Contoh Cerpen Budi Pekerti Anak

Contoh Cerpen Anak - Masa anak-anak adalah masa yang indah. Masa dimana si anak mulai mengeksplorasi dunia barunya. Pada periode ini, anak-anak juga memulai untuk belajar formal di Play Group, Taman Kanak-kanak dan juga selanjutnya belajar di bangku Sekolah Dasar atau biasa disingkat dengan SD. Pada masa permulaan sekolah inilah merupakan salah satu masa-masa awal pembentukan karakter si anak.

Ada beberapa cara dalam proses pembentukan karakter pada anak, diantaranya dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah, mengenalkan dan membiasakan hal-hal positif pada anak dalam lingkup keluarga dan memberikan pengarahan atau pengertian tentang hal-hal positif yang bisa diterapkan dan dilakukan dalam lingkungan masyarakat. 

Cerpen dibawah ini merupakan salah satu contoh cerpen yang menceeritakan perilaku anak yang pada awalnya memiliki sifat jail, hingga akhirnya dia tersadarkan atas perilakunya yang salah tersebut. Silahkan disimak cerpennya ya Sob..




Satria 

Satria gelisah di tempat duduknya. Jam dinding diatas papan tulis menunjukkan pukul 06.50. Sudah lima menit berlalu sejak bel masuk berbunyi. Teman-temannya di kelas 3-A yang lain sedang mengerjakan ulangan matematika dengan tenang. Sesekali terdengar bunyi pensil diletakkan di meja, berganti suara penghapus digosok diatas kertas. Semua sibuk. Bahkan Bu Guru pun sibuk berkeliling, mengawasi teman-temannya yang sedang ujian. Hanya Satria yang duduk dengan gelisah.

Tangan Satria mulai basah oleh keringat. Lima menit sudah berlalu. Jam dinding menunjukkan pukul 06.55. Belum ada satu soal pun yang dikerjakannya. Satria bukannya tak tahu jadwal ujian hari ini. Dia tahu. Dan dia sudah belajar. Seharusnya dia bisa menjawab soal-soal itu. Tapi dia belum melakukannya.

Dia melirik ke arah Bimbi yang duduk di sebelah kanannya. Bimbi sedang menunduk menghadapi kertas ulangan dengan serius. Kacamatanya beberapa kali melorot. Tangan kiri Bimbi dengan sigap membenarkannya. Rambut ikal Bimbi bergoyang-goyang ketika kepalanya bergerak. Satria sudah ingin membuka mulutnya, tapi ia teringat sesuatu.


“Iiiiihhh.... buang itu. Buang.” Jerit Bimbi minggu lalu ketika Satria membawa sebatang ranting dengan ulat hijau di ujungnya. Ulat yang sering hinggap di pohon jeruk di halaman sekolah.

“Masa sama ulat kecil begini takut, sih?” ledek Satria.

Bimbi semakin ketakutan ketika Satria menyorongkan ulat hijau itu kearahnya. Bimbi berlarian di dalam kelas, menghindari Satria yang membawa ulat hijau. Dan terjadilah peristiwa itu. Bimbi tersandung salah satu kaki meja, jatuh, kemudian kacamatanya pecah. Tanpa kacamata, Bimbi tidak bisa melihat papan tulis dengan jelas. Bimbi menangis. Satria merasa lucu melihat Bimbi tanpa kacamata bulatnya.

Dan ia tertawa.


Satria urung memanggil nama Bimbi. Pandangannya beralih pada Kinan yang duduk di depan Bimbi. Kinan adalah salah satu temannya yang rajin dan juga cerewet. Satria mengumpulkan keberanian untuk memanggil Kinan.

“Enggak boleh.” suara Kinan siang itu terngiang di telinga Satria. Tangan Kinan mendekap erat buku bahasa indonesia miliknya. “Kemarin dulu kamu pinjam bukuku tapi lupa mengembalikan. Akibatnya aku dihukum Bu Guru karena tidak mengerjakan tugas.” ujar Kinan.

“Kali ini cuma sebentar kok. Kalau enggak boleh aku bawa pulang, aku pinjam disini saja. Aku kerjakan di sini.” bujuk Satria. Kinan tetap menggeleng.

“Pelit banget, sih.” Satria merajuk. Kemudian dengan sekuat tenaga dia berusaha merebut buku bahasa indonesia yang sedari tadi didekap Kinan dengan erat. Terjadilah tarik menarik antara Kinan dan Satria.

Kreeekkk. Suara itu mengejutkan keduanya. Mereka sama-sama terdiam. Buku itu robek. Terbelah menjadi dua bagian. Kinan dan Satria masing-masing memegang sebagian. Lalu tangis Kinan pecah. Satria lebih memilih melarikan diri daripada meminta maaf. Dia takut kena marah Bu Guru.

Satria semakin gelisah. Sudah pukul 07.05. Waktunya semakin sedikit untuk mengerjakan seluruh soal. Dia berencana akan mengerjakan soal yang dikuasainya lebih dulu. Dan mengerjakan sisanya andai waktunya cukup. Satria meremas tangan dengan gelisah. Tangan Satria berkeringat semakin banyak. Waktu terus berjalan. Dia harus segera menyelesaikan soal-soal matematika itu sebelum bel berbunyi.

“Masih ada waktu lima puluh menit lagi, anak-anak. Jangan terburu-buru. Periksa lagi jawaban kalian dengan teliti.” suara Bu Guru terdengar jelas di kelas yang sunyi. Satria semakin gelisah. Apakah ia harus mencoba meminta bantuan pada Bu Guru?

Waktu terus berjalan. Empat puluh lima menit lagi. Masih cukup waktu untuk mengerjakannya andai saja...

“Sssttt... Satria!”

Satria mendengar dengan jelas ada yang memanggil namanya.

“Satria!”

Satria memberanikan diri menengok kebelakang. Ayra, si Kuncir Kuda, sedang tersenyum padanya. Tangan kanan Aya teracung padanya, menggenggam benda yang dibutuhkannya untuk mengerjakan soal-soal matematika.

Satria ragu menerimanya. Tapi Ayra terus mengacungkan benda itu.


“Ini, pakai punyaku.” ujarnya dengan nada tulus. Tidak ada nada marah sama sekali. Padahal Satria selalu usil padanya. Setiap hari Satria selalu usil pada siapa saja. Termasuk pada Ayra, teman paling mungil di kelasnya. Ayra selalu menjadi korban keisengannya. Rambut Ayra yang selalu dikuncir satu bergoyang-goyang lucu, membuat Satria gemas dan akhirnya menarik kuncir rambut Ayra.

“Sakit!” teriak Ayra ketika kuncir rambutnya, lagi-lagi, ditarik Satria.

Bukannya minta maaf, Satria malah tertawa. Biasanya, ketika Satria usil, teman-temannya akan melapor pada Bu Guru. Dan Satria akan dimarahi setelah itu. Tapi Ayra berbeda. Dia tidak pernah sekalipun melapor pada Bu Guru.

“Aku bukan pengadu!” jawab Ayra ketika Satria bertanya kenapa tidak pernah melapor pada Bu Guru.

“Lagipula Bu Guru sudah banyak pekerjaan. Kasihan kalau harus ditambah dengan aduan kecil anak nakal seperti kamu.” jawab Ayra.

Satria mencibir jawaban Ayra saat itu. Dia menganggap Ayra sok baik supaya disenangi oleh teman dan guru. Tapi hari ini Satria sadar kalau itu salah. Ayra benar-benar tulus dan baik. Benda di tangannya adalah bukti bahwa Ayra tidak marah meski dia selalu menarik rambutnya setiap hari.

“Terima kasih, Ay.” bisik Satria.

“Ayo, cepat kerjakan. Masih banyak waktu.” balas Ayra sambil tersenyum.

Satria menganggukkan kepala. Kini, dia bisa mengerjakan soal-soal di hadapannya. Dia sudah punya benda yang dibutuhkannya. Sebatang pensil. Satria pasti lupa memasukkan kembali tempat pensilnya setelah belajar semalam. Satria berjanji dalam hati, dia akan menjadi anak baik, seperti Ayra.

10 Contoh Puisi Cucuk Espe

Contoh Karya Sastra Cucuk Espe - Siapakah Cucuk Espe, sastrawan yang sangat aktif berkreasi dalam jagat sastra ini? Cucuk Espe adalah seorang aktor kelahiran Jombang, 19 Maret 1974. Ia juga merupakan seorang penyair, esais, cerpenis, dan penulis naskah drama. Cucuk juga dikenal sangat produktif dalam menulis di berbagai media cetak nasional di Indonesia dan juga beberapa jurnal seni di luar negeri. 

Ia memperlajari bahasa Indonesia di IKIP Malang, setelah itu ia menjadi seorang seniman dan mendirikan Teater Kopi Hitam Indonesia. Teaternya tersebut telah berpentas hampir di seluruh kota besar di Indonesia.  Ia juga pernah meraih penghargaan sebagai aktor teater terbaik pada Peksiminas III di Taman Ismail Marzuki Jakarta 1995.  


Banyak karya sastra yang telah ia hasilkan. Berikut karya-karyanya dalam dunia sastra:

Karya Drama/ Teater 
  • Para Pejabat, (1995) 
  • Monolog Sang Penari, (1997) 
  • Bukan Mimpi Buruk, (1998) 
  • Mengejar Kereta Mimpi, (2001)
  • Rembulan Retak, (2003) 
  • Juliet dan Juliet, (2004) 
  • 13 Pagi, (2010) 
  • Trilogi monolog JENDERAL MARKUS, (2010) 
  • INONG dongeng rumah jalang, (2011)
  • Wisma Presiden, (2012)  
Karya Skenario Film TV 
  • Kuda Lumping dari Gunung Sumbing, (TVRI, 1996) 
  • Ketupat Lebaran, (sinema lebaran, 1998) 
  • Perempuan Bukan Perempuan, (IndMovie Festival, SCTV, 1999) 
  • Matahari dalam Selokan, (SCTV Movie, 2001) 
  • Jadikan Aku Perempuan, (IndiePro, 2010) 
Karya Novel / Cerpen / Buku 
  • Bulan Sabit di Atas Kubah (Pustaka Radar Minggu, 2010) 
  • 13 Pagi diangkat dari repertoar teater (Pustaka Radar Minggu, 2011) 
  • Ketika Karya Sastra Dipanggungkan (Lembaga Baca-Tulis Indonesia, 2012) 
  • Sejumlah cerpen dan esai yang tersebar di media cetak dalam dan luar negeri 
Penghargaan 
  • Aktor Teater Terbaik Peksiminas III di Jakarta (1995) 
  • Terpilih sebagai cerpenis terbaik 2 FolkFEST II Desember 2010 di Bangkok, Thailand.

