Orang yang Tak Bisa Berbohong | Cerpen Mardi Luhung


Siapa pun tahu, Dia tak bisa berbohong. Apa yang diomongkan selalu benar. Dan selalu tepat pada sasaran. Mangkanya, di kampung, jika ada persoalan penting dan membutuhkan orang yang tak bisa berbohong, maka orang-orang selalu menunjuk Dia. Dan menyatakan: “Dalam sejarah kampung, kita beruntung mempunyai warga seperti Dia. Sehingga, kebenaran selalu dapat terjaga. Kebenaran, yang bagi orang lain sulit untuk diomongkan, tapi bagi Dia selalu saja dapat diomongkan.” Tapi, kini, orang-orang di kampung mencuekkan dia. Dia ada atau tak ada, tak ada yang peduli. Jadi, semacam pepatah: “Datang tanpa muka, pergi tanpa punggung,” itulah Dia. Dia yang mungkin lebih banyak hidup dan bergerak sendirian. Dia yang ketika berjumpa dengan orang-orang, lebih banyak dijauhi. Dan lebih banyak seperti angin. Terasa tapi tak terjamah.

Kenapa orang-orang memperlakukan Dia seperti itu? Itu ada kisahnya. Begini: dulu ada peristiwa yang menggemparkan, yang terjadi di kampung, tentang uang yang hilang. Uang itu milik pak Zain. Uang hasil penjualan tiga ekor sapinya. Lalu orang-orang mencarinya. Dan pencarian itu pun mengerucut pada diri Gondo. Pemuda kampung yang luntang-lantung. Yang ketika ditangkap, sedang termenung di bawah pohon trembesi. Dari kantong tas kresek Gondo, orang-orang menemukan sejumlah uang. Jumlah uang itu demikian banyak. Yang tak mungkinlah dipunyai Gondo yang luntang-lantung itu.

“Kau pencurinya?”

“Pencuri apa?”

“Pencuri uang pak Zain!”

“Tidak. Aku bukan pencuri!”

“Lalu, darimana kau dapatkan uang sebanyak ini?”

“Aku menemukan di jalan.”

“Jalan mana?”

Sayangnya, Gondo lupa di jalan mana menemukan uang itu. Sehingga hanya bisa menjawab: “Mungkin, mungkin, dan mungkin. Ya, mungkin di jalan ini, mungkin di jalan itu, juga mungkin di jalan ini dan itu.” Akibatnya, orang-orang jadi marah. Merangsek. Dan ingin menghakimi.

“Kita hajar saja dia!”

“Dia berlagak bego!”

“Ini sudah jelas. Dia pencurinya!”

“Kita tanyai pelan-pelan!”

“Tapi dia sudah mempermainkan kita!”

“Hajar dulu saja!”

Tepat ketika suasana menaik. Suasana ketika orang-orang akan bertindak, tiba-tiba Dia muncul. Dan entah kenapa, orang-orang jadi menenang. Dan suasana yang semula panas jadi mendingin. Lalu ada seseorang yang berkata: “Hei, orang yang tak pernah berbohong, katakan, apa benar Gondo yang mencuri uang pak Zein?”

“Katakan, ayo, katakan!”

Dia pun menghampiri Gondo. Berbisik. Gondo pun menjawab dengan bisik. “Gondo memang menemukan uang itu di salah-satu jalan yang mengarah ke luar kampung. Tapi Gondo lupa itu jalan yang mana. Sebab saat itu malam hari,” begitu kata Dia setelah saling berbisik dengan Gondo.

“Itu tak mungkin!” sahut seseorang.

“Dia kok jadi begini,” sahut yang lain.

“Dia sudah mulai berubah!”

“Masak, menemukan uang kok lupa tempat di mana menemukannya.”

Dia tersenyum. Lalu menambah: “Cobalah kalian pikir, kenapa Gondo lupa di jalan mana uang itu ditemukannnya. Sebab, semua jalan yang mengarah ke luar kampung, terutama malam hari sama. Gelap, rusak, dan tak ada tanda-tanda arah jalannya. Hayo siapa yang salah. Jika Gondo tak mengenali lagi di jalan mana uang itu ditemukannya?”

Orang-orang tercekat.

“Jadi, daripada ribut, ambil saja uang yang ada di tas kresek Gondo. Lalu segera kita perbaiki jalan-jalan yang rusak itu.”

Orang-orang saling berpandangan. Dan meski di hati mereka masih tak terima, tapi apa mau dikata. Omongan yang baru saja mereka dengar itu benar adanya. Dan memang, sudah seringkali, mereka sendiri mengeluh atas kondisi jalan-jalan yang menghubungkan kampung mereka dengan kampung-kampung yang lain. Bahkan, pernah terjadi, ada orang dari luar kampung yang ingin memasuki kampung mereka di malam hari, tapi tak sampai-sampai. Jadinya, bagi orang dari luar kampung, hanya berani mendatangi kampung mereka di siang hari. Sedangkan, bagi mereka sendiri (orang kampung itu) pun enggan untuk bepergian ke luar kampung di malam hari. Di samping mereka sulit mendapat arah ke luar, juga merasa selalu saja kembali ke tempat semula. Dan atas hal ini, maka kampung mereka disebut sebagai Kampung Siang Hari.

“Benar juga.”

“Dia memang tak berbohong.”

“Jadi, ini semestinya urusan transportasi kampung.”

“Tapi, urusan transportasi kampung tak punya dana untuk itu.”

“Siapa yang mesti memberi dana?”

“Bendahara.”

“Aduh, seumur-umur yang ada, bendahara juga tak punya dana untuk itu.”

“Loh pak kepala kampung bagaimana?”

“Pak kepala kampung juga tak punya dana.”

“Jadi?”

Percakapan itu pun berhenti sampai di situ. Memang, selama ini mereka abai terhadap kondisi jalan-jalan yang menghubungkan kampung mereka dengan kampung-kampung yang lain. Padahal, kampung mereka jauh berada di pelosok. Tak ada angkutan umum yang beroperasi. Sedangkan, untuk jalan kaki, dibutuhkan waktu kurang lebih tiga-hari dua-malam. Untuk naik motor minta ampun susahnya. Dan seminggu ke depan, semua penduduk kampung pun bergotong-royong memperbaiki jalan-jalan yang mengarah ke luar kampung itu. Tanda-tanda arah jalan diperjelas. Penerangan ditambahi. Dan atas usaha pak kepala kampung, mesin diesel pun didatangkan lagi. Dan menurut pak kepala kampung juga, sekian tahun ke depan, akan diusahakan, bagaimana jaringan listrik dapat merambah kampung mereka.

“Nah, kini kita mesti membikin rapat pembentukan panitia,” kata pak kepala kampung ketika urusan gotong-royong memperbaiki jalan-jalan selesai.

“Rapat pembentukan panitia?”

“Ya, rapat pembentukan panitia penerimaan jaringan listrik,” tandas pak kepala kampung.

“Dan untuk lebih baiknya, kita undang juga orang yang tak bisa berbohong itu,” sahut seseorang.

Maka, empat hari kemudian rapat panitia itu digelar di balai kampung. Rapat itu begitu meriah. Usulan-usulan pun dilontarkan. Lalu, setelah rapat hampir selesai, barulah Dia, orang yang tak bisa berbohong itu, dipersilakan memberikan masukannya.

“Saudara-saudara, selanjutnya, mari kita sambut orang yang tak bisa berbohong.”

“Akurrr!”

Dan Dia pun maju. Tatapannya biasa-biasa. Lagak-lagunya juga biasa-biasa. Tepat di podium, Dia ngomong begini: “Selamat atas terbentuknya panitia. Saya cuma berharap, kampung kita tetap aman-aman. Sebab, semakin kampung terang, nanti akan semakin banyak uang yang hilang.” Byar! Orang-orang yang mendengar pun ribut. Kasak-kusuk. Bahkan ada yang mulai gremang-gremeng. Tak percaya, jika Dia, yang dianggap tak bisa berbohong itu, akan ngomong seperti itu. Dengan kata lain, jika nanti kampung sudah terang, maka akan banyak uang yang hilang. Dan itu tentunya, akan banyak pencuri yang berseliweran. Mungkin-mungkin, salah-satunya adalah diri mereka sendiri yang dituduh pencuri. Gila!

“Ya, itu omongan gila.”

“Tak masuk akal!”

“Dia sudah meracau!”

“Kemarin Dia membela Gondo, karena jalan-jalan yang mengarah ke luar kampung gelap!”

“Kini, ketika mau diterangkan, malah memutar-balikkan fakta!”

“Sudah, jangan lagi dipercaya!”

“Turunkan Dia!”

“Turunkan cepat!”

Dan Dia pun diturunkan dengan paksa dari podium. Meski pak kepala kampung mencoba menengahi, tapi orang-orang sudah tak mau percaya. Seperti angin gunung yang gesit, Dia pun dihentakkan. Dia terjerembab. Tersungkur. Dan sejak itu, sejak panitia penerimaan jaringan listrik bekerja, Dia dilupakan. Rasanya, setiap orang yang ada di kampung, sudah tak mau lagi menerima keberadaannya. Dia ada atau tak ada, dianggap tak ada. Sampai listrik benar-benar merambah ke kampung. Sampai nama kampung mereka, Kampung Siang Hari diganti menjadi Kampung Terang Benderang.

Kampung yang mudah untuk didatangi kapan pun dan oleh siapa pun. Dan kampung, yang entah kenapa, mulai terlanda kabar, bahwa ada dari penduduknya (yang kebetulan duduk di jajaran panitia penerimaan listrik), telah menyalahgunakan sebagian dana yang ada. Akh, orang-orang pun kaget. Terus teringat pada omongan Dia, orang yang tak bisa berbohong itu, saat di podium dulu. Tapi sayangnya, rasa malu orang-orang telah begitu tebal. Sehingga, tetap saja mencuekkan Dia. Sampai kini.

Mardi Luhung: Lahir di Gresik, Jawa Timur, 5 Maret 1965. Puisinya tersebar di sejumlah media.

Kisah Kegembiraan Penghabisan | Cerpen Nicko Fernando


Malam itu, aku dan adik-adikku berkumpul di samping lahan kosong, yang tak lama lagi bakal ditanami sebuah gedung. Seperti gedung-gedung lain di kota kami. Seperti biasa, usai menghabiskan pagi hingga petang untuk bekerja, aku dan adik-adikku menghabiskan malam untuk saling bercerita.

Beberapa waktu lalu, tempatku dan adik-adik berkumpul masih penuh pepohonan. Namun kini pohon-pohon itu tumbang, digergaji, dibakar dan dibawa oleh orang-orang entah ke mana. Cuma tertinggal sebuah pohon, yang besok pun bakal tumbang pula. Di bawah pohon itulah, aku dan adik-adikku berkumpul.

