentak dadanya. Napasnya tersengal. Dia jatuh di atas karpet sajadah baru yang terbentang di atas lantai mushala. Kedua matanya yang mulai kabur menangkap satu sosok yang berdiri di pintu mushala.

“Siti Nafsiah…,” erang Wak Haji perlahan.

Namun, bayangan almarhumah istrinya semakin lama semakin kabur lalu menghilang. Dari bibirnya yang bergetar menahan sakit, Wak Haji hanya mampu berucap perlahan, Allah, Allah, Allah…

Sebelum akhirnya matanya tertutup, bibirnya berhenti bergetar.

Artie Ahmad lahir dan besar di Salatiga, Jawa Tengah. Saat ini bekerja sebagai seorang karyawati swasta.
Robot Idaman | Cerpen Lish Adnan

Robot Idaman | Cerpen Lish Adnan


Danu ingin sekali memiliki robot-robotan. Teman-teman di sekolahnya banyak yang sudah mempunyai. Hampir setiap jam istirahat, mereka membicarakan soal robot miliknya yang hebat.

Siang ini, mereka sudah janjian akan ke rumah Andi untuk bermain robot-robotan. Danu yang tidak memiliki robot menjadi sedih. Tapi dia tetap akan datang ke rumah Andi.

Setelah makan siang di rumah, Danu pamit kepada Ibu untuk ke rumah Andi.

Rumah Andi sudah ramai oleh anak-anak. Ternyata tidak hanya anak laki-laki, ada anak perempuan juga. Tapi anak perempuan tidak membawa robot. Mereka hanya ingin menyaksikan para robot beraksi seperti halnya Danu.

Ciuuu… Ciuuu… Drottotototot….


Fire, fire…


Suara robot di halaman rumah Andi terdengar ramai sekali. Anak-anak berkerumun melihat aksi para robot. Danu melongo saat melihat robot milik Andi beraksi.

“Koda siap bertugas,” suara robot milik Andi yang bernama Koda. Usai mengeluarkan kata-kata seperti itu, robot tersebut memberi hormat lalu mulai berjalan dan mengeluarkan bunyi tembakan.

“Wah keren sekali robot milikmu, Andi,” komentar Reza.

“Iya, ia bahkan bisa berbicara,” kata Danu.

Anak-anak yang lain juga dibuat takjub dengan robot milik Andi. Robot itu bisa berjalan ke segala arah. Saat ada benda di depannya, robot tersebut bisa berputar sendiri mencari jalan lain.

******

Di rumah, Danu terus teringat dengan robot Andi.

“Ibu, Danu minta belikan robot-robotan dong! teman-teman Danu sudah punya,” pinta Danu.

“Kamu main pakai robot yang dulu saja, ya!” balas Ibu.

“Tapi, Bu, robot Danu yang dulu kan nggak bisa bergerak sendiri. Kalau yang sekarang lagi ngetren itu robot yang bisa berjalan sendiri, bisa mengeluarkan suara juga, Bu. Danu nggak mau main robot yang dulu. Belikan ya, Bu. Masa cuma Danu yang nggak punya,” rengek Danu.

“Uang Ibu nggak cukup buat beli robot seperti itu, Danu,” jawab Ibu sembari menyetrika pakaian.

“Ibu kamu benar, Danu. Lagi pula, mainan seperti itu biasanya kan musiman. Nanti ada lagi mobil-mobilan terbaru, kamu minta beli lagi. Sayang uangnya,” ujar Bapak yang sedari tadi mendengarkan percakapan antara Danu dan ibu.

“Kenapa sih, Bapak nggak kerja di kantor saja? Jadi kan punya uang yang banyak,” ucap Danu.

“Bekerja itu yang penting halal. Bekerja sebagai tukang servis lebih baik daripada Bapak nggak punya pekerjaan?” ucap Bapak terkekeh.

Bapak memang orang yang sabar. Tapi tidak dengan Danu. Dia malah manyun mendengar jawaban Bapak dan segera pergi ke kamarnya.

*****

Gara-gara tidak dibelikan robot, Danu ngambek. Ia jadi jarang berbicara dengan ibu dan bapak.

Setelah dua hari ngambek, Danu tak tahan juga. Dia akhirnya meminta maaf.

“Sudah capai ngambeknya?” ledek Bapak.

“Hehee… ngambek itu nggak enak, Pak,” balas Danu.

“Jadi kamu sudah melupakan mainan robot itu?” tanya Ibu.

Danu menggeleng dengan cepat sambil tersenyum.

“Danu akan menabung. Kata Bu Guru, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Jadi, sebagian uang saku Danu akan ditabung. Nanti kalau sudah satu bulan, uangnya buat beli mainan robot yang keren,” jelas Danu dengan semangat.

Ibu dan Bapak mendukung Danu untuk menabung.

Sebelum berangkat sekolah, Danu memasukkan setengah dari uang sakunya ke dalam celengan. Dia takut kalau sudah dibawa ke sekolah akan dipakai untuk jajan.

Dua minggu sudah Danu menabung. Dia tidak jajan banyak di sekolah. Akibatnya, Danu cepat merasa lapar. Dia langsung makan setelah pulang sekolah.

Siang itu, saat Danu sedang menonton TV, Bapak pulang dan duduk di samping Danu.

“Danu, ini buat kamu!” kata Bapak sambil memberikan sebuah kantong plastik kepada Danu. Bapak tersenyum ceria saat memberikannya.

“Ini apa, Pak?” tanya Danu penasaran.

“Buka saja!” kata Bapak.

Danu bertanya-tanya apa sebenarnya isi dari kantong plastik yang diberikan Bapak. Seperti ada kotak di dalamnya. Jarang sekali Bapak memberikan sesuatu seperti itu. Padahal hari itu juga bukan ulang tahunnya.

“Woah, Pak, ini robot-robotan buat Danu?” teriak Danu kegirangan.

“Iya, itu buat kamu.”

“Terima kasih ya, Pak. Danu senang sekali. Ini bahkan ada remot kontrolnya. Keren sekali!” ucap Danu sembari mengamati robot yang berada di tangannya.

“Iya. Bapak juga bahagia bisa memberikanmu mainan seperti itu,” ucap Bapak dengan mata berkaca-kaca.

Ibu datang menghampiri. Rupanya Ibu sudah tahu perihal robot itu.

“Ada yang memberikan robot itu pada Bapak sewaktu membetulkan radio miliknya. Katanya robot-robotan itu milik anaknya yang sudah SMA. Robot itu juga sudah rusak. Bapak coba membetulkannya dan ternyata bisa,” cerita Bapak panjang lebar.

“Danu senang sekali, Pak. Maafkan Danu karena pernah merendahkan pekerjaan Bapak sebagai tukang servis barang elektronik,” kata Danu sambil memeluk Bapak.

“Bapakmu itu memang hebat. Kamu juga hebat karena mau menabung,” ucap Ibu bahagia.

Danu bahagia sekali. Robot idaman sudah berada di tangannya. Uang yang sudah ditabung selama ini akan dia simpan untuk keperluan lain.