Untuk lebih mengenal karya sastranya, berikut 10 karya sastra yang berbentuk puisi dari Cucuk Espe:


Pada Jembatan Berbatu

Jalan itu menikung dan berbatu
Padahal hujan baru saja berlalu
Bias embun seperti cermin
Di rerumputan tanah membeku
Baca sajakku jika gelisahmu berlalu
Baca sajakku jika malammu beradu
--; Dan berhentilah di jembatan itu

Ambillah sepucuk dedaun, ambil!
Jatuhkan ke riuh air tanpa ragu
Seekor ikan terjerat mata kail
Lihat dia berlari dan terus berlari
--; Tanpa peduli detak jantungmu

Ini jalan menikung dan berbatu.



Hidup dalam Sajak

Mari bicara dengan hati dewasa
Seperti rerumputan ketika senja
Seperti rembulan rona purnama
Menari di antara risau tanpa henti
--; Begitulah hidup kita lewati

Menjadi dewasa bukan soal kata
Ketika mampu mempermainkan makna
Bahwa hidup sejatinya berhenti
Saat kita tak kuasa bermimpi
--; Bukan mati tetapi hilang diri

Mari bicara dengan hati dewasa
Seperti malam menidurkan matahari
Seperti hujan melepas janji.



Sajak Minum Kopi

Tuangkan kopi secangkir saja
Pelepas dahaga sebelum senja
Kibaskan penat sebelum terjaga
Lepaskan duka tuang sebisanya
Mari minum sepelan lupa

Hidup harus memiliki arti
Meski hitam secangkir kopi
Meski kelam jangan pikir lagi
Bulan tak akan mengulang hari
Tapi ombak selalu memeluk pantai
--; Di sini aku menulis sunyi

Sebelum matahari merah sembunyi
Tumpahkan kopi ke tepi hati
Sedikit lagi.



Senja Pelabuhan Ratu

Aku ada di sini
Di tepi Pelabuhan Ratu
Menulis sajak memeluk pantai
Camar rindukan pantai
Hilang di karang landai

Aku ada di sini
Kepada pasir angin mengalir
Kepada bebatu tajam menghadang
Pecah gelombang sebelum tujuan
--; Basahi jemari sedalam lukamu

Ada perahu di ujung cakrawala
Melaju di senja Pelabuhan Ratu
Seperti doa kupanjatkan penuh ragu
Seperti lentera sunyi malam itu
Malam ketika nelayan hilang kejujuran



Kisah Burung Manyar

Gemercak angin menyapa daun bambu
Burung manyar merentak sayap
Hinggap terbang di pucuk senyap
Menuju sarang dan terlelap
Selesai hidup matahari redup

Aku ceritakan tentang burung itu
Kepadamu sebelum malam pengap
Rembulan tersesat di belantara awan
Jatuh membayang di sela air
pendar dan hilang kabar
Seribu burung manyar terpejam
Seribu burung manyar tertunduk diam
Saat angin merayu pucuk bambu
--; di jantung kampungku

Kini adalah pohon bambu menyambutmu
Saat sayup menderas kalbu
Saat bayang jagung kering membeku
Adakah sarang itu berteriak lantang;
"Datanglah padaku oh burung manyarku
Tidurlah di relungku oh burung manyarku
Simpanlah sayap sebelum esok menyerbu"

Burung manyar terbang liar
Melayang nanar tanpa binar
Tinggal angin menyapa pucuk bambu
Sarang kosong tanpa peluk rindu
Biarkah Sang Manyar hinggap di jemarimu
--; Biarkan!



Sang Penyair

Penyair itu seperti air
meski bebatu dan ranting rumput hanyut
tetap mengalir

Penyair itu seperti kabut
meski hujan dan malam larut
sajak tetap terajut

Penyair itu seperti kenari
meski sepi dan benci mengurung hati
tetaplah lincah menari

Dan,
Penyair itu bukan aku
meski selaksa sajak sehari
'ku tak bisa menjadi matahari
'ku tak bisa melukis mimpi

Tapi sajakku ada disini.



Kepada Bung Besar

Selamat malam, Bung!
Jakarta kini mendung bukan berkabung
Pesta baru mulai lekaslah bergabung
Tuang vodka sekedarnya tanda sapa
--; Ini bukan pesta jelata

Biarkan di luar demonstran mengiba
Biarkan koran-koran naik oplahnya
Biarkan televisi sibuk galang opini
--; Kita berada di tempat aman, Bung

Negeri ini seperti pasar malam
Semua permainan tersedia di sini
Jangan lupa harus saling mengerti
Itu kebijaksanaan kelas tinggi
Jika tidak dihabisi kawan sendiri
Buat cerita jual esok pagi

Jika rakyat sengit beri saja sandal jepit
Terlibat korupsi tak ada hukuman mati
Presiden siap tandatangani remisi
--; Jadi takut apalagi?

Selamat malam, Bung!



Kisah Sandal Jepit

Aku ingin bercerita tentang sandal jepit
Di negeri yang suka mempersulit
Dipimpin pejabat kaya perut buncit
Rakyat tinggal tulang berbalut kulit
Keadilan jauh di atas langit
Kemakmuran hanya bikin sakit

Ini tentang sepasang sandal jepit
Tapi sandal ini terlalu nakal
Hingga mampu menyobek akal
Tipis batas benar dan bebal
--; Jujur dianggap membual

Karena itu aku ingatkan;
Jangan sesekali mencuri sandal
Hukumannya seberat skandal
Sekali lagi aku ingatkan;
Sandal dan skandal tak beda

Mencuri sandal meringkuk di penjara
Melakoni skandal tinggal tepuk hakimnya
Begitulah keadilan di Negeri Sandal
--; Zamrud katulistiwa yang terjepit.



Camar Bulan - Tanjung Datu

Ini cerita tentang negeriku
zamrud khatulistiwa yang nestapa
kaya tapi selalu meminta-minta
subur tapi sangat tidak makmur
menjadi budak kapitalisme lamur
--; diinjak -injak kawan serumpun

Camar Bulan - Tanjung Datu
saudaraku setanah seibu
dijarah tanpa banyak tahu
penguasa asyik main dadu
demi mempertahankan kursi palsu

O...Camar Bulan - Tanjung Datu
kobarkan kepak semangatmu
lawan siapapun yang mencegatmu
bakar! bakar api di jantungmu
babat! babat siapapun yang memperalatmu
--; meski itu saudara lamamu

Kibarkan panji NKRI
ganyang siapapun yang berani
jangan menunggu rejim banci
kedaulatan negeri tak cukup diplomasi



Dornasia; Negeri Seribu Janji

Namaku Dorna
Aku lahir di negeri yang indah dan ramah
Negeri jarang terjamah, jauh dari rasa gundah
Sungai-sungai mengalir lirih
Kicau burung pagi menyambut mentari
Membangunkan wajah negeri dari mimpi
Menyambut hari tanpa menjual harga diri.

Namaku Dorna
Mirip nama tokoh pewayangan
Berjalan pada sepertiga malam terakhir
Mengayun takdir hingga titik nadir
Dorna yang penjagal nasib baik
Dorna sang penghasut lalu hilang dibalik kabut
Menyisakan tangis sampai maut menjemput.

Dan inilah awal kisah manis itu…

“Aku datang membawa kelam malam
Ke negeri yang penuh muslihat
Miskin akal sehat, gudang kaum melarat
Anak-anak telanjang dada bermain di pematang
Para perempuan meregang mimpi menahan lapar
Hujan datang menghantam setumpuk kedinginan”

“Kutemui perempuan menggamit putri mungilnya
Wajah bening, berbibir kecil, menggantung senyum ketidakmengertian.
Berlari menelusuri pematang dengan langkah meradang.
Putri mungilnya pun menangis
Menahan gerimis, tipis menusuk nadi”

“Ibu…
Kenapa aku dilahirkan di negeri seperti ini?
Kenapa aku dilahirkan disini…?
Ketika semua tidak bisa kumengerti
Negeri yang membuat ibu susah
Negeri yang membuat ibu lelah”

“Ibu…
Dimana senyum yang kurindukan?
Dimana canda nyaman yang kuimpikan?
Dimana makanan kecil yang selalu ada di meja makan?
Dimana peluk yang tersedia setiap malam?”
Sang ibu membingkai senyum
Mengurai asa digaris senja
Menjawab tanya sesuai doa
Ibu dan putri mungilnya itupun melangkah pelan
Sepelan gerimis mengalir ringan.

Aku Dorna,
Sebenarnya tak sanggup meneruskan cerita ini
Cerita yang tak seindah dongeng
Atau semanis nyanyian pengantar tidur
Tentang negeri impian yang dipenuhi bunga
Dan senyum kebahagiaan.