Ucup, Ujang, dan Budi sudah tiba. Kedua adikku yang lain belum datang. Mungkin mereka masih di perjalanan.

“Ucup, bagaimana koranmu? Semua terjual?” tanyaku.

“Seperti kaulihat, Kak. Aku tak membawa apa-apa. Semua habis terjual.”

“Syukurlah,” batinku. “Ujang, Budi. Koran kalian juga habis terjual?”

“Ya, Kak,” jawab Ujang.

Budi hanya diam.

“Yei, cerita belum dimulai bukan? Aku belum ketinggalan bukan?” ucap Maman, lantang, mengagetkan aku, Ucup, dan Ujang.

Aku tersenyum melihat Maman dan Ucok yang baru datang. Kini, semua adikku telah berkumpul.

Kulihat Maman dan Ucok masih membawa koran. Koran mereka tidak terjual.

“Maman, Ucok, ke mana saja kalian? Tak seperti biasa, malam ini kalian telat datang.”

“Keliling kota, Kak. Menghabiskan koran.”

“Ya, Kak. Seharian ini koran kami tak laku,” timpal Ucok.

“Baiklah, biar Kakak yang menjual koran kalian besok,” ucapku. “Mari kita mulai cerita. Malam ini, Kakak hendak bercerita tentang Abu Nawas. Adakah yang sudah tahu?”

“Aku, Kak,” sahut Maman. “Aku pernah mendengar kisah Abu Nawas dan seekor monyet.”

“Ya, lalu?”

“Lalu aku lupa ceritanya, Kak.”

“Dasar!” ucap Ucup.

“Hu…!” sahut Ujang dan Ucok.

Maman tersenyum meringis sembari menggaruk kepala.

“Baiklah, Kakak mulai cerita,” ucapku.

Abu Nawas seorang sufi dan penyair. Aku ragu menyampaikan kata “sufi” dan “penyair” kepada adik-adikku. Mereka masih kecil dan kukira belum perlu tahu makna kata-kata itu. Lagipula, apalah arti sufi dan penyair bagi adik-adikku.

Mungkin mereka juga belum perlu tahu sejarah Abu Nawas yang sering berpura-pura gila. Abu Nawas berpolah begitu agar raja tak memilih dia menjadi hakim. Abu Nawas khawatir jika harus menjadi hakim, karena merasa belum mampu bersikap adil.

“Kisah Abu Nawas dan seekor monyet,” ucapku mengawali cerita. “Kala itu suatu keramaian mengejutkan Abu Nawas yang sedang jalan-jalan. Kata orang-orang, dalam keramaian itu ada pertunjukan monyet ajaib. Monyet itu memahami percakapan orang-orang,” ucapku sembari memandang adik-adikku.

Mereka diam. Mungkin sedang mendengarkan aku atau malah melamunkan hal lain.

*****

“Siapa pun yang mampu membuat monyetku mengangguk, akan mendapat hadiah uang dariku,” begitulah ucap tuan pemilik monyet.

Abu Nawas datang dan menantang monyet itu. Ya, Abu Nawas sudah menunggu-nunggu saat itu. Sejak tadi tak ada seorang pun yang mampu membuat monyet itu mengangguk.

“Tahukah engkau siapa aku?” Abu Nawas bertanya

Si monyet menggelengkan kepala.

“Apakah engkau takut kepadaku?” Kembali Abu Nawas bertanya.

Si monyet tetap menggelengkan kepala.

“Apakah engkau takut kepada tuanmu?”

Si monyet diam.

“Bila engkau hanya diam, kuadukan engkau kepada tuanmu,” lanjut Abu Nawas mengancam si monyet.

Akhirnya monyet itu mengangguk. Dan, Abu Nawas pun mendapat hadiah uang dari tuan pemilik monyet.

Tuan itu malu sekaligus jengkel. Lalu dia pun melatih monyetnya untuk tidak menggelengkan kepala. Tuan itu bahkan mengancam si monyet bila menggelengkan kepala, apalagi kepada Abu Nawas.

Keesokan harinya, Abu Nawas datang kembali ke pertunjukan monyet. Segera dia melempar pertanyaan kepada monyet itu. “Tahukah engkau siapa aku?”

Si monyet mengangguk.

“Apakah engkau tidak takut kepadaku?”

Si monyet mengangguk.

“Apakah engkau tidak takut kepada tuanmu?”

Si monyet tetap mengangguk. Si monyet ternyata lebih takut menghadapi ancaman dari tuannya ketimbang menjawab pertanyaan Abu Nawas.

Abu Nawas pun mengeluarkan bungkusan kecil berisi balsam panas.

“Tahukah engkau guna balsam ini?”

Si monyet mengangguk.

“Baiklah. Kugosok badanmu dengan balsam ini ya?”

Si monyet tetap mengangguk. Abu Nawas pun mengoleskan balsam ke tubuh si monyet. Monyet itu kepanasan dan panik. Namun tanpa menghiraukan si monyet, Abu Nawas membuka bungkusan balsam lebih besar.

“Maukah engkau bila semua balsam ini kuoleskan ke badanmu?”

Si monyet ketakutan. Ia berjalan mundur dan terpaksa menggelengkan kepala kepada Abu Nawas.

*****

Begitulah, aku, Ucup, dan Ujang tertawa. Maman tertawa pula , bahkan paling keras. Ucok cuma tersenyum, sedangkan Budi hanya diam.

Tawaku, Ucup, dan Ujang mereda. Namun Maman masih tertawa.

“Cerita lagi, Kak!” ucap Maman setelah berhenti tertawa.

“Baiklah,” ucapku.

Aku melanjutkan cerita. Kulihat Ucup, Ujang, Maman, dan Ucok terus tersenyum mendengar ceritaku. Sesekali Maman menyela, sembari mereka-reka lanjutan ceritaku. Rekaan Maman selalu salah dan dia selalu kena ujaran celetukan dari adik-adikku yang lain.

Gelak tawa, mulut menguap, dan pukulan adik-adikku kepada Maman meramaikan malam itu. Suara bus pinggir jalan, klakson, dan desingan suara mesin motor memaksaku bercakap lebih lantang agar suaraku terdengar oleh adik-adikku.

Malam itu, bintang-bintang mengedipkan sinar. Menghambur di langit mendampingi bulan agar tak bersinar sendirian. Angin malam yang berembus menggugurkan daun-daun kering. Angin malam berembus kembali. Kali ini lebih kencang. Aku dan adik-adikku menggigil diterpa angin malam.

Tak jauh di belakangku, kusaksikan gemerlap cahaya merah, ungu, dan putih lampu-lampu gedung. Di samping kiriku ada pula lampu di puncak tiang pinggir jalan memancarkan cahaya kuning.

Pikiranku melayang ke masa lalu. Dahulu, tempat itu tak segersang sekarang. Ada pohon dan sawah. Warga sering berkumpul pada waktu malam untuk saling sapa dan bertanya kabar.

Sore hari halaman masjid ramai oleh anak-anak kecil yang bermain bola. Selagi mereka bermain, ibu dan kakak perempuan mereka menyapu halaman rumah. Di jalanan desa, para bapak dan kakak laki-laki mereka berlalu sembari membawa ketela, dedaunan, dan bawaan lain dari sawah atau ladang.

Lalu masa itu tiba. Orang-orang asing datang dan memaksa kami pindah ke tempat lain, entah ke mana. Tentu saja semua orang menolak. Aku juga menolak pindah. Namun kami tak berdaya. Mereka mengatasnamakan hukum, undang-undang, kesejahteraan, bahkan mengancam.

Kami kalah. Tempat kami menjadi proyek perluasan wilayah kota dan pembangunan jalan.

Aku menemukan Ucup, Ujang, Maman, dan Ucok saat bersembunyi dari kejaran orang-orang pasar. Mereka sekawanan pencuri. Budi kutemukan berdiam diri berhari-hari di lahan penggusuran. Aku dan mereka sama. Sama-sama telantar dan tidak tahu mesti berbuat apa.

Malam bertambah malam. Aku dan adik-adikku larut dalam cerita.

“Sudah, Kakak kehabisan cerita Abu Nawas. Sekarang Kakak ceritakan kisah lain.”

“Apa, Kak?”

“Dengarkan saja!” ucapku membalas Maman. “Suatu hari, seorang pemburu mencari harimau di hutan. Setelah lama berkeliling, pemburu akhirnya menemukan seekor harimau. Segera pemburu itu mengambil ancang-ancang dan bersiap menembak.”

“Menembak pakai apa, Kak?”

“Senapan, Man.”

“Senapan itu apa, Kak?”

“Senapan itu semacam alat tembak yang dipakai tentara, Man.”

“Oh, ya ya ya. Aku pernah melihat di tipi pos ronda,” balas Maman.

“Ya, begitulah, Man,” sahutku.

“Kakak lanjutkan cerita!”

“Ya, Kak,” sahut Ucup, Ujang, Maman, dan Ucok serentak.

“Setelah bersiap-siap, pemburu itu melepas tembakan,” lanjutku. “Dor!” capku lantang.

Ucup, Ujang, Maman, dan Ucok tersentak. Kaget.

“Tembakan pemburu itu meleset. Harimau itu kaget, lalu bangkit dan mengejar sang pemburu. Pemburu berlari kencang hingga akhirnya sampai di ujung jurang. Pemburu yang ketakutan dan panik segera berdoa kepada Tuhan.”

“Kenapa diam, Kak?” sela Maman melihat aku menghentikan cerita.

“Kau tahu apa yang terjadi pada pemburu itu saat berdoa, Man?”

“Harimau memakannya.”

“Tidak. Harimau tidak memangsanya.”

“Kok bisa?”

“Ya, saat pemburu itu membuka mata, ternyata si harimau sedang menadahkan kedua kaki depan. Pemburu heran, lalu bertanya kepada harimau. Ternyata harimau itu sedang berdoa sebelum makan.”

Maman tertawa pingkal-pingkal. Begitu pula Ucup, Ujang, dan Ucok.

“Lagi, Kak!” ujar Maman yang masih tertawa.

“Baiklah. Ini cerita terakhir malam ini,” balasku.

*****

Suatu ketika tukang becak sedang melintasi jalan. Di ujung jalan itu ada plang bertuliskan “Becak Dilarang Masuk”. Tukang becak mengabaikan peringatan itu. Seorang polisi tahu dan menyemprit.

“Apa engkau tak melihat plang itu? Becak dilarang masuk!” Polisi itu membentak si tukang becak.

Tukang becak itu menjawab. “Oh, saya lihat, Pak. Tapi gambar becak di plang itu kosong, padahal becakku berpenumpang. Jadi boleh masuk.”

Polisi kembali membentak, “Bodoh! Apa kamu tak bisa membaca? Di bawah gambar itu ada tulisan becak dilarang masuk.”

“Tidak, Pak. Saya tak bisa membaca. Kalau bisa membaca, saya bakal jadi polisi seperti sampean. Tidak jadi tukang becak.”

*****

Ucup, Ujang, Maman, dan Ucok tertawa. Budi cuma tersenyum mendengar ceritaku.

Gelak tawa menutup malam. Tak lama usai mendengar ceritaku, Ucup, Ujang, Maman, dan Ucok tertidur. Mereka terlelap.

Budi beranjak dari duduknya, lalu mendekatiku.

“Kak, besok kita tinggal di mana?”

“Tidurlah, Budi! Besok kita pasti mendapat tempat tidur baru,” ucapku menenangkan Budi.

Nicko Fernando, lahir di Grobogan, 20 Agustus 1995, bergiat di Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS)

Ampo | Cerpen Andri Saptono


Guru Atma menatap hujan yang belum berhenti turun di beranda. Hidungnya kembang kempis demi menghirup ampo, atau aroma tanah selepas hujan itu. Ia tersenyum menatap hujan yang pertama turun di kota ini setelah sekian lama hari-hari kota ini tengadah menatap matahari yang memanggang. Kopi di sampingnya mendingin ia biarkan. Radio yang kemrosok karena kehilangan sinyal, juga tidak ia pedulikan. Hanya rintik hujan yang ia dengarkan. Hanya bau ampo yang menguasai keheningan benaknya.

Ah, ampo ini adalah aroma masa kecilnya dan juga gairah hidupnya sebagai guru honorer di kota pinggiran yang penuh suka duka ini.

Kata orang guru Atma itu aneh. Mengabdi sebagai guru di kota pinggiran ini. Ia mengajar di sebuah SMP yang berbasis agama, yang hampir putus asa mendidik kebaikan kepada siswanya. Pun masyarakat nyaris tak peduli dengan pendidikan atau agama. Mereka hanya bekerja menghalalkan segala cara. Kejahatan adalah sebuah kebiasaan yang tak bisa dihentikan, apalagi sekadar pendidikan agama di madrasah.

Namun guru Atma adalah seorang yang impulsif. Kebetulan saja ia ditawari seorang temannya yang menjadi kepala sekolah di sini.

Kau masih mau menjadi guru? Aku mau menawari kamu mengajar di sekolahku. Kebetulan sekolahku butuh guru bahasa. Tentu ijazahmu lebih berguna di sini. Soal tempat tinggal, aku ada sebuah rumah kosong di sini. Dan kurasa ini lebih baik daripada menjadi pelukis potret di kampung sana?

Begitulah hanya karena tawaran dari temannya itu, guru Atma mengangkat koper pakaiannya. Juga lantas alat-alat lukis itu ia susulkan belakangan. Aktivitasnya yang kedua ini tak ingin ia tinggalkan. Entah ia ingin menggambar apa di kota baru ini. Kota yang nyaris separuhnya telah gosong oleh kemarau panjang. Sedang separuhnya lagi terbakar karena kekacauan dan kerusuhan. Mungkin guru Atma benar-benar berminat melukis kota ini yang masyarakat nyaris tak peduli dengan pendidikan, agama, bahkan Tuhan.

“Aku gaji kau disini sesuai dengan kemampuanku. Maklum, sekolah tak banyak muridnya. Yang penting kau bisa makan dan hidup di sini. Aku tahu kau pasti mau. Aku kenal kau. Aku yakin kau masih idealis seperti zaman kuliah dulu. Bukan seperti mereka yang gemar menjual ijazah S1 untuk mencari pekerjaan atau menjadi pegawai negeri.”

Kawannya itu memang tak perlu membujuk guru Atma. Sekarang guru Atma sudah 1 tahun mengajar di sekolah itu. Sekolah yang mengajarkan agama dan pelajaran umum menjadi satu. Kawannya yang idealis itu masih percaya bahwa pelajaran agama bisa mengubah wajah bopeng kota ini menjadi lebih baik. Ia malah takut jika dibuat pelajaran umum saja.

Pun ia juga melepaskan diri dari pemerintah yang setengah-setengah mau membantunya. Memberi bantuan tetapi juga memotong untuk biaya administrasi, biaya ketebelece, dll. Mereka juga suka minta begini dan begitu kalau sudah merasa pernah memberi bantuan sesuatu. Mata pelajaran ini dihilangkan, yang itu ditambah, diganti kurikulum baru, pelajaran agama juga tak perlu banyak-banyak, sebagai selingan saja. Maka, si kawan guru Atma itu pilih berlepas diri dari pemerintah. Perusahaan tekstil dan kebun sawitnya di Sumatra itu ia jual untuk membuat sekolahan di Kota Solo ini.

Sekarang, lima tahun berdiri sekolah ini masih tak banyak berubah. Jumlah muridnya hanya satu kelas semua. Kelas I satu kelas, kelas II satu kelas, dan kelas III satu kelas. Lulusannya bisa dihitung dengan jari setiap akhir tahun. Tapi sekolah itu tetap bertahan. Pemerintah juga enggan menutupnya. Mereka khawatir jika tidak ada penduduk di kota ini yang sekolah, maka akan menjadi sorotan dunia. Mereka lebih takut di-bully oleh netizen di media sosial.

Guru Atma mengajar bahasa di kelas I sampai III. Ia pun senang-senang saja. Tidak peduli dengan gajinya. Atau jumlah jam mengajar. Ketika longgar, ia selalu mudah tergerak untuk berada di kelas dan mengajarkan bahasa Indonesia dengan baik dan benar kepada anak-anak itu. Walaupun anak-anak kadang kala tak peduli, tidak memperhatikan, memainkan gawai di kelas, atau malah ada yang pacaran di WC guru. Guru Atma sebenarnya mengetahui hal itu. Tapi ia tetap tersenyum. Mengajar dengan cara yang tak biasa. Kadang anak-anak malah merasa heran dengan kebiasaan guru baru itu. Harusnya guru itu tidak bertahan sampai setahun ini. Harusnya ia sudah hengkang dari dulu-dulu seperti guru lainnya. Ataukah ia memang orang-orang gila seperti sang kepala sekolah yang suka berpenampilan mirip koboi itu?

*****

Jam sebelas berdenting di belakang punggung guru Atma. Gerimis masih nggrejeh untuk pertama kalinya hujan selama satu tahun kemarau ini.

“Ini hujan pertanda baik atau buruk?” tanya suara yang tiba-tiba naik dari halaman. Pak kepala sekolah ternyata yang datang. Sejak Magrib sampai sekarang masih gerimis tak mau henti-henti.

Guru Atma tersenyum menatap temannya datang, lalu kembali pada gerimis di halaman, sejenak beralih pada seekor bangkong yang keluar dari balik pot yang terbalik.

“Tanya pada bangkong itu. Dia pasti lebih tahu?”

“Andai saja ia bisa bicara, kawanku.”

“Tentu ia bisa bicara.”

“Ya, tapi aku kan tak tahu bagaimana bahasa mereka?”

“Oh, kau tak perlu menjawabnya. Cukup dengarkan saja.”

“Benarkah. Aku tak perlu mengajaknya bicara, cukup mendengarkan saja mereka berkata.”

“Ya, kita tunggu saja. Semoga saja ia mau bicara soal hujan sesore ini.”

Tapi, si katak besar tidak mau bicara. Si bangkong hanya berdiam di halaman, membiarkan tubuhnya yang bintil-bintil seperti kutil itu terguyur gerimis. Sesekali lidahnya menjulur kalau ada serangga kecil atau nyamuk yang melintas. Makhluk-makhluk itu akan bermalam selamanya di perut sang bangkong itu.

“Sial! Ia sepertinya tak mau bicara!”

“Ya, bahkan bangkong itu pun tak mau bicara pada kita.”

“Ah, aku jadi takut dengan amsal hujan pertama kali ini kawan.”

“Tapi aku masih punya sedikit harapan baik. Aku masih punya firasat itu. Sang Pemilik Hujan tidak serta merta murka. Ia masih menanti kita menjadi orang baik yang disukai-Nya.”

“Tapi dari segi apa kau bisa bicara tentang harapan baik?”

“Ampo! Ya, kau bisa cium ampo tanah halaman ini?”

Si kepala sekolah mengangguk. Sementara guru Atma membuatkan kopi untuk kawannya. Seperti biasa keduanya akan berbincang panjang tentang hujan di beranda ini.

*****

“Ampo ini terasa gurih dan nikmat seperti masa kecil kita,” kata pak kepala sekolah.

“Ya, aku juga merasa. Semoga di tempat lain juga seperti yang kita rasakan,” tukas guru Atma.

“Ah, aku sangsi di kota terkutuk ini.”

“Tidak, tidak jangan sebut kota ini terkutuk. Kau yang mengajak aku ke sini. Kau sudah lama tinggal di sini. Aku tak mau mendengar ungkapan keputusasaan dari kamu.”

“Yah, begitulah, terkadang aku lelah saja. Maafkan aku.”

“Kau tentu masih ingat cerita yang disampaikan guru SD kita itu. Tentang dua orang pengendara yang datang ke suatu kota. Ketika mereka sama-sama kembali dan ditanyai tentang pengalaman mereka tinggal. Seorang menjawab bahwa kota itu busuk dan penduduknya jahat. Ia tak kerasan tinggal di situ. Sementara orang kedua, ia menjawab bahwa kota itu menyenangkan, penduduknya ramah kepadanya. Dan ternyata kemudian diketahui bahwa yang membuat mereka tidak kerasan tinggal adalah diri mereka sendiri. Yang jahat tidak kerasan tinggal. Yang baik kerasan tinggal. Hati itu cermin pemiliknya sendiri-sendiri.”

“Ya, aku masih ingat. Karena guru itu pula aku dan kamu sepakat sesudah dewasa ingin mengabdi sebagai guru.”

“Ya, kau berhasil membangun sekolah di sini, bahkan tanpa bantuan pemerintah. Kau hebat.”

“Kau mau membantuku. Melepas kariermu sebagai pelukis potret. Itu membuatku bahagia dan berusaha untuk tetap tinggal di sini.”

Keduanya tertawa. Meminum kopi dan memakan ubi rebus dengan nikmat.

“Bau ampo ini pertanda kita tetap tinggal dan mengabdi di sini.”

*****

Esoknya, hujan berhenti. Tapi siangnya ketika sekolah usai dan guru Atma mau pulang, hujan kembali turun. Di sekolah murid-murid sudah sepi. Tinggal beberapa guru. Tapi mereka ternyata memakai mantel. Hanya pak guru Atma yang tidak memakai. Bahkan si kepala sekolah itu juga tidak membawa payung.

“Kau tidak bawa payung?”

“Aku ingin berhujan-hujan. Aku ingin mencium bau ampo. Kau cium bau itu di halaman, kan?”