“Putri kecilku…
Kutak minta kau dilahirkan disini
Kutak minta kau meregang lapar disini
Kutak minta kau kehilangan harapan di negeri ini”

“Lihatlah!
Mereka sibuk mendongeng sendiri
Membakar ketulusan, membungkam keikhlasan
Di negeri ini, kita belajar menjual harga diri
Menyobek martabat, menggandeng segudang laknat”

“Dan Putri kecilku…
Kita bagian dongeng itu
Legenda yang tidak mampu dimengerti
Legenda cinta penuh muslihat
Kalimat busuk terhidang dalam perjamuan suci”

Negeri ini semakin compang-camping saja
Negeri ini semakin liar!
Doa dan dosa menjadi muslihat yang keramat
Rakyat menjadi korban tanpa tobat
Pejabat mengumbar tingkah bejat
Kebaikan adalah dosa besar!
Ketulusan haram hukumnya.

Aku Dorna,
Dan kuberi nama negeri ini; Dornasia!
Kelak anak-cucuku akan mengenang kenyamanan menyiksa ini
Dornasia, negeri mimpi yang dipenuhi janji
Ya! Sekedar janji!

“Ibu…
Meski bergelimang janji
Aku bangga lahir di negeri ini
Negeri yang penuh muslihat
Dan perilaku sulit dimengerti

Aku bangga disini
Meski harus melacurkan hati
Menjual diri demi sesuap mimpi.

Lihat mereka!
Bangga tanpa kata-kata, itulah seharusnya
Tuhan mengajariku doa;
Suatu saat kelak, rapuh mimpiku mengubah mereka
Lemah jemariku menggandeng siapa saja
Kembali menjejak pada kebenaran”

Aku berjanji,
Pabila dewasa nanti, kuubah negeri ini
Menjadi negeri penuh harga diri
Tegak diatas mimpi bangsa sendiri
Tersenyum menggenggam budaya tinggi
Kaya diatas tanah air pribumi

Aku berjanji,
Menyapu bersih teras dan ruang tamu
Dari muslihat gaya baru
Menyeka meja-kursi dari debu masa lalu
Mengguyur baju-baju dari noda saudara-saudara tuaku.

Ibu, aku berjanji
Negeri ini akan bening
Rakyat akan hening
Jika penguasa bijak tanpa berpaling"

Dornasia Raya!
Berparas cantik, bermata lentik
Meski cuma sedetik.

Dornasia…! Tanah airku, Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri….jadi beban bangsaku…

Ya! Cuma berdiri tanpa berbuat apapun!
Akulah Dorna
Maaf, jika ibu dan anak itu, akhirnya…
Menjual diri di negeri sendiri
Merampok milik sendiri
Membunuh kerabat sehati

Dornasia!
Negeri seribu janji
Membentang tepat di khatulistiwa peradaban.

10 Contoh Puisi Ahmadun Yosi Herfanda

Contoh Puisi Ahmadun Yosi Herfanda -  Sastrawan yang akan dibahas dan dipelajari karya sastranya berikut ini adalah sastrawan yang memiliki nama Ahmadun Yosi Herfanda. Ia lahir di Kaliwungu, Kendal, 17 Januari 1958. Alumnus FPBS IKIP Yogyakarta ini menyelesaikan S-2 jurusan Magister Teknologi Informasi pada Universitas Paramadina Mulia, Jakarta. Ia pernah menjadi Ketua III Himpunan Sarjana Kesastraan Indonesia (HISKI, 1993-1995), dan ketua Presidium Komunitas Sastra Indonesia (KSI, 1999-2002). Tahun 2003, bersama Hudan Hidayat dan Maman S. Mahayana, mendirikan Creative Writing Institute (CWI). 

Ahmadun juga pernah menjadi anggota Dewan Penasihat dan anggota Mejelis Penulis Forum Lingkar Pena (FLP). Tahun 2007 terpilih menjadi ketua umum Komunitas Cerpenis Indonesia (periode 2007-2010), tahun 2008 terpilih sebagai presiden (ketua umum) Komunitas Sastra Indonesia (KSI), sejak 1993 sampai 2009 menjadi redaktur sastra Republika, dan tahun 2010 menjadi ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sejak 2007 ia juga menjadi “tutor tamu” untuk apresiasi dan pengajaran sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) RI, dan sejak 2009 menjadi direktur Jakarta Publishing House, serta mengajar sastra dan jurnalistik di sejumlah perguruan tinggi.

Selain itu, ia juga sering menjadi ketua dan anggota dewan juri berbagai sayembara penulisan dan baca puisi tingkat nasional. Selain menulis puisi, Ahmadun banyak menulis cerpen dan esei, serta buku biografi tokoh, buku wisata, dan company profile. Karya-karyanya dipublikasikan di berbagai media sastra dan antologi puisi yang terbit di dalam dan luar negeri. Antara lain: Horison, Ulumul Qur’an, Kompas, Media Indonesia, Republika, Bahana (Brunei), antaologi puisi Secreets Need Words (Harry Aveling, ed, Ohio University, USA, 2001), Waves of Wonder (Heather Leah Huddleston, ed, The International Library of Poetry, Maryland, USA, 2002), Jurnal Indonesia and The Malay World (London, Ingris, November 1998), The Poets’ Chant (The Literary Section, Committee of The Istiqlal Festival II, Jakarta, 1995). Beberapa kali sajak-sajak Ahmadun dibahas dalam Sajak-Sajak Bulan Ini Radio Suara Jerman (Deutsche Welle).


Berikut 10 Puisi Ahmadun Yosi Herfanda yang bisa Sobat simak.

ZIKIR SEEKOR CACING

dalam duniamu aku cacing tak bermakna
yang melata dari lumpur ke lumpur
peradaban tanpa jiwa, yang menggeliat
di selokan-selokan kumuh kota, yang
bahagia ketika pohon-pohon berbunga

cobalah kaudengar zikirku, menetes
jadi madu di pucuk-pucuk akar pohon itu
kucangkul tanah keras jadi gembur
kurabuk ladang tanpa hara jadi subur
kubimbing akar-akar pohonan
menyusup sela-sela batu dan belukar
menghisap sari madu kehidupan
sedang aku cukup tumbuh
dari daun-daun gugur

di kota-kota padat beton dan baja
aku jadi penghuni tak berharga
tapi dengarlah kecipak ikan-ikan
bernyanyi atas kehadiranku
ketika tubuhku kurelakan
lumat jadi santapan

akulah si paling buruk rupa
diantara para kekasih dunia
namun syukurku tak tertahankan
ketika dapat ikut menyuburkan
taman bunga di beranda


1990


SUNGAI IMAN

sungai itu panjang sekali
mengalir ke dalam tubuhmu
dengan penuh cinta aku pun berlayar
bersenandung dalam konser ikan-ikan

sungai itu dalam sekali
berpusar dalam palung jiwamu
dengan penuh gairah aku pun menyelam
menangkap makna hidup pada mata kerang

sungai itu panjang sekali
di arusnya aku memburumu
tak sampai-sampai


1990


ZIKIR SEMUT

semut-semut pun kauanugerahi
sepercik cahaya pagi
hatinya yang kaucintai
terang dalam kegelapan hari

ketika cahaya langit mekar
berjuta semut berzikir
berderet di akar pohon
bagai beribu sufi
menyanyikan shalawat nabi

karena kauanugerahi kekuatan
semut-semut dengan ringan
memanjat ranting dan daun
meletakkan cintaku
di putik bunga

dan sang embun pun berkata:
barangsiapa tak kauanugerahi cahaya
akan tersuruk-suruk langkahnya
bagai semut kehilangan kepala


1990


RESONANSI BUAH APEL

buah apel yang kubelah dengan pisau sajak
tengadah di atas meja. Dan, dengan kerlingnya
mata pisau sajakku berkata, ”Lihatlah, ada puluhan
ekor ulat besar yang tidur dalam dagingnya!”

memandang buah apel itu aku seperti
memandang tanah airku. Daging putihnya
adalah kemakmuran yang lezat dan melimpah
sedang ulat-ulatnya adalah para pejabat
yang malas dan korup

tahu makna tatapanku pisau itu pun berkata,
”Kau lihat seekor ulat yang paling gemuk
di antara mereka? Dialah presidennya!”

buah apel dan ulat
ibarat negara dan koruptornya
ketika buah apel membusuk
ulat-ulat justru gemuk di dalamnya


Jakarta, 1999/2003


SEMBAHYANG RUMPUTAN

walau kaubungkam suara azan
walau kaugusur rumah-rumah tuhan
aku rumputan
takkan berhenti sembahyang
:inna shalaati wa nusuki
wa mahyaaya wa mamaati
lillahi rabbil ‘alamin

topan menyapu luas padang
tubuhku bergoyang-goyang
tapi tetap teguh dalam sembahyang
akarku yang mengurat di bumi
tak berhenti mengucap shalawat nabi

sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan jiwa dan badan
yang rindu berbaring di pangkuan tuhan
sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan habis-habisan

walau kautebang aku
akan tumbuh sebagai rumput baru
walau kaubakar daun-daunku
akan bersemi melebihi dulu

aku rumputan
kekasih tuhan
di kota-kota disingkirkan
alam memeliharaku subur di hutan

aku rumputan
tak pernah lupa sembahyang
:sesungguhnya shalatku dan ibadahku
hidupku dan matiku hanyalah
bagi Allah tuhan sekalian alam

pada kambing dan kerbau
daun-daun hijau kupersembahkan
pada tanah akar kupertahankan
agar tak kehilangan asal keberadaan

di bumi terendah aku berada
tapi zikirku menggema
menggetarkan jagat raya
: la ilaaha illalah
muhammadar rasululah
aku rumputan
kekasih tuhan
seluruh gerakku
adalah sembahyang