“Iya, aku juga menciumnya,” jawabnya sambil menutup payungnya. Keduanya berjalan turun di halaman, membiarkan seluruh baju mereka basah oleh hujan dan bahkan buku-buku tas mereka.

“Ada sunahnya untuk berhujan-hujan.”

“Iya, sudah lama kita tak melakukannya. Sunah yang enak untuk berhujan-hujan begini.”

Mereka tertawa gembira.

“Mau mampir di tempatku lagi?” tanya guru Atma.

“Ah, gantian saja. Sekarang di tempatku. Istriku tadi membuatkan sop manten untuk mengenang tiga tahun pernikahan kami. Kau kuundang ke tempatku.”

“Dengan pakaian basah begini?”

“Tidak apa. Nanti kau bisa pakai kaus dan sarungku.”

Mereka tertawa berjalan keluar dari halaman. Anehnya, begitu keluar, bau dari halaman, bau ampo itu makin lama makin tipis. Bahkan, hujan menjadi berbau amis dan jika jatuh di lidah air itu terasa anyir. Ini menakutkan keduanya. Mereka jadi bergidik ngeri.

“Tidak semua tempat seperti yang kita duga ternyata. Jalanan tidak bersahabat.”

“Bahkan taman bermain ini juga berbau sama. Menakutkan. Entah kerusakan apa yang terjadi di sini.”

“Tanda-tanda akhir zaman telah tiba. Semua didahului dengan keadaan begini. Ayo kita bergegas!”

Jalanan, taman bermain, pasar, dan rumah- rumah sedikit sekali yang berbau ampo gurih. Rata-rata berbau anyir dan amis. Keduanya bahkan berlari dari hujan yang seakan mengejar mereka. Berharap segera sampai di rumah kepala sekolah.

“Rumahmu terasa jauh sekali. Napasku kembang kempis. Sial napas rokok.”

“Lima belokan lagi. Kita harus tetap berlari.”

Keduanya berlari. Mereka kini bertudung buku dan tas dari hujan. Tak peduli dilihati oleh orang-orang yang menepi di pinggir jalan, perempuan pramuniaga di toko-toko, dilihati anak-anak yang bermain di beranda rumah mereka, dilihati pemulung yang menepi di pojok halte.

Namun, orang-orang itu sudah mafhum dengan dua guru aneh itu. Konon keduanya seniman nyentrik. Sudah tua masih saja balapan lari saat hujan begini, seperti anak kecil saja! pikir mereka.

Dan diujung jalan itu, terdapat sebuah rumah. Seorang perempuan menunggu di beranda masih dengan celemek di perutnya yang menutupi kehamilannya. Sebulan lagi ia melahirkan. Bayi itu konon adalah bayi pertama yang lahir setelah 10 tahun tidak ada kelahiran bayi di kota ini.

Penulis bergiat di Pakagula Sastra, novel terbarunya Lost in Lawu (2016).

Rumah Kontrakan | Cerpen Yus R Ismail


Seharian berkeliling mencari rumah kontrakan, tidak juga menemukan. Maksudnya, menemukan yang pas dengan hati. Ya harganya, ya rumahnya. Ada rumah yang leluasa, besar, nyaman untuk keluarga anak tiga dan usah kecil-kecilan membuat kerajinan tangan, harganya tidak terjangkau. Ada yang harganya cocok, rumahnya kecil dan sumurnya berair kekuningan. Akhirnya mengeluh lagi. Tentu saja karena sudah seminggu saya mencari rumah kontrakan.

Motor yang belum lunas cicilannya ini lalu berbelok ke sebuah mushala. Mushala kecil di pinggir sawah. Di halamannya yang lumayan luas pohon mangga dan rambutan seperti payung. Bebungaan membuat nyaman napas dan penglihatan. Bunga bakung putih berbaris seperti garis batas.

Di belakang mushala, dipisahkan kolam kecil dan dua petakan sawah besar, ada sebuah rumah. Mungkin rumah yang punya mushala ini. Mungkin hanya rumah peristirahatan, semacam villa yang didatangi pemiliknya sekitar sebulan atau dua bulan sekali. Karena setiap mampir ke mushala ini, ikut mendirikan shalat, saya belum pernah melihat penghuni rumah itu.

Setiap selesai berwudhu di belakang mushala saya selalu memandang rumah itu.

Rumah siapa dan bagaimana di dalamnya? Pertanyaan itu selalu muncul di dalam hati.

Karena rumah itu hanya terlihat atapnya. Pohon baluntas yang menjadi pagar hidup tingginya menyamai orang dewasa. Pepohonan besar mengelilingi rumah itu. Rambutan, mangga, sawo, nangka, sirsak, sepertinya asal menanam saja.

Di dalam mushala hanya ada seorang kakek sedang berzikir. Saya lalu mendirikan shalat sendiri. Selesai shalat, berdoa yang pendek saja. Lalu merebahkan badan, meluruskan punggung. Terkejut juga waktu membuka mata, si kakek sudah berada di hadapan, mengajak bersalaman.

“Sepertinya sudah lama Bapak tidak ke sini,” katanya.

Saya bangun dan tersenyum. “Iya, sudah lama saya tidak bekerja lagi, tidak berkeliling. Sekarang belajar usaha kecil-kecilan di rumah. Kok, Kakek tahu?” kata saya. Ya, hampir 20 tahun, sejak sebelum menikah, saya selalu mampir ke mushala ini. Saat menjadi sales kopi, mie instan, bumbu-bumbu dapur, selalu istirahat di mushala ini. Selesai shalat bisa terus merebahkan tubuh, santai, sambil menghitung hasil jualan.

“Kakek kan yang menjaga mushala ini dan rumah di belakang itu,” katanya. Seterusnya berbincang ke sana ke mari seperti dengan kenalan lama. Katanya, persawahan yang luas itu, rumah dan mushala ini, pemiliknya sama. Tapi si Kakek tidak terlalu jelas menerangkan siapa dan tinggalnya di mana pemilik persawahan ini, kapan biasanya datang beristirahat di rumah itu, atau yang lainnya. Saya sendiri, begitu saja menceritakan susahnya mencari rumah kontrakan. Padahal, rumah kontrakan yang sekarang ditinggali seminggu lagi harus dikosongkan.

“Kalau butuh buat tinggal, lihat-lihat saja rumah yang di belakang itu. Sudah berkali-kali pemiliknya berpesan, tinggali rumah itu biar tidak dingin dan cepat rusak,” kata si Kakek.

Tentu saya sangat tertarik. Tapi begitu masuk ke halaman rumah itu, apalagi ke dalam rumah, napas saya terasa berat. Rumah semegah itu bukan buat saya. Pepohonan di halaman yang dari jauh seperti asal tanam itu, ternyata rapi dan indah. Pasti ditata oleh ahli taman yang sudah berpengalaman. Di dalam rumah, penempatan kursi, lemari hias, hiasan dinding, berpadu dengan warna cat yang serasi. Dapur, ruang keluarga, ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, terasa nyaman.

Hati saya tersenyum. Si Kakek mungkin tidak tahu, kemampuan saya bukan mengontrak rumah seperti ini. Tapi, yang keluar dari mulut saya adalah pertanyaan, “Maunya berapa dikontrak per tahun, Kek?”

“Kalau mau ditinggali, silakan saja, tidak mesti itung-itungan. Begitu kata pemilik rumah ini.” Si Kakek memandang saya, tapi seperti yang tidak melihat keterkejutan di wajah saya. “Ini kuncinya. Silakan saja, kapan pun mau mulai pindahnya. Maaf tidak bisa membantu karena Kakek harus pergi.”

***

Aneh. Ajaib. Hidup barangkali memang aneh. Beberapa saat saya tidak bisa bicara. Si Kakek yang berpamitan mengajak bersalaman, hanya saya tanggapi dengan mengangguk. Mulut seperti di lem. Ah, barangkali sejak dulu pun hidup ini aneh. Tidak saat ini saja. Tidak hanya masalah rumah kontrakan saja.

Saya pulang tergesa. Hari itu juga saya ajak istri dan anak-anak melihat-lihat rumah.

Ternyata istri dan anak-anak saya tidak mau pulang lagi. Si bungsu yang baru berusia dua tahun berlari ke sana ke mari sambil tertawa, mengejar kakaknya yang melihat-lihat ruangan sambil tidak berhenti mulutnya mengatakan kekaguman. Besoknya, saya sendiri yang pergi, mengangkut barang-barang.

Tentu saja sangat leluasa dan nyaman tinggal di rumah baru. Usaha terasa lebih tenang. Gudang yang luas saya bersihkan dan menjadi bengkel kerajinan. Hidup terasa bergerak menjadi lebih baik. Pemasaran kerajinan mulai dari pasar kaget hari Minggu, grosir besar, jejaring sosial internet, dan toko swalayan, semuanya terpenuhi. Pegawai yang membantu produksi terus bertambah, dari seorang menjadi tiga orang, lima orang, 10 orang, sampai hampir seratus orang.

Setelah itu uang seperti air selokan yang terus mengalir. Saat memandang para pegawai pulang kerja, saya sering tersenyum sendiri. Aneh. Ajaib juga usaha ini. Bertahun-tahun, sampai punya anak tiga, anak terbesar berusia 11 tahun, saya merintis usaha ini. Hanya bisa menitipkan perut ala kadarnya. Dapat untung besar mengerjakan proyek instansi kabupaten, tapi kemudian dibalas dengan rugi besar karena tertipu. Rejeki barangkali tidak boleh sembarangan mendapatkannya.

Baru sekarang ini saya mampu membeli mobil angkutan usaha dan mobil pribadi keluarga masing-masing. Tidak satu mobil, ya dipakai berlibur, main, ya dipakai belanja, mengantarkan barang. Setiap anak-anak libur sekolah, bisa pergi ke mana saja. Usaha sudah ada pegawai yang mengurusnya. Saya hanya menerima laporannya setiap bulan, dan tentu keuntungannya. Tabungan saya ada di beberapa rekening, juga mas dan tanah.

***

Pernah juga sebenarnya terpikir untuk pindah rumah. Bagaimanapun, meski gratis, rumah ini bukan milik sendiri. Tapi, mencari ke manapun saya tidak menemukan tanah atau rumah yang senyaman rumah ini. Terpikir juga untuk menanyakan harga rumah ini beserta mushala dan persawahannya. Terutama saat usaha saya mulai menanjak, setahun dua tahun sejak saya mendiaminya. Tapi, pemilik rumah tidak pernah datang. Juga si Kakek yang katanya mengurus rumah dan mushala di depan itu.

Selanjutnya terasa berat untuk memiliki rumah sendiri. Karena pemilik rumah tidak pernah muncul, saya memberanikan diri untuk memperbaiki taman di halaman depan, membuat kolam di belakang rumah. Sayang, mata air dari bawah pohon duku selama ini hanya mengalir ke sawah. Di tengah kolam dibuat bangunan untuk beristirahat atau makan-makan. Kenalan, partner bisnis, teman anak-anak, banyak yang datang untuk bercengkerama. Mereka sangat menyukai rumah ini.

“Di sini pemandangannya indah banget, susah diceritakan, jadinya malas untuk pulang,” kata mereka.

Saya, juga istri, dan anak-anak, hanya tersenyum menanggapi komentar seperti itu. Karena, setiap kenalan berkunjung ke rumah ini, makan-makan sambil bergurau di bangunan di tengah kolam, pulangnya selalu bilang seperti itu. Tentu saja orang bisa berkomentar begitu. Karena, saya sendiri tidak bosan tinggal di rumah ini.

***

Saking betahnya waktu tidak terasa terus bergulir. Hari berganti, bulan berganti, kalender pun turun dari dinding. Anak-anak sudah besar. SD, SMP, SMU, kuliah, dihabiskan di rumah ini. Teman-temannya terus bertambah, berdatangan dan menyukai menghabiskan waktu di sekitar rumah.

Waktu anak pertama dilamar orang, tidak terpikir mencari gedung untuk resepsi pernikahan. Anaknya sendiri ingin berpesta di rumah. Nyatanya rumah memang lebih meriah dan nyaman dibanding di gedung. Tetamu mengagumi kemeriahan pesta dan menyenangi berlama-lama di sekitar rumah. Malah ada yang datang kembali dua hari setelah pesta pernikahan itu.

“Rumah yang sangat nyaman, Pak,” katanya santai. “Kalau diizinkan saya ingin memotret sekeliling, saya juga ingin membangun rumah dengan penataan seperti ini.”

***

Tentu saja saya bangga. Karenanya saya sangat tersentak, ada sesuatu yang mengganjal di hati, sesuatu yang tidak enak; saat berjalan-jalan ke pertokoan ada yang mencegat saya.

“Bapak ini yang tinggal di rumah belakang mushala itu, ya?” tanyanya.

“Iya, betul.”

“Bagaimana kabarnya yang punya rumah?”

Deg! Ada yang menabrak hati saya. Sangat tidak enak. Apalagi kemudian, entah bagaimana awalnya, orang yang mengaku kenal dengan yang punya rumah berdatangan di mana-mana. Waktu saya mengantar cucu membeli mainan, menemui partner bisnis, menengok sahabat yang sakit, berjalan-jalan ke perkebunan teh; selalu ada yang mencegat saya, mengaku kenal dengan yang punya rumah dan menanyakan kabarnya.

Sejak itu pikiran saya terganggu. Saya sering melamun. Sering tiba-tiba merasa sedih, entah sedih oleh apa. Malah kadang saya menangis. Apalagi suatu sore ada yang mengetuk pintu rumah. Tamu itu mengaku pemilik rumah. Tidak banyak bicara, apalagi meminta ini atau itu, tamu itu hanya bicara: “Ya, terima kasih kalau merasa kerasan, apalagi betah tinggal di sini." Setelah itu dia pamitan.

Saya semakin merasa sedih, sakit hati, tapi entah oleh apa. Waktu saya mengeluh kepada istri, dia menggenggam tangan saya.

“Bagaimanapun, rumah ini bukan milik kita. Kita hanya mengontraknya,” kata saya.

“Ya, suatu waktu kita harus pindah ke rumah sendiri. Rumah sendiri yang tidak bisa dibeli oleh uang, tidak bisa dibangun oleh kekayaan sebanyak apa pun. Dan, mungkin rumahnya tidak senyaman ini.”

Di dalam hati, saya menangis. (*)

Pemilik nama asli Yosep Rustandi ini menulis cerpen, puisi dan novel yang dimuat di berbagai media lokal dan nasional.

Hidung | Cerpen Ahmadun Yosi Herfanda


GILA! Kini tinggal hidungku yang tersisa. Bagian-bagian wajahku yang lain telah dikapling-kapling dan dikontrak perusahaan iklan menjadi papan billboard. Pada bulu mataku melambai iklan mascara. Di bola mataku tertayang iklan softlens. Lalu di pipi kanan-kiriku dan dahiku terhampar iklan bedak. Sedangkan di bibirku tersungging iklan lisptik. Sementara kedua alisku tersisa iklan eyebrow. Kemudian di sekeliling kedua mataku terbersit iklan eyeshadow. Dan, terakhir, di gerai rambutku terjuntai iklan dua produk sekaligus: shampo dan cat rambut.

Kini hidungku pun sedang diincar oleh perusahaan iklan. Bukan untuk iklan ring emas atau plaster antikomedo, tapi klinik kecantikan terbesar yang baru saja dibuka di kotaku. Terpengaruh oleh selebritis Korea yang ramai-ramai mengoperasi hidung dan matanya, kini selebritis Jakarta pun ikut-ikutan memancungkan hidung dan mendandani mata dengan operasi plastik. Tentu, ini pangsa pasar baru bagi para pebisnis klinik kecantikan. Maka, klinik-klinik kecantikan baru bersusulan dibuka di ibu kota. Dan, demi memenangkan persaingan, mereka gencar beriklan dengan berbagai cara.

Masalahnya, apakah aku harus merelakan hidungku yang sudah sempurna untuk pura-pura dioperasi dan dijadikan contoh untuk kepentingan promosi, lalu layar televisi saat aku membaca berita akan terbaca tulisan berjalan yang mempromosikan suluruh alat kecantikan yang menempel di wajahku. Dan, pemirsa akan segera tahu bahwa semua yang tampak di wajahku adalah tempelan, kecantikanku adalah palsu, karena sesungguhnya wajahku yang cantik hanyalah polesan belaka alias topeng.

“Mbak Gita, gimana? Oke bersedia ya hidungnya kami kontrak!” desak seorang manajer sebuah perusahaan iklan ternama yang sedang mengincar hidungku.

“Aduh, Mbak. Seluruh wajahku ini sudah aku gadaikan untuk papan iklan. Tinggal hidungku yang tersisa. Masak harus aku kontrakkan juga,” jawabku, bernada keberatan.

“Tidak untuk selamanya kok, Mbak. Bisa dicoba sebulan dulu. Bila cocok, bisa diperpanjang. Lumayan lho, Mbak. Sebulan 100 juta, dan Mbak Gita akan kami kontrak langsung setahun. Itu artinya 1,2 miliar,” desak sang manajer perusahaan iklan itu lagi.

Gila! Rp 1,2 miliar. Jumlah yang sangat menggiurkan, dan aku sangat membutuhkannya untuk menuntaskan renovasi rumah orang tuaku di Cibubur, dan juga untuk melengkapi perabot rumahku sendiri di kawasan yang sama. Sisanya bisa untuk menambah mobil mewah lagi, setelah dikurangi zakat untuk rumah yatim piatu.

Tapi, bagaimana dengan hidungku? Bukankah hidung ciptaan Tuhan ini sudah sempurna? Mana mungkin aku mengatakan hidungku hasil operasi plastik sebuah klinik kecantikan, meskipun hanya di iklan atau tulisan berjalan di televisi. Bukankah itu sebuah bentuk kebohongan publik, dan penghinaan pada Tuhan yang telah menciptakan hidungku ini dengan begitu sempurna.

“Bagaimana, Mbak Gita? Kami memerlukan jawaban hari ini juga,” desak sang manajer perusahaan iklan itu lagi.

“Bolehkah saya minta waktu lagi untuk berpikir?” jawabku.

“Kapan kami bisa mendapatkan jawabannya?”

Aku tidak bisa menjawab, karena tidak tahu kapan dapat memberikan keputusan untuk mengontrakkan hidungku. Manajer iklan yang sebenarnya juga cantik itu memandangku dengan gelisah, berharap jawaban “ya” dari mulutku. Aku menunduk sambil menyusupkan jari-jari tangan kiriku ke rambutku yang tergerai lembut, lalu kupijit-pijit kepalaku dengan jari-jari tangan kiriku yang kuku-kunya juga sudah dikontrak iklan kuteks.

“Kenapa tidak hidung Mbak Jesslyn saja yang dikontrakkan. Mbak Jesslyn cantik lho, dan hidung Mbak sangat bagus,” kataku agak nyaring, sambil menatap manajer perusahaan iklan yang gigih mengincar hidungku itu. Suaraku seperti terlepas dari himpitan beban di dadaku yang terasa agak sesak.

Perempuan itu tampak terperangah, tak menduga jawabanku akan berbalik mengincar hidungnya. “Ah, Mbak Gita ini ada-ada saja. Aku kan manajer perusahaan iklan. Masak mau mengontrakkan hidungku sendiri. Itu namanya semangka makan semangka, Mbak. Yang benar aja!”

“Ya apa salahnya? Tak apa kan merangkap menjadi bintang iklan?”

“Bos saya itu menugaskan saya untuk mengontrak hidung Mbak Gita. Bukan mengontrak hidung saya sendiri.”

“Coba saja tawari hidung Mbak Jesslyn. Siapa tahu beliaunya mau?”

“Bukannya mau, malah bisa dipecat saya.”

Aku tersenyum kecut mendengar jawabannya. Wajah Jesslyn tampat memerah. Suasana jadi tegang dan senyap. Hanya terdengar suara televisi samar-samar dari ruang tunggu. Perempuan manajer perusahaan iklan itu jadi tampak kikuk dan serbasalah. Aku menarik napas dalam-dalam untuk meredakan ketegangan. Tiba-tiba perempuan itu bangkit, dan berkata dengan nada agak berat,

“Ya sudah, kalau begitu, saya tunggu jawaban Mbak Gita sampai besok sebelum jam 12 siang. Jika belum ada jawaban, kami akan berikan peluang ini kepada presenter TV yang lain. Saya tunggu teleponnya besok siang ya. Selamat siang!”

“Baik, Mbak Jesslyn. Akan saya coba pikirkan baik-baik,” jawabku ringan, sambil mengantar manajer iklan itu ke pintu keluar ruang kerjaku.

*****

Aku nyaris tak bisa tidur memikirkan tawaran kontrak iklan yang menggiurkan sekaligus dilematis itu. Sampai tengah malam aku memeriksa dan merenung-renungkan hidungku di depan cermin, sambil sesekali memencet-pencetnya. Betapa mahalnya nilai hidung ciptaan Tuhan ini, pikirku. “Tafakur hidung” aku lanjutnya sambil duduk bersandar di ujung ranjang, sampai dini hari.