1992


DOA PEMBUKA

hanya milikmu cahaya pagi hingga senja
dan rahasia kegelapan ketika malam tiba
pada muhammad kauanugerahkan kemuliaan
pada sulaiman kaulimpahkan keberadaan
kau tunjukkan keindahanmu melalui yusuf
dan cinta kasihmu melalui isa
di hati kekasihmu sejati pun kautanam
rahasia kemakrifatan

kaujadikan perut burung-burung
kenyang ketika petang
dan lapar kembali ketika pagi
hingga terdengar selalu kicaunya
menghiasi kelompok hari yang terjaga

kaujadikan bintang-bintang
selalu bertasbih padamu
kauciptakan pohon-pohonan
selalu berzikir padamu
o, allah, anugerahi aku kesetiaan
tanganku menjadi tanganmu
kakiku menjadi kakimu
lidahku menjadi lidahmu
mataku menjadi matamu
telingaku menjadi telingamu
hatiku menjadi istanamu
:bumi dan langit tak mengandungku
tapi hamba berimanku mengandungku*


*dari Hadis Qudsi



1989


SAJAK URAT LEHER

karena cinta tuhan meletakkan
dua malaikat di pundakmu
-inilah pengasuh-pengasuhmu
kata tuhan. sayap-sayapnya
bisa membawamu terbang ke langit
sekaligus berpijak di bumi lagi

engkau tak perlu takut
malaikat bukan polisi atau satpam
bersih dari amplop dan uang sogok
tak suka dijilat maupun menjilat
malaikat bersih dari nafsu-nafsu burukmu
karena cinta tuhan meletakkan
dua malaikat di pundakmu
karena cinta tuhan lebih dekat
dari urat lehermu


1990


DI BAWAH LANGIT MALAM

purworejo

kucium kening bulan
dalam sentuhan dingin angin malam
ayat-ayat tuhan pun tak pernah bosan
memutar planet-planet dalam keseimbangan

langit yang membentang
menenggelamkanku ke jagat dalam
kutemukan lagi ayat-ayat tuhan
inti segala kekuatan putaran

jagad yang menghampar
membawaku ke singgasana rahasia
pusat segala energi dan cahaya
membebaskan jiwa
dari penjara kefanaannya

kucium lagi kening bulan
engkau pun tersenyum
dalam penyerahan


1983


REINKARNASI

kukembalikan dagingku pada ikan
kuserahkan darahku pada kerang
makanlah milikku, ambil seluruhku
kukembalikan tulangku pada tripang

jika aku mati
hanya tinggal tanah
jiwaku membumbung
ke kekosongan

bertahun-tahun aku mengail
berhutang nyawa pada ikan
berabad-abad aku minum
berhutang hidup pada laut
berwindu-windu aku berlari

berhutang api pada matahari
tiba saatnya nanti kukembalikan
semua hutangku pada mereka

kukembalikan jasadku pada tanah
sukmaku kembali ke tiada
: zat pemilik segalanya!


Jakarta, 1992.


AYAT-AYAT ALAM

berabad-abad wajah tuhan bertaburan
jadi ayat-ayat alam yang berserak pada batu-batu
tiap perciknya menjelma wajah yang berbeda
berabad-abad wajah tuhan bertaburan
dalam serpihan cinta sekaligus sengketa

berabad-abad pula adam gelisah
mencoba menyatukan wajah tuhan
dalam gambaran seutuhnya. namun
selalu sia-sia ia. sebab, tuhan lebih suka
hadir dalam keelokan yang beraneka

pada keelokan pohon dan keindahan batu
pada keperkasaan ombak dan kediaman gunung
pada wajah suci seorang bayi dan hangat matahari
dan pada wajah manis seorang istri
tuhan hadir dalam senyum abadi

berabad-abad wajah tuhan bertebaran
pada ayat-ayat alam yang selalu
menemukan tafsir sendiri


Jakarta, 1995/2007.

10 Contoh Puisi Beni Setia

Contoh Karya Sastawan Beni Setia - Sosok sastrawan yang akan Sobat baca dan pelajari makna yang terkandung didalamnya dibawahi ini bernama Beni Setia. Ia adalah sastrawan yang lahir di Bandung, 1954. Menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Menengah Pertanian Atas, Soreang, Bandung pada 1974. 

Ia merupakan sastrawan yang aktif menulis cerpen, puisi, serta esai sosial-budaya baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda. Bukunya yang telah terbit, Legiun Asing: Tiga Kumpulan Sajak (1987), Dinamika Gerak (1990), dan Harendong (1996). Kini ia tinggal bersama keluarganya di Caruban, Madiun, Jawa Timur. Beni memilih menulis sebagai profesi tunggalnya.

Pendidikan terakhirnya SPMA, lulus tahun 1974. Puisi-puisinya banyak di muat dalam publikasi nasional seperti, Berita Buana, Sinar Harapan, Pikiran Rakyat, Mangle, dan Puisi Indonesia 83 (Buku II); juga dimuat dalam Antologi Yang Muda (1978), Senandung Bandung (1981), dan Festival Desember (1981), dan Linus Suryadi AG (ed.), serta Tonggak 4 (br, 1987). 



Berikut 10 puisi Beni Setia yang bisa Sobat simak.

MENGAPA HANYA MALAIKAT

satu dua antara belantara (rambut
putih kehilangan hitam), satu dua
kelokan lengang menjelang malam. di ujung
menunggu pedang dengan rajam + rajam

"bila mulut banyak mengunyah, bila lambung
banyak memamah, bila darah hanya berlemak:
apa tak terbaca plakat orang-orang lapar
pada setiap kerut lipat kulit perut?"

megap-megap bagai ikan, merayap bagai ketam
: tangan si miskin terkunyah larut di darah
o, mengapa hanya malaikat yang tahu, senyum
melihat jantung diremas-gemas dendam si lapar

jalan lengang, jalan panjang, jalan bimbang
bulan ramadhan; mengapa hanya malaikat yang
tahu? mengapa
mengapa hanya malaikat


1979/1983/1987


SOREANG, SILSILAH

kenapa pohon-pohon membentuk canopy daun,
tudung bagi batang tegak dan hunjaman akar?

melengkung bagai tenda cafe halaman dengan
menu es krim dan steak sapi, dengan lelampu
temaran dan sepasang mata yang bersipergok
–dan jari-jari berjalin bagai anyaman tas rotan

seperti payung ibu ketika pulang dari pasar,
seperti parasut pasukan komando yang mau
menyusup ke sarang teroris, seperti selendang
di antara sejoli sehati diijabnikahkan penghulu

tapi kenapa pohon-pohon itu merontokkan daun
sebelum batang kerontang dan akar mengering?



RENOKENONGO, MEMO

bila surat itu tak sampai–tak terbaca
karena tersangkut di meja birokrasi

: duka akan berteriak–sampai urat leher
putus. dan bila masih tak juga sampai

: duka menjadi angin–setiap saat
mengusap kening. mengingatkan
akan rumah yang lenyap ditelan lumpur

setiap saat akan mengetuk jendela mimpi
melulurkan dampak bencana pada kantuk



CARUBAN, BANJIR

dari pundak dan punggung: hujan tumpah
gemuruh–meluncur bersama bibir jurang

membendung. mencegat tumpahan semalam
di hulu, dan membuat arus itu menggelegak
: ”kenapa kau hambat perjalanan bergegas ini?”

wilis yang termangu itu, wilis yang menjulang
di selatan ingin bercerita tentang pohon-pohon
ditebang–dengan melumpurkan hamparan tanah

”tak ada yang tersisa” katanya–menyimpan bah
di balik pelangi, menahan arus lalu melontarkan
semuanya dalam hitungan detik. gemuruh menghilir



CATATAN LIBURAN

kabut tipis menghalangi matahari
pagi. ”ini saat yang tepat untuk
tidur melungker,” kata kucing di
keset beranda–dari jauh tercium
wangi kopi dan sisa ruap keringat petani

: pasangan kasmaran akan senantiasa malas
menyibak selimut. tapi lelaki rembang usia
itu memakai sepatu dan mulai menyusuri
setapak. mau menghabiskan dingin pagi dengan
langkah cepat dan debur jantung pekerja pabrik

setelah riol ia memilih belok ke kiri–ke
arah setapak berbatas sawah dan ladang,
lantas pohon beringin di ladang bambu,
turunan dan deru arus sungai selepas hujan
semalam. desah sia-sia meraih bibir tebing

”saat yang tepat untuk kembali,”
kata benalu. bungalow di tebing,
panorama kota di utara dan angin
sia-sia mengajak ke selatan. kini dingin pagi
mengabarkan usia lewat tunas tunggul randu


10/12.2008



PENGENALAN DIRI

kita dijaga oleh syaraf. tulang-tulang
dibungkus kulit yang berlapis daging
tempat ribuan urat mengalirkan darah
–jantung mengisap serta mengempa
seirama dengan paru-paru menapis udara

kita dililit syahwat. dibina instink akar kiara
tumbuh dengan tekad menjulang mengaling
semak-semak dan rumput dari berkah surya
jadi yang senantiasa menyala di tengah semesta
di antara planet dan astroid–reruntuk eksistensi
sesal gerabah pecah dengan jejak embus nafas-Nya



DONGENG SEBELUM SARAPAN

suatu pagi aku semakin mengerti: kenapa
lelaki tua itu sekuat tenaga memampatkan
udara ke dalam selongsong ban becak tuanya

di dingin pagi ketika hujan tidak mau nereda
dan langit cerah, saat surya gagap menandai
hijau daun dan orang-orang beku disaput lapar

itu seperti satu momen–nun dahulu kala:
ketika yang satu meniupkan nafas ikhlas
dan kebebasan pada rongga dada ciptaan-Nya



RINDU TAK TERKUBURKAN

gelisah menyasar lambung, bagai
sedang menghaluskan permukaan
rindu, dengan amplas nomor 12—
miang baja mengkilaskan suasana hati

aku tidak lagi jenak mengenangkanmu
—siksa berulang, ramadan memanjang
tanpa ada lebaran dan takbiran; sedang
mercon bersidentam menyerukan kangen

seperti perempuan hamil, dengan si
janin mati sebelum melahirkan: aku
menanggung cinta selamanya—melampaui
penguburan bawah kanopi bambu rimbun

nun. tapi aku kembali setia menjemput
kembali ke pintu halaman—meski kaki
tidak jejak seperti selama itu. mengambang