Membayangkan nilai kontraknya Rp 1,2 miliar setahun, tentu aku sangat tergiur. Tapi, bagaimana dengan hidungku yang sudah sempurna ini? Apakah harus pura-pura dioperasi, dan aku harus melakukan kebohongan publik bahwa hidungku yang bangir ini merupakan hasil operasi plastik sebuah klinik kecantikan? Bukankah itu artinya aku menghina Tuhan yang telah menciptakan hidungku dengan begitu sempurna? Bisa-bisa Tuhan mengutukku gara-gara kontrak hidung ini…

*****

Tubuhku mendadak menjadi sangat ringan. Seperti terbebas dari gravitasi bumi, aku pun mengapung di udara. Dari ketinggian aku melihat sedanku ringsek karena dihajar bus Trans-Jakarta. Rupanya mobilku masuk ke jalur bus way persis di hadapan bus Trans-Jakarta yang sedang melaju kencang di pagi buta. Orang-orang tampak turun dari bus dan menyerbu mobilku. Beberapa orang mencoba membuka pintu depan mobilku. Tapi tidak gampang, karena bagian depan mobilku benar-benar ringsek, dan pintu depan mobilku tampak pesok ke dalam.

Mungkin aku telah mati dan jiwaku kini melayang di udara. Aku melihat tubuhku, berpakaian seragam penyiar televisi swasta ternama, terkulai lemah di balik stir mobil, dengan wajah penuh darah. Tiba-tiba aku teringat hidungku yang sedang diincar perusahaan iklan dengan tawaran kontrak 1,2 miliar rupiah. Pastilah hidungku kini sudah hancur, dan perusahaan iklan itu pasti urung mengontraknya.

Aku mencoba meraba hidungku, tapi yang terasa hanyalah ruang kosong. Aku mengamati tubuhku yang melayang bersamaku, yang kulihat hanya sosok putih mirip gumpalan asap yang mengambang di udara. Aku yakin itu jasad halusku, sedang jasad kasarku tertinggal di dalam mobil yang ringsek dan kini sedang dikeluarkan oleh para penumpang Trans Jakarta. Aku yakin telah tewas dalam kecelakaan itu, dan tubuh kasarku, wajah cantikku, hidung bangirku, sudah tidak ada artinya lagi bagiku, karena semua tinggal mayat, dan sebentar lagi akan dikubur di pemakaman umum dengan diantar air mata ibuku.

Dengan tubuh amat ringan aku mencoba melayang lebih tinggi lagi, terbang menembus awan, lalu mengarungi ruang angkasa yang hampa, kembali kepada Tuhan sang Maha Pencipta, melupakan semua kontrak iklan yang telah menjadikan wajahku sebagai billboard. Tapi, tiba-tiba terdengar suara tangis ibuku, memanggilku dengan pilu, keras sekali, dan tiba-tiba pula terasa ada kekuatan besar yang menyedotku ke arah tubuhku yang sedang digotong ke mobil ambulans, dan mendadak aku terjerembab kembali ke dalam kegelapan yang begitu pekat…

*****

Lagi-lagi suara ibuku yang membuatku tersadar dari pingsan, entah berapa lama. Kali ini ibuku tidak menangis. Matanya tampak berbinar ketika melihatku siuman. “Syukurlah kamu selamat, Gita. Ibu sangat mengkhawatirkanmu,” katanya lembut sambil mengelus-elus punggung telapak tanganku.

Aku mencoba membalas senyumnya, tapi hampir semua bagian wajahku terasa kaku dan agak nyeri. Aku meraba hidungku, ada plaster tebal yang menutupnya. Pipi kanan dan kiriku juga ditutup plaster tebal dan lebar. Begitu juga dahiku. Duh, hancurlah wajah komersialku. Hancurlah kecantikanku.

Aku terkejut ketika melihat Jesslyn, manajer iklan yang mengincar hidungku itu, berdiri di belakang ibuku. Aku ingin memaki-makinya, karena gara-gara dialah aku tak bisa tidur, lalu terpaksa mengendarai mobil dalam kondisi sangat mengantuk, dan terjadilah kecelakaan itu. Ia tersenyum melihatku siuman, dan senyum manisnya meredakan kemarahanku. “Istirahatlah dulu, Mbak Gita. Semua akan beres,” katanya.

Aku tidak tahu, apa yang dimaksudnya akan beres itu. Tapi, kata-katanya itu menggerakkan tanganku untuk meraba hidungku lagi. Plaster tebal masih menutupinya, dan aku tidak tahu separah apa luka di hidungku. Aku yakin, Jesslyn sudah tidak lagi mengincar hidungku, dan semoga inilah yang dimaksudnya semua akan beres tadi. Kupaksa diriku untuk memejamkan mata, mencoba tidur untuk melupakan semuanya.

Tiga hari kemudian Jesslyn menjengukku lagi bersama ibuku, membawa sekeranjang buah dan satu ikat bunga segar. Kali ini dia duduk di dekat wajahku. Sepertinya ada yang sangat penting. “Saya gembira, Mbak Gita sudah makin sehat,” katanya.

“Terima kasih,” sahutku.

“Tentang wajah Mbak Gita jangan khawatir. Dokter ahli bedah plastik sudah menanganinya ketika Mbak Gita masih pingsan. Kalau sudah sembuh nanti, dengan sedikit polesan, dijamin wajah Mbak Gita akan kembali mulus seperti sediakala. Tinggal hidung Mbak Gita yang belum dioperasi,” sambungnya.

Mendengar kata “hidungku belum dioperasi”, aku jadi penasaran. “Maksud Mbak Jesslyn bagaimana?”

“Masih dibiarkan sompel ujungnya, karena tidak ditemukan sompelannya.”

Aku terkejut dan merinding mendengar hidungku dibiarkan sompel. Aku jadi ingat hidung patung Roro jonggrang di Candi Prambanan yang sompel hidungnya. Tampak sangat mengganggu, meski masih terbayang kecantikannya. Apakah hidungku akan sompel separah itu untuk seterusnya?

“Tapi Mbak Gita jangan khawatir. Saya sudah berbicara dengan dokter bedah yang menangani Mbak Gita. Ibu juga sudah setuju,” kata Jesslyn, masih menyimpan teka-teki dan maksud tersembunyi.

“Setuju bagaimana?” sergahku.

“Semua sepakat untuk mengoperasi hidung Mbak Gita di klinik kecantikan yang akan mengontrak hidung Mbak Gita untuk iklannya itu. Karena hanya klinik kecantikan itu yang siap ahli bedah plastiknya dan lengkap peralatannya. Dokter ahli bedah plastiknya dari Korea.”

Aku terperangah mendengar penjelasan manajer iklan yang mengincar hidungku itu. Aku jadi tahu bahwa ia adalah pemburu yang benar-benar ulung. Sampai luka-luka begini hidungku masih terus diburunya juga. Aku tidak menjawab, karena aku benar-benar tidak tahu harus menjawab bagaimana! 

*****

Tangerang Selatan, Juni 2015

Ahmadun Yosi Herfanda, lahir di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, 17 Januari 1958. Dia menulis puisi, cerpen, dan esai sastra. Bukunya yang sudah terbit, antara lain, Ciuman Pertama untuk Tuhan (kumpulan puisi, Logung Pustaka, 2004), Sebutir Kepala dan Seekor Kucing (kumpulan cerpen, Bening Publishing, 2004), Badai Laut Biru (kumpulan cerpen, Senayan Abadi Publishing, 2004), The Warshipping Grass (kumpulan puisi bilingual, Bening Publishing, 2005), Resonansi Indonesia (kumpulan sajak sosial, Jakarta Publishing House, 2006), Yang Muda yang Membaca (buku esai, Kemenegpora, 2009), dan Sajadah Kata (kumpulan puisi, Pustaka Littera, 2013).

Piknik | Cerpen Agus Noor


Para pelancong mengunjungi kota kami untuk menyaksikan kepedihan. Mereka datang untuk menonton kota kami yang hancur. Kemunculan para pelancong itu membuat kesibukan tersendiri di kota kami. Biasanya kami duduk-duduk di gerbang kota memandangi para pelancong yang selalu muncul berombongan mengendarai kuda, keledai, unta, atau permadani terbang dan juga kuda sembrani. Mereka datang dari segala penjuru dunia. Dari negeri-negeri jauh yang gemerlapan.

Di bawah langit senja yang kemerahan kedatangan mereka selalu terlihat bagaikan siluet iring-iringan kafilah melintasi gurun perbatasan, membawa bermacam perbekalan piknik. Berkarung-karung gandum yang diangkut gerobak pedati, daging asap yang digantungkan di punuk unta terlihat bergoyang-goyang, roti kering yang disimpan dalam kaleng, botol-botol cuka dan saus, biskuit dan telor asin, rendang dalam rantang—juga berdus-dus mi instan yang kadang mereka bagikan pada kami.

Penampilan para pelancong yang selalu riang membuat kami sedikit merasa terhibur. Kami menduga, para pelancong itu sepertinya telah bosan dengan hidup mereka yang sudah terlampau bahagia. Hidup yang selalu dipenuhi kebahagiaan ternyata bisa membosankan juga. Mungkin para pelancong itu tak tahu lagi bagaimana caranya menikmati hidup yang nyaman tenteram tanpa kecemasan di tempat asal mereka. Karena itulah mereka ramai-ramai piknik ke kota kami: menyaksikan bagaimana perlahan-lahan kota kami menjadi debu. Kami menyukai cara mereka tertawa, saat mereka begitu gembira membangun tenda-tenda dan mengeluarkan perbekalan, lalu berfoto ramai-ramai di antara reruntuhan puing-puing kota kami.

Kami seperti menyaksikan rombongan sirkus yang datang untuk menghibur kami.

Kadang mereka mengajak kami berfoto. Dan kami harus tampak menyedihkan dalam foto-foto mereka. Karena memang untuk itulah mereka mengajak kami berfoto bersama. Mereka tak suka bila kami terlihat tak menderita. Mereka menyukai wajah kami yang keruh dengan kesedihan. Mata kami yang murung dan sayu. Sementara mereka—sembari berdiri dengan latar belakang puing-puing reruntuhan kota—berpose penuh gaya tersenyum saling peluk atau merentangkan tangan lebar-lebar. Mereka segera mencetak foto-foto itu, dan mengirimkannya dengan merpati-merpati pos ke alamat kerabat mereka yang belum sempat mengunjungi kota kami.

Belakangan kami pun tahu, kalau foto-foto itu kemudian dibuat kartu pos dan diperjualbelikan hingga ke negeri-negeri dongeng terjauh yang ada di balik pelangi. Pada kartu pos yang dikirimkannya itu, para pelancong yang sudah mengunjungi kota kami selalu menuliskan kalimat-kalimat penuh ketakjuban yang menyatakan betapa terpesonanya mereka saat menyaksikan kota kami perlahan-lahan runtuh dan lenyap. Mereka begitu gembira ketika melihat tanah yang tiba-tiba bergetar. Bagai ada naga menggeliat di ceruk bumi—atau seperti ketika kau merasakan kereta bawah tanah melintas menggemuruh di bawah kakimu. Betapa menggetarkan melihat pohon- pohon bertumbangan dan rumah-rumah rubuh menjadi abu. Membuat hidup para pelancong yang selalu bahagia itu menjadi lengkap, karena bisa menyaksikan segala sesuatu sirna begitu saja.