2015


KABAR DARI YANG PULANG

udara bau mercon. pekak sisa ledakan
ditandai cuilan kertas alit di halaman

di situ mungkin ada secuil bahak, pada
basah gelendong pecah di daun delima

sekaligus gaung tangis, tersiborehkan di
rumput—percik ranting ditabrak kalong

lantas lengang. setapak dilebati jejalan
rumput liar dan sisa embun. bersulang

: adakah yang mati akan pulang kepada
kekasih yang menunggu 70 tahun ini?

mungkin harus menyusulmu—yang mati
tidak pernah balik mengabarkan kamu


2015


OUT OF GEOLOGY
–nirwan dewanto

di kaibab trail, di antara coconino plateau di titik
7260 kaki permukaan laut dan suspensión bridge
di 2420 kaki, di atas rentangan lesu colorado river
: merenungi lapisan tanda perjalanan waktu di bumi

leluhur hualapai, leluhur havasupai, bahkan hopi
serta navayo–mungkin leluhurku juga–: bagai
elang melayang diusung udara panas, membubung
hingga bayangannya melintas pada dinding jurang,
mengeja-ngeja di lapisan tanah. bergegas di antara
tatapan dan kilat kamera pelancong berbaju katun,
yang abai pada pertanda: setelah 2 abad siapa yang
tetap perkasa pada permukaan bumi ciptaan manitou?

bumi yang carut-marut di antara rocky mountain
dan sierra nevada itu bernama colorado plateau:
bagai si kakek menidurkan grand canyon dengan
sponge, karang, kerang dan kapur. mungkin juga
mantra kebangkitan bagi dengki yang ditidurkan,
jadi granit bungkam yang lena di kedalaman dan
dihimpit pasir, jemu digencet dalam menanti tiba
kode jari waktu. bisakah ia tetap sabar dan tawakal?

di hadapan jam atomik yang abai akan fosil: manusia
hanya abstraksi. eksistensi hanyalah desir pasir-pasir
painted desert dihela angin dan sampai di reservation
–kemashuran itu hanya sisa debu di sela kuku jari kaki


1988/2008

5 Contoh Puisi Agus R. Sarjono

Contoh Puisi Penyair Agus R. Sarjono - Siapakah sastrawan Agus R. Sarjono yang juga dikenal sebagai penyair, cerpenis, dan esais? Agus R. Sarjono merupakan sastrawan yang lahir di Bandung, 27 Juli 1962. Kini, Agus R. Sarjono bersama istri dan dua anaknya tinggal di kawasan Cimanggis, Depok, Jawa Barat.

Pendidikan formalnya diselesaikan di IKIP Bandung (S1) pada studi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia; dan Kajian Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, UI untuk S-2-nya. Semasa mahasiswa ia aktif di Unit Pers Mahasiswa IKIP Bandung sebagai ketua (1987-1989).


Agus R. Sarjono kerap menulis puisi, cerpen, dan esai. Karyanya dimuat berbagai koran, majalah, dan jurnal terkemuka di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Agus pernah diundang membacakan sajaknya di beberapa festival internasional, seperti Istiqlal International Poetry Reading di Jakarta (1995), Festival Seni Ipoh III di negeri Perak, Malaysia (1998); Malam Puisi Indonesia-Belanda di Erasmus Huis (1998); Festival de Winternachten di Den Haag, Belanda (1999; 2003), Malam Indonesia, Paris (1999); Festival Internasional Poetry on the Road, Bremen (2001), Internasionales Literatur festival, Berlin (2001), dan Puisi Internasional Indonesia di Makassar dan Bandung (2002).

Salah satu karyanya pernah dimuat dalam cerpen pilihan Kompas 2003. Karya esainya diterbitkan dalam buku, antara lain Bahasa dan Bonafiditas Hatu (2001) dan Sastra dalam Empat Orba (2001). Karya dramanya, terbit dalam buku Atas Nama Cinta (2004). Puisinya terbit dalam berbagai antologi di Indonesia, bahkan di Manila (Filipina), Seoul (Korea Selatan), serta Bremen dan Berlin (Jerman). Selain itu, karyanya diterjemahkan pula ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Serbia, Arab, Korea, dan China.

Bersama Berthold Damshauser, ia menjadi editor seri puisi Jerman dan menerjemahkan beberapa puisi, antara lain, Zaman Buruk bagi Puisi, Berthold Brecht (2004); Candu dan Ingatan, Paul Celan (2005); Satu dan Segalanya, Johann Wolfgang von Goethe (2007).

Karya-karya puisinya yaitu:

1. Kenduri Air Mata (1994; 1996)
2. A Story from the Land of the Wind (1999, 2001)
3. Suatu Cerita dari Negeri Angin (2001; 2003)
4. Frische Knöckhen aus Banyuwangi (dalam bahasa Jerman, 2002)
5. Diterbangkan Kata-Kata (antologi puisi, 2006)
6. Kepada Urania (terjemahan karya Joseph Brodsky, 1998)
7. Impian Kecemburuan (terjemahan karya Seamus Heaney, 1998)


Berikut 5 karya Puisi Agus R. Sarjono yang bisa Simak:


Sajak Palsu

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian menjadi guru, ilmuwan
atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima
palsu. Mereka saksikan
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.


Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakatpun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam
nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring
dan palsu.


1998



Seperti Pengakuan


Di negeri kami semua berdebu selalu
seperti kenangan
atau sejarah. Pada sebuah pagi atau sore
yang tentram, saat kami mengelilingi meja makan
mungkin saja seseorang tiba-tiba
menyalakan kipas angin
dan debu penuh nama dan sebutan yang mengendap
di sudut lemari, jalusi jendela atau ingatan
tiba-tiba bertebaran kembali memenuhi udara
hingga kita terbatuk
seperti nasib buruk.

Di negeri kami semua seperti kantor pemerintah
penuh kertas dan urusan-urusan yang tertunda.
Pada suatu hari, setelah bosan bergunjing
atau main catur, seorang kerani mungkin saja
salah menuliskan alamat
dan memposkan surat, ke segala jurusan.
Salah satu mungkin memasuki rumahmu
hingga namamu dengan paksa terhapus
dari daftar keluarga
tempat kau sebelumnya hidup
dan tertawa-tawa.

Dan berpuluh tahun kemudian
anak cucumu pun terpesona
memandang fotomu dalam sebuah arsip lama
yang terlupa dibereskan.

Di negeri kami semua berdebu selalu,
menggelitik hidung dan tenggorokan.
Kami harus belajar menghela nafas baik-baik
perlahan dan hati-hati. Sekali saja kami bersin
segala sesuatunya bakal tak tertanggungkan. Semua
di negeri kami berdebu selalu.


1998


Iklan Wisata Sebuah Biro Perjalanan

Jika Anda datang ke Indonesia, jangan lupa
datang ke Aceh. Negeri tua yang tabah,
tajam rencongnya bikin gentar nyali penjajah.
Negeri indah. Hasil bumi dan tambang
serba berlimpah. Di jaman modern,
daerah ini menjadi museum.
Anda bisa berfoto di depan gundukan mayat
atau kaum perempuan yang habis diperkosa.
Jika Anda tak punya peliharaan, bisa Anda pungut
anak yatim sebanyak Anda suka.
Inilah Aceh, daerah yang istimewa. Janganlah
meminta lagu-lagu, baik keras maupun merdu.
Di sini erang luka dan kesakitan
direkam orang buat hiburan.

Tapi Lampung tak kalah hebat. Daerah perkebunan
yang menawan. Daerah baru para transmigran
contoh terbaik hasil pembangunan.
Dengan bangga kami pindahkan
para petani miskin dari kepadatan pulau Jawa
biar kemelaratan tumbuh merata
berkembang indah di mana-mana.
Jika Anda tidak suka mayat dan tulang-tulang Aceh
tulang-tulang daerah ini tak kalah dahsyatnya.
Tentu saja diproduksi perusahaan kegarangan
dan kecerobohan yang sama. Apa boleh buat
kami lupa bagaimana mulanya.
Pendeknya Kami mencium seperti bau
pemberontakan orang-orang nekat
atau semacam tarekat.
Selain bertani, kami pastikan
mereka membawa golok atau kelewang.
Jangan tanya bukti, itu sepenuhnya soal nanti.
Tapi kalau mereka berbuat macam-macam,
bukankah keamanan bakal terancam? Tapi percayalah
mereka tidak kami jatuhkan dengan tombak,
golok atau kelewang. Kami bikin mereka
bergelimpangan dengan mudah dan nyaman
oleh senjata modern, model mutakhir yang diimpor
langsung dari negeri-negeri industri
yang demokratis, maju dan berperadaban.
Jadi tolong jangan salahkan kami punya serdadu.
Yang mereka tembaki memang gerombolan berbahaya.
Bayangkan! sudah Muslim fundamentalis pula.

Anda ingin yang eksotik, kami punya banyak cadangan.
Cobalah bepergian ke Timor Timur. Alamnya mesra
sumber tambang yang kaya.
Sebagian penduduknya merasa
Indonesia hanya sekedar nama yang ditempelkan
begitu saja ke jidat mereka,
seperti merk mobil nasional kami
yang sungguh resmi dibuat di negeri tetangga.
Jika Anda kolektor tulang-belulang
dan berbagai produk kekejaman
di daerah ini semua tak kurang. Anda tinggal pilih
Jangan Anda salahkan kami. Tak perlu pula
menghujat kesana-kemari. Kami sudah membangun
berbagai gedung dan jalan raya
tapi penduduk sini berkeras mau merdeka.
Sekali lagi: jika Anda kolektor sejati
bagaimana bisa koleksi Anda dibilang sempurna
tanpa tengkorak daerah ini?
Persediaan kami lengkap: ada berbagai ukuran
dari berbagai usia. Jika beli banyak
kami tawarkan potongan harga.

Sebenarnya ingin juga kami tunjukkan kerasnya hati kami
untuk maju dan penuh gengsi. Inilah dia Kedung Ombo
waduk raksasa yang jaya. Di sini telah kami bendung
segalanya: air mata, kesakitan dan keputusasaan para petani
yang dengan riang kami usir pergi seperti ternak
berbondong-bondong anak-beranak. Atau Madiun!
Sungai darah yang indah. Hasil percintaan pertama
bangsa kami dengan ideologi kiri. Ada cinta berikutnya
semacam puber ideologis yang kedua.
Jika Anda tak suka barang lama, kami sajikan juga
sumbangan tulang-tulang baru dari Banyuwangi,
Jember dan sekitarnya. Tulang-tulang yang mewah
hasil keajaiban politik, sejumlah dusta, kegilaan
campur dendam dan keputusasaan jelata.
Kami tambahkan bau kemenyan
dan aroma magis negeri tropis.
Semuanya tersaji untuk Anda.

Para petualang sejati, janganlah berkecil hati.
Di Irian Jaya akan Anda dapatkan pengalaman purbawi.
Biru danau Sentani, puncak gunung berselimut salju abadi.
Di belahan ini, tembaga dan emas berlimpah-ruah
Anda bisa lihat orang-orang pribumi
berkeliaran memburu babi
atau menggali ketela dengan badan telanjang
dan kemaluan hanya tertutup koteka.
Komposisi yang indah bukan! Maklumlah
Bangsa kami memang bangsa seniman.
Jika Anda berminat, bisa kami usahakan
tengkorak kepala manusia yang antik dan cantik
hasil perang suku. Tapi harganya sangatlah tinggi
maklum barang asli. Lagipula penduduk sini
tidak memenggalnya setiap hari.
Jika Anda ingin yang lebih murah
pilih saja yang lebih modern.
Memang kurang sempurna
karena ada bekas peluru di pelipisnya.
Tapi sebagai kenang-kenangan
perjalanan Anda ke dunia ketiga, kami jamin
souvenir ini tak bakal mengurangi kebanggaan Anda.

Tuhan mencipta tanah Priangan sambil tersenyum.
Itu kata pameo yang agak berlebihan memang.
Tapi alam dan gadisnya elok bukan buatan.
Maka kunjungilah tanah ini, daerah pegunungan yang asri.
Gairah Anda sebagai kolektor tulang korban kekerasan
tak akan dikecewakan. Ada tulang tukang becak
yang menggantung diri, ada pula tulang santri yang asyik
dengan agamanya sendiri. Anda bahkan bisa berenang
di danau penampungan air mata para petani
yang tanahnya disulap jadi pusat industri
padang golf dan perkebunan para petinggi.
Tuhan boleh menciptakan tanah ini sambil tersenyum
tapi koleksi tulang yang Anda inginkan itu
dibikin dengan penuh geram dan benci.
Jadi kualitasnya tak perlu Anda ragukan lagi.

Jika liburan Anda singkat saja, cukuplah
berkeliling di Jakarta. Gedung pencakar langit
dan pusat-pusat perbelanjaan
semua negara tentulah punya. Tapi pencakar langit
dan pertokoan yang hangus terbakar,
kamilah penghasil utamanya. Anda bahkan bisa berfoto
sekeluarga dengan latar belakang kerusuhan.
Sebagai ibu kota negara, persediaan mayat, tulang
dan tengkorak di sinilah pusatnya. Ada tengkorak
dan tulang-tulang hasil kegeraman ideologis
di Tanjung Priok sana. Ada tulang orang partai
hasil kecantikan taktik politik di sudut situ.
Ada juga tulang hasil kebencian rasialis
di pusat pertokoan sini.
Kami bisa banting harga jika Anda berminat
pada tulang-tulang anak-anak jalanan yang mati tak sengaja
karena lapar, dingin atau terlalu banyak menghirup
bau lem perekat. Tulang jenis ini jauh lebih murah harganya
karena mereka mati maunya sendiri. Tanpa tambahan
anggaran pembelian peluru atau biaya politik.
Dilihat dari segi kemewahan dan keindahan kota
kami hargai ketulusan hati mereka yang bersedia mati
tanpa banyak bicara. Mobil-mobil mewah kami
jadinya bisa berlalu-lalang dengan lebih leluasa.
Jadi untuk tulang jenis ini, kami tak pasang harga mati.

Dengan waktu pakansi yang pendek tak bisa kami tunjukkan
semua keistimewaan-keistimewaan kami
karena negeri kami demikian luasnya
terhampar sepanjang bentangan potret para korban
kerusuhan, pembantaian dan orang hilang.
Jika Anda dari negeri maju
di sini bakal Anda dapatkan pengalaman baru.
Anda dijamin tak akan merasa bosan
karena bisa bertualang ke berbagai pedalaman.
Sengaja kami batasi jumlah kota-kota besar
sebanyak jumlah konglomerat, hingga tak sukar
kita mengingat. Selebihnya dusun dan hamparan gelap,
seperti hamparan kaum melarat.

Inilah negeri kami. Sumber wisata bahari
yang tak bakal habis dikelilingi dalam seribukali cuti.
Dengan hanya sedikit uang, semua bisa Anda nikmati.
Percayalah ini perjalanan istimewa
yang tidak semua orang bisa mengalaminya!
Bahkan, hanya satu dua saja warga negeri kami
yang pernah menyaksikan sendiri kedasyatan tanah airnya
selengkap yang tertera di dalam peta.


1998


Chairil

Pada kereta senja
Chairil menebal jendela
cinta dan bahagia
makin jauh saja
mendengking Chairil
mendengking kereta
sayatan terus ke dada.

Pada senja di pelabuhan kecil
kau datang padaku: Chairil
cinta insani di tangan kiri,
Amir Hamzah cinta Ilahi
di tangan kanan
dengan pandang memastikan
: untukku. Aku membisu
dicakar gairah dan cemas
bertukar tangkap dengan lepas.
Aku hilang bentuk
remuk. Seharian itu
kita tak bersapaan. Oh puisi
yang enggan memberi
mampus kau
dikoyak-koyak sepi.

Kekasih, dengan apakah
kita perbandingkan pertemuan kita
: dengan Amir sepoi sepi
atau Chairil menderai sampai jauh?
Kini habis kikis segala cintaku
hilang terbang, kembali sangsai
seperti dahulu di nyanyi sunyi
di buah rindu.

Amirlah kandil kemerlap
pelita Chairil di malam gelap
ketika dada rasa hampa
dan jam dinding yang berdetak.

Aku sendiri, menyusur kata-kata
masih pengap harap. Apatah kekal
kekasihku, airmata yang kenduri
di riuh nadi di gamang jiwa
sedang cerlang matamu
tinggal kerlip puisi
di malam sunyi.

Chairil dan Amir
di pintumu puisi negeriku mengetuk.
Mereka tak bisa berpaling.



Percakapan Angin


Jangan bersurat-suratan dengan sunyi! Hardik
pamflet sambil berkacak pinggang. Tidakkah
kau dengar riuh sejarah, pesawat tempur dan ledakan
bom yang membikin nasi bungkus dan harapan
jadi asing .

Jangan bercintaan dengan rembulan! Hardik
pamflet sambil menuding kota-kota dalam peta
amis darah dan gelepar lapar.

Jangan... Namun tak sempat lagi
pamflet itu mencegah sebait puisi memekikkan
revolusi. Ia pun bersiap menghitung
tetes air matanya sendiri.


(1991)

10 Contoh Puisi Acep Syahril

Contoh Puisi Sastrawan Acep Syahril -  Bagi sobat pecinta karya sastra Indonesia pastilah sudah mengetahui penyair yang bernama Acep Syahril ini. Beliau merupakan sosok penyair yang banyak menyertakan muatan kritik sosial pada karya-karyanya. Acep Syahril lahir Cilimus, Kuningan pada 25 November 1963, menjajakan sajak sejak 1982 diberbagai tempat di Indonesia. Sajak-sajaknya tergabung disejumlah buku kumpulan-kumpulan puisi penyair Indonesia lainnya. Berikut daftar karya sastranya:

Kumpulan Puisi Tunggal

  • Ketika Indonesia Berlari (Diterbitkan Bohemian Jambi, 1995)
  • Negri Yatim (Diterbitkan iph, 2009)
Kumpulan Puisi Bersama
  • Riak-Riak Batanghari (Bohemian, 1988)
  • Serambi 1, 2, 3 (Bohemian, 1991-1994)
  • Dua Arus (1992, Bohemian)
  • Orbit Poros (Penyair Sumbagsel, 1992)
  • Perjalanan 3 Penyair (Bohemian, 1993)
  • Jejak "Penyair Se Sumatera" (Taman Budaya Jambi, 1993)
  • Rendezvous (Penyair Se Sumbagsel, 1993)
  • Percik Pesona 2 (Taman Budaya Jambi, 1994)
  • Muaro "Antologi Puisi Penyair Jambi" (Taman Budaya Jambi, 1995)
  • Kelopak (Taman Budaya Jambi, 1997)
  • Zamrud khatulistiwa: antologi puisi Nusantara - Taman Budaya Yogyakarta, 1997)
  • Dari Bumi Lada (Dewan Kesenian Lampung, 1996)
  • Mimbar penyair abad 21 (Dewan Kesenian Jakarta - 1996)
  • Bumi Minyak (Dewan Kesenian Indramayu, 2003)
  • Tanah Pilih (Dewan Kesenian Jambi, 2008)
  • Pedas Lada Pasir Kuarsa (Disbupar Bangka–Belitung, 2009)
  • Rumpun Kita (Antologi Puisi Khas Sampena, Pertemuan Penyair Nusantara III, Kualalumpur 2009)
  • Akulah Musi (Antologi Pertemuan Penyair Nusantara V, Palembang 2011)
  • Antologi Puisi Indonesia EQUATOR, Dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Jerman. Memuat 216 puisi bersama 108 penyair dari seluruh Indonesia. Penerbit Yayasan Cempaka Kencana Indonesia, 2011
  • Senja Di Batas Kata (Antologi Puisi Penyair Nusantara Raya)Penerbit BPSMJ, 2011
  • Antologi Puisi SINAR SIDDIQ (Sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara 2012, Sabah)
  • Requiem bagi ROCKER, Seri Dokumentasi Sastra Antologi Puisi Pendhapa 14 (128 Penyair Indonesia - Taman Budaya Jawa Tengah 2012)
  • Sauk Seloko, Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI, Desember 2012 (ISBN: 978-979-1850-18-6)
  • Romantisme Negeri Minyak, Kumpulan Puisi Penyair Indramayu (Penerbit Formasi & Dinamika Yogyakarta, April 2013)
  • Puisi Menolak Korupsi, 85 Penyair Indonesia.Penerbit Forum Sastra Surakarta. No. ISBN: 978-602-183-026-0 (2013)
  • Antologi Puisi Penyair Asean HITAM DAN PUTIH, (Sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara ke 2 2013, Sabah)
  • Antologi Puisi MH 370, Memuat 64 Penyair Malaysia dan Indomesia diterbitkan Badan Bahasa dan Sastra Sabah (BAHASA) Maret 2014
  • Antologi Menolak Terorisme, PENGANTIN LANGIT, bersama 50 Penyair Indonesia. diterbitkan: Kerjasama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dan Komunitas Sastra Indonesia, Agustus 2014
  • Sekumpulan Puisi Penyair Indonesia "Memor Untuk Presiden", diterbitkan Forum Sastra Surakarta, Oktober 2014
  • Dll
Umum
  • Keranjang Air Mata (Kumpulan Surat-Surat TKW Indramayu, Penerbit Pustaka Rihlah, Yogyakarta 2009)
  • TUMBUH (Apresiasi Puisi Karya Pelajar, Penerbit Jentera & Pustaka Dinamika Yogyakarta, 2011)
  • Esai-Esai Budaya Dari Kota Mangga (Dewan Kesenian Indramayu, Maret 2012)

Dibawah ini Admin juga menyertakan 10 contoh puisi dari penyair Acep Syahril.


SURAT CINTA DARI SANGKAKALA


ya allah
telah kami terima surat cintamu
tertanggal hari ini yang dikirim peniup
seruling sejati diantara kealfaan dan
keasyik masyukkan kami surat cinta yang
engkau tulis dengan tinta biru sebagai
tanda kasih dan maha sayangmu surat cinta
yang begitu panjang menegangkan yang engkau
tulis tak sampai dalam satu tarikan nafas
membuat kami terus menangis terisak tersedu
membaca gugusan kata-kata hancur berserak dengan
tubuh dan nyawa terlunta-lunta

surat cinta yang bercerita tentang tanah darat
laut udara sebagai ungkapan rindumu yang membuat
kami malu kami tau inilah surat cintamu yang
telah engkau janjikan itu dan telah kami terima
saat mata hati dan perasaan kami menjauh fana

ya allah
inikah surat cintamu dengan segala
keputusan yang harus kami terima selain bencana
korupsi yang nyaris membuat kami hilang akal
dan putus asa surat cinta yang kertasnya
lembab di tangan kesedihan tak berkira dengan
torehan luka maha dalam
surat cinta yang bercerita tentang hujan dan panas
surat cinta yang bercerita tentang air berwajah
beringas dengan lidah api dari laut lepas surat
cinta yang bercerita tentang angkasa dan
burung-burung meranggas
surat cinta yang bercerita tentang pohon-pohon
dan akar yang dikelupas
surat cinta yang bercerita tentang tanah pasir
dan lendir panas
surat cinta yang bercerita tentang tanah
rumah dan nyawa yang hilang nafas

ya allah
inikah surat cintamu yang penuh cemburu itu
yang dikirim peniup seruling sejatimu
disaat kami lupa mengingat dan merayumu
surat cinta yang memang sepatutnya kami terima
sebagai bukti bahwa kau benar-benar maha
mencintai sementara kami berpaling dari kemaha
asih dan sayangmu

ya allah
maafkanlah kami yang telah berselingkuh dari
kemaha setiaanmu dan berpaling ke cinta yang
tak kau ridhoi dengan menabur fitnah hasut dan
saling ingin menguasai tanah sekerabat sedarah
seurat tanah yang kau ciptabentang tegakkan urat
yang kau sebarsuburkan dan darah yang kau
alirhidupkan telah kami
rusak dengan saling mencacah menumbuk
penuh takabur dengan kekuatan
kerakusan dan keserakahan
tapi kini apa yang kami cintai itu telah
engkau ratakan dengan tanah harta tahta
dan dunia berubah runta darah daging dan tulang
membusuk dimana-mana

sekarang kami tak tau di mana ayah di mana
ibu di mana anak di mana adik di mana kakak
di mana ipar di mana keponakan di mana
saudara famili kerabat dan handai tauland
di mana di mana di mana yatim kan kami titipkan

ya allah
hari ini kami baru sadar akan jalan pulang
setelah membaca surat cintamu yang panjang
menegangkan surat cinta yang mengingatkan kami
untuk bertandang menemu cahya menemu gulita
menemu alfa menemu cinta
surat cinta yang mengajarkan kami untuk
pulang ke bilik ke latifa ke bilik ke sadik
ke bilik baqa

ya allah
ampunilah kami hamba-hambamu yang tak punya
malu ini ampunilah ampunilah ampunilah kami
ya allah

Indramayu

RUGI

raidah pergi ke sungai ke darat
menjemur pakaian ke keramaian ke rumah
belum juga pulang
waska pergi ke huma ke surau membeli iman
kekeramaian dan ke rumah belum juga pulang
bujang pergi ke sekolah ke kampus membunuh
kealpaan dan ke rumah belum juga pulang
raidah waska dan bujang pergi tapi belum
juga pulang-pulang

sorenya raidah pergi bertandang membawa-bawa
cermin yang ada wajah tetangganya dan membawa
badannya ke rumah tapi belum juga pulang
sorenya waska pergi tahlil mengirim doa pada
ruh orang lain dengan bayang-bayang kematian
dia bawa kakinya ke rumah tapi
belum juga pulang
sorenya bujang pergi kencan dengan pacarnya
bercerita rahasia cinta dan membawa harapan
masa depan ke rumah tapi belum juga pulang
raidah waska dan bujang pergi tapi belum
juga pulang-pulang

malamnya raidah pergi tidur melepas
fikirannya bertualang entah kemana
belum juga pulang
malamnya waska pergi tidur melepas
banyak beban
dan kadang memetik harapan dengan
tangan hampa belum juga pulang
malamnya bujang pergi tidur mengistirahatkan
kerja otak kecilnya memberi ciuman pada
kekasihnya belum juga pulang
raidah waska dan bujang pergi tapi belum
juga pulang-pulang

paginya raidah waska dan bujang mati
mereka benar-benar lupa jalan pulang

Indramayu

SAJAK BEBAS

sajak ini sejak lama telah kehilangan nilai
puitika estetika dan sublimatika sebab dengan
nilai-nilai keindahan dan kehalus-lembutan
tidaklah menjadikan seseorang seperti penguasa
penindas dan koruptor akan tersentuh hatinya
apalagi merasa malu dan introspeksi sebaliknya
akan membuat mereka ambisi untuk menindas
menghidup-suburkan pencuri jadi inilah sajak
terang benderang seperti bendera dikibas angin
di udara terbuka merdeka sajak tanpa tawar
menawar bebas dan sebebas-bebasnya memilih kata
tidak seperti kalian yang memilih cara
bergaya demi mengelabui diri sendiri atau
orang lain untuk menutupi kebodohan kebobrokan
nilai pribadi yang telah menghisap-sedot-habisi
darah rakyat sendiri
inilah sajak bebas tanpa alamat surat pedas untuk
para penghianat yang tidak akan pernah hilang tujuan

Yogyakarta, Indramayu

SUKSESI 

jangan ngomong kalau tadi kau pilih partai
lain demi menghindari calon wakil rakyat atau
pemimpin yang tak berpihak pada rakyat jangan takut
dimusuhi diancam apalagi dipukuli karena kau telah
menerima kaos sabun mandi beras gula dan kopi
jangan cemas sebab memilih adalah hak kamu untuk
menentukan yang terbaik dari yang terburuk

yakinlah roda becak roda angkot dan roda glodok
mulungmu lebih berharga dari kursi yang mereka
perebutkan hari ini yakinlah kursi reot di rumahmu
atau kursi kering di kantormu lebih berharga dari
kursi yang mereka perebutkan hari ini jadi jangan
lagi kompromi dengan mereka yang pura-pura bijaksana
kalau akhirnya akan mencabik-cabik dan membunuh
aspirasi kita

sekarang buka mata buka telinga membaca yang bijak
pilih yang berakhlaqul qarimah dan ingat kalau
kau memilih warna jangan lupa keberanian kalau
kau memilih angka jangan lupa kepribadian sebab
antara warna dan angka tersembunyi watak negarawan
dan bajingan juga pahamilah bahwa kehancuran
republik ini karena kemarin kita telah salah
memilih mereka yang diyakini mampu memimpin
diam-diam telah bersekutu dengan penghianat dan jin

antara koruptor maling penipu dan pembunuh kerjasama
dengan para penegak hukum antara perampok pemerkosa
dan pecundang kongkalingkong dengan wakil-wakil rakyat
akhirnya kita jadi keledai tersaruk-saruk di bawah
kekuasaan yang tergadai sekali lagi pahamilah
bahwa kekayaan kesederhanaan kemiskinan dan
ketertindasan sementara menjadi nasib kita
sedangkan partai jabatan dan kekuasaan adalah milik
mereka jadi kita harus mengerti siapa jembatan yang
merakyat dan siapa jembatan yang melaknat dan kita
juga harus mampu membaca mana simbol rakyat dan
mana simbol laknat sebab perjalanan indonesia lalu
adalah guru penguasa yang tidak punya malu