Bagi para pelancong itu, kota kami adalah kota paling menakjubkan yang pernah mereka saksikan. Mereka telah berkelana ke sudut-sudut dunia, menyaksikan beragam keajaiban di tiap kota. Mereka telah menyaksikan menara-menara gantung yang dibuat dari balok-balok es abadi, candi-candi megah yang disusun serupa tiara; menyaksikan seekor ayam emas bertengger di atas katedral tua sebuah kota yang selalu berkokok setiap pagi. Mereka juga telah melihat kota dengan kanal-kanal yang dialiri cahaya kebiru-biruan. Kepada kami para pelancong itu juga bercerita perihal kota kuno yang berdiri di atas danau bening, dengan rumah-rumah yang beranda-berandanya saling bertumpukan, dan jalan-jalannya yang menyusur dinding-dinding menghadap air, hingga menyerupai kota yang dibangun di atas cermin; kota dengan jalan layang menyerupai jejalin benang laba-laba; sebuah kota yang menyerupai benteng di ujung sebuah teluk, dengan jendela-jendela dan pintu-pintu yang selalu tertutup menyerupai gelap anggur dan hanya bisa dilihat ketika senjakala. Bahkan mereka bersumpah telah mendatangi kota yang hanya bisa ditemui dalam imajinasi seorang penyair. Tapi kota kami, menurut mereka, adalah kota paling ajaib yang pernah mereka kunjungi.

Para pelancong menyukai kota kami karena kota kami dibangun untuk menanti keruntuhan. Banyak kota dibangun dengan gagasan untuk sebuah keabadian, tetapi tidak dengan kota kami. Kota kami berdiri di atas lempengan bumi yang selalu bergeser. Kau bisa membayangkan gerumbul awan yang selalu bergerak dan bertabrakan, seperti itulah tanah di mana kota kami berdiri. Membuat semua bangunan di kota kami jadi terlihat selalu berubah letaknya. Barisan pepohonan seakan berjalan pelan. Lorong-lorong, jalanan, dan sungai selalu meliuk-liuk. Dan ketika sewaktu-waktu tanah terguncang, bangunan dan pepohonan di kota kami saling bertubrukan, rubuh dan runtuh menjadi debu—serupa istana pasir yang sering kau buat di pinggir pantai ketika kau berlibur menikmati laut.

Rupanya itulah pemandangan paling menakjubkan yang membuat para pelancong itu terpesona. Para pelancong itu segera menghambur berlarian menuju bagian kota kami yang runtuh, begitu mendengar kabar ada bagian kota kami yang tergoncang porak-poranda. Dengan handycam mereka merekam detik-detik keruntuhan itu. Mereka terpesona mendengar jerit ketakutan orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri, gemeretak tembok-tembok retak, suara menggemuruh yang merayap dalam tanah. Itulah detik-detik paling menakjubkan bagi para pelancong yang berkunjung ke kota kami; seolah semua itu atraksi paling spektakuler yang beruntung bisa mereka saksikan dalam hidup mereka yang terlampau bahagia. Lalu mereka memotret mayat-mayat yang tertimbun balok-balok dan batu bata. Mengais reruntuhan untuk menemukan barang-barang berharga yang bisa mereka simpan sebagai kenangan.

Saat malam tiba, dan bintang- bintang terasa lebih jauh di langit hitam, para pelancong itu bergerombol berdiang di seputar api unggun sembari berbagi cerita. Memetik kecapi dan bernyanyi. Atau rebahan di dalam tenda sembari memainkan harmonika. Dari kejauhan kami menyaksikan mereka, merasa sedikit terhibur dan tak terlalu merasa kesepian. Bagaimanapun kami mesti berterima kasih karena para pelancong itu mau berkunjung ke kota kami. Mereka membuat kami semakin mencintai kota kami. Membuat kami tak hendak pergi mengungsi dari kota kami. Karena bila para pelancong itu menganggap kota kami adalah kota yang penuh keajaiban, kenapa kami mesti menganggap apa yang terjadi di kota kami ini sebagai malapetaka atau bencana?

Seperti yang sering dikatakan para pelancong itu pada kami, setiap kota memang memiliki jiwa. Itulah yang membuat setiap kota tumbuh dengan keunikannya sendiri-sendiri. Membuat setiap kota memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Keajaiban tersendiri. Setiap kota terdiri dari gedung- gedung, sungai-sungai, kabut dan cahaya serta jiwa para penghuninya; yang mencintai dan mau menerima kota itu menjadi bagian dirinya. Kami sering mendengar kota-kota yang lenyap dari peradaban, runtuh tertimbun waktu. Semua itu terjadi bukan karena semata-mata seluruh bangunan kota itu hancur, tetapi lebih karena kota itu tak lagi hidup dalam jiwa penghuninya. Kami tak ingin kota kami lenyap, meski sebagian demi sebagian dari kota kami perlahan-lahan runtuh menjadi debu. Karena itulah kami selalu membangun kembali bagian-bagian kota kami yang runtuh. Kami mendirikan kembali rumah-rumah, jembatan, sekolah, tower dan menara, rumah sakit-rumah sakit, menanam kembali pohon-pohon, hingga di bekas reruntuhan itu kembali berdiri bagian kota kami yang hancur. Kota kami bagaikan selalu muncul kembali dari reruntuhan, seperti burung phoenix yang hidup kembali dari tumpukan abu tubuhnya.

Kesibukan kami membangun kembali bagian kota yang runtuh menjadi tontonan juga bagi para pelancong itu. Sembari menaiki pedati, para pelancong itu berkeliling kota menyaksikan kami yang tengah sibuk menata reruntuhan. Mereka tersenyum dan melambai ke arah kami, seakan dengan begitu mereka telah menunjukkan simpati pada kami. Sesekali para pelancong itu berhenti, membagikan sekerat biskuit, sepotong dendeng, sebotol minuman, atau sesendok madu— kemudian kembali pergi untuk melihat-lihat bagian lain kota kami yang masih bergerak bertabrakan dan hancur.

Kemudian para pelancong itu pergi dengan bermacam cerita ajaib yang akan mereka kisahkan pada ke barat dan kenalan mereka yang belum sempat mengunjungi kota kami. Mereka akan bercerita bagaimana sebuah kota perlahan- lahan hancur dan tumbuh kembali. Sebuah kota yang akan mengingatkanmu pada yang rapuh, sementara, dan fana. Sebuah kota yang membuat para pelancong berdatangan ingin menyaksikannya.

Bila kau merencanakan liburan akhir pekan—dan kau sudah bosan piknik ke kota-kota besar dunia yang megah dan gemerlap—ada baiknya kau berkunjung ke kota kami. Jangan lupa membawa kamera untuk mengabadikan penderitaan kami. Mungkin itu bisa membuatmu sedikit terhibur dan gembira. Berwisatalah ke kota kami. Jangan khawatir, kami pasti akan menyambut kedatanganmu dengan kalungan bunga-air mata…

Yogyakarta, 2006

CATATAN:

1) Deskripsi kota-kota dalam paragraf ini mengacu pada karya Italo Calvino, Invisible Cities—telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Kota-kota Imajiner, oleh Erwin Salim (Fresh Book, 2006)

Anak Panah | Cerpen Harris Effendi Thahar


Untuk yang kesekian kalinya Nyonya Rakusni menanyakan tentang kemajuan studi Agus di Bandung, putra Anisah, ketika Anisah menerima beberapa liter beras untuk jasa mencuci pakaian. Anisah yang kelihatan lebih tua dari usianya itu tampak begitu gelisah.

Perasaan, sudah hampir tujuh tahun. Biasanya, empat atau lima tahunan harus sudah lulus. Putri saya si Mira saja yang baru tiga tahun, sudah mulai skripsi tuh,” tutur Nyonya Rakusni dengan lobang hidung mengembang.

Anisah hanya menunduk dan pamit segera. Suaminya yang sakit-sakitan sudah lama menanti kedatangannya membawa beras untuk makan siang yang sudah begitu terlambat. Hatinya gundah. Mendung di pelupuk matanya seperti hendak tumpah.

Sudah lebih setahun ia tak mampu lagi membeli pulsa untuk hand phone penyambung komunikasi dengan Agus di Bandung. Jangankan untuk beli pulsa, dapat mengirimkan uang bulanan saja untuk Agus ia sudah bersyukur. Belum lagi untuk memenuhi kebutuhan sekolah Gadis yang kini sudah duduk di Tsanawiyah. Tapi, ia juga menyesalkan Agus, mengapa ia tak mengirim surat sekadar mengabarkan bahwa uang kiriman ibunya sudah diterima melalui rekening bank?

“Barangkali ia sudah jadi bandit. Tidak usah kau kirim-kirim juga uang. Anak apa itu? Durhaka!” begitu kalau suaminya berkata kalau Anisah mengeluh tentang kekurangan uang untuk dikirim ke Agus.

“Janganlah Uda berkata begitu. Ia darah daging kita. Siapa tahu kelak nasibnya baik. Setidaknya, dia bisa hidup mandiri, tidak miskin seperti kita.”

Sekitar enam tahun lalu kebahagiaan Anisah sekeluarga seperti berada di puncak. Putra sulungnya Agus Budiman lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri terkemuka di Bandung. Tak satu pun waktu itu tamatan SMA di kampung itu yang lulus UMPTN>sup<1>res<, kecuali Agus Budiman, putra Anisah, penjual lontong pecal di pinggir pagar sekolahan Tsanawiyah. Ayahnya hanyalah seorang satpam pabrik kecap di dekat pasar kecamatan yang sering kambuh penyakit asmanya. Orang-orang memuji Anisah. Banyak orang kaya di kampung itu ingin membantu, terutama yang punya anak perempuan sejodohan Agus.

Tak ada hari libur bagi Anisah, hari Minggu pun ia bekerja sebagai tukang cuci di beberapa rumah. Ia perlu banyak uang untuk biaya sekolah putra kebanggaannya itu. Ia tak dapat mengharap banyak pada suaminya yang tiap sebentar harus berobat ke puskesmas. Sudah divonis dokter sebagai penderita asma akut, toh suaminya itu tidak mau berhenti merokok. Berapalah gaji satpam yang sering mangkir seperti dia? Untuk uang jajan sekolah Gadis, adik Agus saja, suaminya tak mampu.

“Tak usah kau pikirkan berapa ongkos berangkat si Agus ke Bandung itu. Aku yang nanggung, tanda ikut gembira dan bersyukur. Dia kebanggaan kampung itu. Satu-satunya pemuda kampung ini yang bisa masuk ITB,” kata Nyonya Rakusni ketika Minggu itu Anisah mencuci di rumah itu.