Pringkasap, Indramayu

NEGERI YATIM
:wiji thukul wijaya

di rumahmu yang sumpek itu tanpa basa basi
kita saling mentertawakan diri sendiri
kau tertawa melihat telapak kakiku yang lebar
aku juga tertawa melihat mata dan gigimu
yang maju nanar leak karib yang mempertemukan
kita cuma tertawa lalu kau perkenalkan sipon
istrimu padaku aku serius menyambut
uluran tangannya tanpa tawa karena aku tau
kau terus mengawasi hatiku yang menggoda
setelah itu kita mulai cerita dan tak banyak
bicara soal sastra tapi sedikit menyinggung
tentang negara kau bilang hidup di indonesia
seperti bukan hidup di negara kita lalu
ku bilang kalau saat ini kita hidup
di negeri yatim yang sudah lama di tinggal
mati bapak sedang ibu pergi menjadi angin
kau cuma mengangguk-angguk tapi dari dialekmu
yang gagap dan cadel itu kau seolah memeram
amarah kau bilang ibu kita yang angin itu
telah di kawin paksa lelaki kejam dan tiran
dia sering kali mengirim tentara polisi
dan mata-matanya untuk menghabisimu
serta teman-teman kita
mereka tidak lebih jantan dariku katamu
mereka seperti sudah kehabisan akal bahkan
tak punya waktu berpikir untuk mengatasi
persoalan bangsanya selain menggunakan fisik
kekuasaan dan senjata menculik atau kalau
bisa membantainya mereka sungguh tak punya malu
sayang ibu kita cuma angin katamu
sejenak kita terdiam tapi aku membaca siratan
kecewa di gelisahmu tentang pilih kasih
orang tua kita yang lebih berpihak pada
penghianat maling dan pecundang itu
karena mereka adalah asset hidup yang bisa
dijadikan pemuas nafsu para penegak hukum
dan aku juga bercerita banyak soal
saudara-saudara kita yang dikejar-kejar
polisi karena mencuri ayam atau jemuran
tetangganya lalu kaki atau paha mereka
dibolongi timah panas kalau tidak digebugi
sampai sekarat dengan interogasi gaya kompeni

di luar matahari tegak berdiri di dalam kau
tengkurap di atas amben bambu menghadap
kali aku duduk di sofa bodol kempes yang
kondisinya seperti saudara-saudara kita
yang kurang gizi sembari cerita kalau kemarin
aku baru saja berkelahi dengan polsuska
distasiun balapan solo seusai baca puisi di
gerbong eksekutif karena mereka kira aku sedang
demonstrasi atau sedang menghasut orang
untuk menentang kejahatan penguasa di negeri ini
setelah sempat pukul-pukulan aku lari karena
aku tau ibu kita cuma angin sedangkan mereka
tak punya hati lalu kau tertawa dengan mata
terbenam dan mengingatkan agar aku jangan lagi
ngamen puisi di depan polisi

tak terasa di luar matahari makin miring
ke kiri sementara kita masih ingin menuntaskan rindu
untuk bicara apa saja tentang negara dan
berencana mencari kuburan bapak yang entah dimana
serta menunggu belaian ibu yang hanya
terasa kelembutannya

ah kita benar-benar yatim katamu
dan sebelum matahari benar-benar pergi aku
pamit dengan harapan kita bisa bertemu dan saling
mentertawakan diri lagi membacakan puisi
dengan leluasa di hadapan ibu
tapi kuperhatikan kau tercenung lama seperti ada
sisa kecewa yang belum juga bisa kau terima
atas siksa yang pernah kau rasa dari kepal tinju
para penindas dan hantaman popor senjata
kaki tangan penguasa lalu dengan arif kujagakan
kediamanmu serta meyakinkan kalau suatu saat
ibu kita yang angin itu akan memuntahkan
kembali segala bentuk kecurigaan dan tuduhan
serta pidato pediti politik atau ceramah cerimih
mereka lalu kata-katanya berubah jadi hewan buas
menakutkan yang akan mencabik-cabik
mulut mereka dan senantiasa mengusik setiap
upacara pagi apel bendera

Solo, Tegal, Indramayu

SETELAH PERJUMPAAN INI
:bersama thukul dan leak

setelah perjumpaan ini aku tak tau seberapa
lama lagi kau bisa mencium aroma matahari selain
wangi popor senjata atau amis sepatu serdadu wagu
yang tak mengerti cara bersenda
setelah pertemuan ini aku tak tau seberapa lama
lagi kau bisa mencium aroma bintang-bintang
selain amis keringat pecundang atau bau busuk
nafas mata-mata yang mengendap-endap di sekitar
persembunyian kita kawan setelah perjumpaan ini
aku tak tau seberapa lama lagi kau bisa mencium
aroma bulan selain pantul cahaya 500 watt
di ruang proses cuci otak berukuran 2 x 2 meter
dengan kata-kata jorok yang berlompatan dari
mulut busuk introgator kelas teri dan memotong-
motong 70 juta sel syaraf di kepalamu setelah
perjumpaan ini aku tak tau seberapa lama lagi
kau bisa menyentuh anak dan membenamkan diri
di tubuh isrimu selain bau kedzaliman potongan
urat nadi suntik mati amunisi yang menembus
tengkorak kepalamu atau krematorium nyanyian babi

setelah perjumpaan ini aku tak tau
bagaimana nasibmu kawan

Solo – Jakarta, Indramayu


GURU YANG TAK PUNYA MALU

bertahun-tahun mereka belajar dari kalian guru yang selalu membuat
banyak kesalahan dan kelalaian guru yang kemudian membuat
murid-muridnya jadi malu pada dirinya sendiri kini kalian
semakin tak mereka mengerti padahal mereka tau kalian juga
sama seperti mereka hanya debu yang menempel di lidah waktu

lalu diam-diam mereka belajar dari kelalaian kalian tanpa semadi atau
menyepi dari keramaian tapi menyelam dalam lautan kalian berenang
berenung di dalamnya tanpa mencari tepian sembari bertanya pada
rasa malu itu

bertahun-tahun mereka belajar dari gurunya yang selalu membuat banyak
kesalahan dan kelalaian yang berlangsung seperti pemandangan pagi hari
di kebun teh disitu mereka juga belajar dari keramahannya yang ternyata
menyimpan banyak belahan dunia

ow terima kasih daun teh katanya kalian telah mengajarkan kami
untuk tidak melakukan kalalaian seperti yang diajarkan guru-guru kami
sebab ketika orang-orang di luar fikiran kami sibuk membungkus dunia
guru-guru kami malah sibuk membungkus diri sendiri


(2011)

GURUNYA DIGERGAJI WAKTU

gurunya yang satu ini adalah pencari buku bekas dia hidup di setiap
pulau yang mengajarkannya cara merawat kasur dan kamar tidur serta membuatkan pekerjaan dan menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya meski sebenarnya dia lebih tertarik pada barang-barang bekas dingin malam dan angin terminal guru yang tak pernah lelah mengikuti jalan waktu dan nasibnya sungguh darinya dia banyak belajar dari rambutnya yang putus asa dan dari kakinya yang pernah menyimpan panjang harapan dia belajar untuk tidak menjadi sesat padanya dia belajar untuk tidak menjadi lupa padanya lalu diam-diam dia bersyukur walau menyayangkan sikap gurunya yang tak pernah mau belajar dari kebodohan yang bertahun-tahun terus digergaji waktu kini gurunya itu semakin hari semakin bertambah banyak dan semakin membuatnya bingung
dia tak habis fikir mengapa di negara ini guru dan murid sama banyaknya

(2011)

GURU YANG SELALU MENYIMPAN PALU


semua orang tau guru kami bukan seorang tukang kayu meski setiap
saat hidupnya tak lepas dari palu kadang berkali-kali dia pukulkan palunya
ke meja dengan wajah hitam selain sering kami pergoki mengenakan lipstik
dan deodorant dengan penampilan menawan dihadapan para pesakitan
sehingga tak jarang guru lalai sampai lupa memukul tanganya sendiri
ketika beliau terbuai oleh imajinasinya dan melayang-layang ke suatu
tempat atau tertidur lelap di lajunya veyron fiat dan di mercedes benz
dengan rumah mewah yang sebentar lagi dia tempati bersama anak
istrinya semua orang tau guru kami bukan seorang tukang kayu tapi
di otak sebelah kirinya ada sebuah kantung yang dia siapkan untuk
menyimpan palu serta memastikan kalau besok masih selalu ada jadwal
baginya untuk membebaskan para maling negara yang bisa mengakses
hidupnya atau membunuh waktu si miskin dengan menjatuhkan palu
di mejanya demi memperpanjang kepercayaan negara pada dirinya
semua orang tau guru kami bukan seorang tukang kayu oleh karena itu
beliau tak bisa membedakan mana kayu mana besi dan mana batu
demi allah kami bersumpah tak mau sesat dan bejat seperti guru

(2011)

GURU YANG TAK MENGERTI BUMBU DAPUR

guru kami ada karena dibutuhkan negara karena negara menginginkan
rasa aman lalu guru kami belajar memahami dan menyelesaikan tiap
persoalan tapi kadang mereka lupa bumbu dapur seperti kemiri buah pala
bunga lawang laos dan kapol mereka tau kembang gula tapi tak faham logika
padahal kami lebih menginginkan daun mengkudu karena sejak dulu
kami cuma minta dikirim keadilan tapi selalu saja mereka paketkan kecemasan
akhirnya kami marah pada negara tapi anehnya negara malah mengirim kami
ke penjara sungguh sebenarnya kami bingung karena guru kami kenyataannya
tak pernah mengajarkan kami untuk memiliki rasa aman dan sejak itu
kami tak mau celaka seperti guru

(Indramayu, 2011)