“Terima kasih, Nyonya. Nanti saya usahakan mengembalikan uang Nyonya.”

“Oo, tidak begitu. Itu gratis. Cuma, biaya bulanan, kau pikirkanlah sendiri. Ya? Ngerti ndak?”

“Iya, ya. Terima kasih banyak Nyonya. Nyonya baik sekali.”

Kampung yang terletak di dataran tinggi subur itu dilatari oleh sawah-sawah luas yang menghasilkan panen melimpah sepanjang tahun. Akan tetapi, peninggalan orangtua Anisah tidaklah seberapa. Itu pun disewakan saja pada petani kacang tiap tahun karena suaminya tak sanggup mengolah sawah. Nyonya Rakusni adalah pemilik sawah terluas di kampung itu. Orang-orang memanggilnya Rangkayo, suatu panggilan kehormatan bagi orang yang dermawan. Meski sebenarnya ia bukanlah dermawan dalam arti yang sesungguhnya, melainkan seorang rentenir. Sudah tiga orang putrinya menikah, semuanya dijodohkan dengan pedagang. Tapi, untuk si bontot Mira, ia ingin bermenantukan orang sekolahan semisal Agus Budiman.

Tahun-tahun pun berlalu mengikuti musim. Jejak Agus pun diikuti oleh pemuda-pemuda lulusan SMA di kampung itu, yakni bersekolah di tanah Jawa, terutama di Bandung, meskipun bukan di perguruan tinggi negeri. Di musim libur, mereka pulang ke kampung membawa cerita-cerita dan angin perubahan dari tanah seberang. Kecuali Agus, ia tak pernah pulang libur karena menghemat ongkos.

Dari para mahasiswa pulang kampung itulah Anisah tahu bahwa Agus di Bandung begitu sibuk dan menjadi orang penting.

“Susah ketemu dia. Dia itu sibuk. Kadang-kadang diskusi, panitia seminar, latihan drama, baca puisi, bahkan kadang-kadang jadi koordinator demo,” kata seseorang.

“Kadang-kadang ia juga ke luar kota, ke Jogja, Solo, begitu,” kata yang lain.

“Baru-baru ini ia ikut sarasehan para penyair muda di pedalaman Solo,” kata yang lain lagi. “Khabarnya dia dekat dengan penyair Apridjal Malano.”

Anisah bingung mendengarkan penjelasan anak-anak muda itu. Ia tidak habis pikir, mengapa mahasiswa begitu banyak kegiatannya?

“Apa itu penyair? Tukang ramal gunung meletus?”

“Bukan Bu. Itu Mbah Bromo. Penyair itu pujangga yang menulis puisi.”

“Apa dia dapat gaji?”

“Maksud Ibu?”

“Ya, kalau dia sibuk apa tadi? Diskusi, seminar, membuat sair-sair? Itu ada imbalan uangnya?”

“Tergantung.”

“Tergantung di mana?”

“Maksud saya, pandai-pandai Bang Agus. Kalau dia pandai-pandai, tentu ia dapat uang.”

“Tapi, Ibu selalu kirim dia uang tiap bulan,” seperti berkata pada dirinya sendiri sambil merenungkan betapa capainya ia bekerja mengumpulkan uang sedikit-sedikit. Ternyata, Agus harus mencari uang tambahan lagi… Itu berarti uang kirimannya tiap bulan tidak mencukupi biaya kuliah Agus. Ia menyalahkan dirinya. Tiba-tiba ia seakan mendapatkan inspirasi untuk bertanya sesuatu yang lebih penting.

“Kapan Agus tamat kuliah dan jadi insinyur?”

Anak-anak muda itu berpandangan satu sama lain sambil mengangkat bahu. Salah seorang berinisiatif untuk meredakan kegundahan Anisah. Dengan senyum mengambang ia pun berkata.

“Bu, sebaiknya ibu datang ke Bandung. Kalau Ibu tidak cukup uang beli tiket pesawat, bisa naik bus Lintas Sumatra. Cuma dua malam, kok. Jadi, Ibu bisa lihat kesibukannya. Sekalian melepas rindu.”

“Tapi saya tidak tahu alamatnya. Saya belum pernah ke Jawa.”

“Gampang. Nanti kita pergi sama-sama. Dua minggu lagi.”

Melalui gang-gang berliku, Anisah sampai di kamar kos putranya Agus Budiman di bilangan perkampungan padat dekat kampus sebuah perguruan tinggi di Bandung. Ia diantar pagi itu setelah lelah dihempas dan dibanting-banting goncangan bus di jalanan buruk Lintas Sumatra dua hari dua malam oleh salah seorang mahasiswa yang bersedia memandunya di perjalanan. Kamar Agus terkunci. Tak ada tanda-tanda kehidupan di kamar itu. Dengan pertolongan pemilik rumah kos, Anisah berhasil masuk ke kamar pengap berukuran dua kali tiga meter itu.

Perempuan ringkih itu ingin berbaring, melepas lelah dipukul rindunya yang terpendam. Akan tetapi kamar itu mirip gudang yang sudah lama ditinggal pemiliknya. Semuanya berantakan dan penuh debu. Tumpukan buku, kertas-kertas coretan, bungkus rokok, koran di segala sudut, kasur lecet yang terlipat, gelas-gelas bekas kopi, sendal butut, dan setumpuk pakaian kotor. Poster-poster terkelupas di dinding yang lembab dirangkai jelaga dan jaring laba-laba yang sesekali bergerak lemah ditiup angin dari lubang udara. Di balik pintu, bergelantungan celana jin robek dan jaket bau keringat petualang.

Tanpa sempat mengusik kecentangperenangan itu, Anisah terduduk di samping lipatan kasur tanpa alas, merenungkan wajah putra kebanggaannya itu. Dari doanya yang paling dalam, ia berharap Agus tiba-tiba muncul. Diyakin-yakinkannya hatinya, karena tadi salah seorang mahasiswa tetangga kamar kos Agus berjanji mencoba menghubungi Agus lewat sms. Tiba-tiba pintu kamar itu diketuk dari luar.

“Bu, maaf Bu. HP Mas Agus agaknya tidak aktif. Saya sudah beberapa kali mengontaknya. Tapi, Ibu jangan khawatir, kadang-kadang larut malam, ia muncul tiba-tiba. Kalau Ibu perlu apa-apa, ketuk saja kamar saya di sebelah,” mahasiswa baik hati itu berkata.

Anisah tertidur dalam posisi meringkuk. Ia terlalu lelah setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh, yang belum pernah dialaminya seumur hidup. Ia bermimpi Agus datang. Agus langsung bersimpuh mencium kakinya. Lalu bercerita tentang gadis Sunda yang cantik calon istrinya. Tapi, wajah Nyonya Rakusni segera muncul dalam mimpinya dengan setumpuk kalimat yang menyengat.

“Kalau Agus sudah tamat insinyur dan mau menikah dengan Mira, ongkos perjalananmu ini gratis. Tapi kalau tidak, cukup kau bayar dengan cicilan. Jangan lupa, bunganya sepuluh persen.”

Anisah terbangun ketika tiga orang mahasiswa, teman-teman sekosan Agus datang mengetuk pintunya. Senja turun di Bandung dengan suhu menggigilkan Anisah yang mulai merasa tua. Anak-anak kos yang baik itu bermurah hati membersihkan kamar Agus dan membawakan makanan. Mereka menghibur Anisah dengan keramahan orang-orang terpelajar.

“Kalau Mas Agus belum datang juga, Ibu jangan khawatir. Anggaplah kami anak-anak Ibu sendiri,” kata salah seorang.

“Mas Agus itu senior kami di sini. Ia orang baik. Sekarang ia sudah jadi penyair. Kalau tidak salah, ia pernah bilang mau ke Bali.”

“Ke Bali? Di mana itu? Apa dia punya ongkos?”

“Malah ada yang bilang, Mas Agus diundang ke Rotterdam baca puisi,” kata yang lain.

“Ibu jangan khawatir, dia punya banyak teman.”

“Apa jadi penyair itu berarti dia sudah bekerja? Apa dia sudah insinyur?”

“Jadi penyair tidak perlu insinyur dulu, Bu. Penyair itu profesi. Ya, pekerjaan juga.”

“Tolong antarkan Ibu ke kantor penyair, mau ya? Ibu perlu ketemu dia. Ibu tidak mungkin lama-lama di sini. Ayahnya Agus sakit-sakitan. Sebentar-sebentar, kambuh asmanya.”

Tiga mahasiswa itu terdiam. Mulai mengerti dan paham.

Di malam yang ketujuh, cukup sudah jantung Anisah dirobek-robek rindu. Agus tak kunjung muncul. Ia ingin segera pulang esok harinya. Malam itu ia ingin menulis surat untuk ditinggalkan agar dibaca Agus kalau ia pulang ke sarangnya. Ia ingin menulis panjang-panjang, tentang banyak hal, termasuk tentang Mira gadis bungsu Nyonya Rakusni yang menunggunya. Akan tetapi ia tak sanggup menuliskan semuanya, kecuali: “Ibu rindu sekali ketemu, Gus. Sayang kamu entah di mana. Jadilah anak yang saleh, Gus. Doakan ibu dan ayahmu selalu, ya. Sakit ayahmu parah.”

Perjalanan panjang menempuh medan berat Lintas Sumatra dihadangnya tanpa persiapan uang makan di jalan. Hanya kasihan oranglah yang membantunya. Anisah hanya banyak minum air di tempat-tempat perhentian yang akhirnya mengantarkan dirinya dengan selamat ke kampungnya, di kaki Gunung Talang. Akan tetapi, ia tidak menjumpai suaminya di rumah. Ayah Agus dirawat inap di rumah sakit kabupaten sepeninggal Anisah.

Hari kesepuluh Ayah Agus dirawat di rumah sakit kabupaten, terlihat semakin parah. Anisah dan Gadis tampaknya sudah pasrah. Saat itulah surat Agus datang. Isinya pendek saja dan tak sepenuhnya dimengerti oleh Gadis maupun ibunya Anisah.

“Bacakan surat itu, Dis. Apa kata anak durhaka itu?” ujar ayahnya tersendat-sendat.

Gadis memandang ibunya, seakan minta persetujuan. Anisah mengangguk. Gadis pun membacanya dengan gaya seorang deklamator.

“Anakmu bukanlah anakmu, ia hanya busur panah mesti kau lepaskan. Aku sudah lama bukan kanak lagi. ”

Ayahnya terdiam. Anisah bungkam dan air matanya menghujan. Gadis membaca doa dengan hati teriris. Ayah Agus sudah pergi tanpa pesan apa-apa, seperti tidak terjadi apa-apa, setelah jiwanya melesat bagai anak panah yang lepas dari busurnya.
loading...